Senin, 01 November 2010

Kalau Kaum Intelektual Geram

Banjir kembali menggenangi Jakarta tanggal 25 Oktober 2010.

Akibatnya sungguh sangat membuat warga Jakarta gerah. Bukan banjirnya mungkin yang membuat sebagian besar warga gerah, tapi kemacetan yang ditimbulkan akibat banjir itulah yang membuat gerah warga.

Banyak orang yang baru tiba di rumah lewat tengah malam. Bahkan ada sahabat, seorang wanita, tiba di rumah hingga hampir pukul tiga dini hari.

Gerah dan geram yang dialami kaum intelektual Jakarta diterjemahkan dalam berbagai bentuk sindiran. Bersamaan dengan dimulainya "jam kantor" di pagi hari, di jaringan nirkabel atau dunia maya mulai ramai bertebaran karikatur hasil rekayasa foto-foto Gubernur Jakarta tentang banjir yang melanda kotanya itu.


Bahkan ucapan dan tanggapan gubernur tentang banjir yang melanda ibu kota ini pun segera mendapatkan reaksi dari warga, yang lagi-lagi dilontarkan melalui berbagai cara.

Mungkin yang membuat geram adalah sang Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, saat berkampanye dahulu mengumandangkan slogan "Serahkan pada Ahlinya". Sudah diserahkan lah kok masih banjir-banjir juga?

Jakarta oh nasibmu Jakarta.

Urusan banjir memang sangat kompleks, karena bibit-bibit penyebab banjir telah ditanam sejak lama. Dan kini telah tumbuh membesar di mana-mana yang pada gilirannya mengakibatkan banjir, seperti yang kini kerap melanda di ibu kota mau pun tempat-tempat lain di berbagai penjuru negeri dan dunia.

Untuk memulihkan pun akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak akan semudah membalik telapak tangan. Bibit-bibit kesadaran bahwa alam ini milik bersama yang harus dipelihara bersama harus mulai kita tanamkan kembali, sambil tetap diupayakan penanggulangan banjir dan antisipasinya ke depan.

Kita pun perlu belajar bagaimana menyelaraskan ucapan dan tindakan, bermula dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah di tempat sampah dan bukan di jalan, di got (saluran air), atau pun di tempat-tempat lain yang memang bukan tempat sampah. Sediakan tempat sampah di kendaraan Anda untuk tempat membuang sampah.

Menaati aturan membangun dan ketentuan tentang luas daerah terbangun dan ruang terbuka hijau pun dapat membantu menyelamatkan generasi mendatang.

Ingat! Bumi ini cuma satu, karena itu harus kita jaga dan pelihara bersama.

01 Oktober 2010 | samidirijono | arsitek |

Senin, 27 September 2010

Wisata Budaya Tugu


Kampung Tugu yang berada di kawasan Cilincing, Jakarta Utara berawal dari pertengahan abad ke-17 sebagai tempat komunitas Portugis di Nusantara yang kalah perang melawan Belanda di tahun 1641.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai keberadaan kampung tugu ini, ia hanya diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Meski ada berbagai versi cerita tentang awal keberadaan masyarakat Tugu, namun Arthur Michiels, generasi kesepuluh keturunan Portugis yang tinggal di sana memercayai bahwa masyarakat Tugu ini berawal di tahun 1661. Di tahun itu 23 kepala keluarga yang berjumlah 150-an jiwa membuka hutan di sebelah timur Sunda Kelapa sebagai tempat bersembunyi dari pasukan Belanda.


Gereja dan Kuburan

Tempat persembunyian ini kemudian ditemukan pendeta Melchior Leydecker pada tahun 1675. Lydecker kemudian menyebarkan agama Protestan di sana. Komunitas Portugis yang semula beragama Katolik pun pada akhirnya menjadi pemeluk Protestan. Pada sekitar tahun 1678 didirikanlah gereja pertama yang juga berfungsi sebagai sekolah.

Gereja itu terbakar akibat kerusuhan dan pada tahun 1744 dibangunlah gereja baru. Selesai pembangunan, pada tahun 1748 gereja ditasbihkan pendeta J.M. Mohr dan digunakan sampai sekarang.


Pada perkembangan selanjutnya, di sisi barat laut bangunan gereja dijadikan tempat pemakaman. Kuburan itu masih digunakan hingga kini, namun sayang kondisi makam saat ini tidak tertata dengan baik dan kurang terawat. Tanaman liar banyak tumbuh di sana-sini, makam pun sudah banyak yang rusak, dan batu nisan sudah banyak pula yang hilang.

Lokasi area gereja yang diapit oleh jalan Tugu Raya dan kali Cakung dapat menjadi tempat wisata yang menarik bila mau dipelihara dan ditata dengan baik. Apalagi mengingat tempat ini berdasarkan Perda DKI Jakarta No. 9 tahun 1999 telah dimasukkan sebagai Benda Cagar Budaya.


Komunitas dan Keroncong Tugu

Orang Portugis di masa itu bukan hanya senang mendengarkan musik, tapi juga pandai memainkan alat musik. Mereka senang berkumpul untuk bermain musik dan bernyanyi bersama.

Sayangnya di awal masa persembunyian dulu hanya beberapa alat musik saja yang sempat terbawa. Sebagian dari mereka terpaksa membuat alat musiknya sendiri, untuk kemudian berkumpul dan bermusik bersama. Selain untuk pemenuhan kebutuhan rohani mereka, bermusik juga berfungsi untuk hiburan dan bersosialisasi. Musik yang mereka mainkan ini kemudian berkembang dan kita kenal sekarang sebagai musik Keroncong Tugu.


Keroncong Tugu terus dimainkan secara turun-temurun oleh komunitas ini sampai ke generasi Arthur Michiels dan Andre J. Michiels, kakak Arthur yang menjadi ketua komunitas Tugu saat ini. Bahkan anak-anak mereka yang merupakan generasi kesebelas pun sudah pandai memainkan kesenian ini.

“Saya dulu ditertawakan oleh teman-teman, nama Arthur kok main keroncong” kata Arthur. Namun ia yang dahulu kesal karena dipaksa bapaknya bermain keroncong, akhirnya bersyukur sebab dengan bermain keroncong kini ia bisa keliling dunia untuk memenuhi panggilan “ngamen” di berbagai negara.

Arthur dan Andre pun bangga karena Keroncong Tugu diakui sebagai kesenian asli betawi. Rasanya pengakuan itu pun tidak salah, mengingat berdasarkan keputusan pemerintah kolonial Belanda No. 20 tertanggal 1 Januari 1840, komunitas keturunan Portugis dimasukkan dalam komunitas bumiputra (Betawi).

Suku, budaya, atau agama boleh beda tapi kita telah bersepakat, bahwa berbangsa satu bangsa Indonesia


24 September 2010 | samidirijono | arsitek |

[Tulisan ini dibuat untuk tugas reportase di workshop jurnalistik Penulisan Artikel Wisata dan Budaya bagi “Kader” (Stakeholder) Jaringan Kota Pusaka yang diselenggarakan oleh Jaringan Kota Pusaka Indonesia.]

Senin, 06 September 2010

Rencana Gedung Baru DPR dan UU Arsitek

Beberapa hari belakangan ini ramai lagi perbincangan di pelbagai media tentang gedung baru untuk anggota DPR berkantor. Anggota DPR yang banyak bolos itu sedang mengupayakan untuk memiliki kantor baru, yang lebih luas dari kantor yang sekarang digunakan.

Tidak salah memang bila anggota dewan ingin mendapatkan gedung baru dengan ruang yang lebih luas. Bahwa DPR lebih mementingkan pembuatan gedung baru dibanding dengan pembuatan landasan hukum bagi pelaku di bidang arsitektur--dalam hal ini yang dimaksud adalah UU Arsitek--memang menjadi ironi, mengingat mereka berkata, bahwa pembangunan gedung itu adalah melanjutkan kebijakan dari DPR periode yang lalu.

Padahal UU Arsitek yang bahkan sekarang menghilang dari daftar program legislasi nasional (prolegnas) pun sebetulnya adalah peninggalan DPR yang lalu. Dengan kata lain UU Arsitek yang telah mulai dibahas oleh DPR periode yang lalu, baik melalui pembuatan naskah akademis, rapat dengar pendapat umum, hingga dimasukkan dalam daftar agenda prolegnas sudah melalui jalan yang cukup panjang, bahkan jauh lebih panjang perjalanannya dari rencana pembangunan gedung baru yang TOR-nya baru dibuat tahun 2008 (Jurnal Parlementer, 31 Agustus 2010).

Apa tidak seharusnya DPR menyelesaikan terlebih dahulu landasan hukum bagi pelaku arsitektur--dalam hal ini yang dimaksud adalah arsitek, yang setelah itu barulah DPR membangun gedung barunya dengan berlandaskan aturan hukum yang telah dibuat? Bukankan membuat undang-undang itu adalah tugas dan kewajiban dari DPR? Dan bukankan kewajiban itu yang seharusnya lebih diutamakan daripada hak mendapatkan gedung baru untuk berkantor berbiaya 1,6 triliun yang cukup fantastis itu?


Apa perlunya UU Arsitek?


Arsitek dalam bekerja sekurang-kurangnya mempunyai tiga tanggung jawab. Pertama tanggung jawab terhadap profesinya (hasil karyanya), kedua tanggung jawab terhadap pengguna jasanya, dan ketiga tanggung jawab terhadap masyarakat umum.

Han Awal, seorang arsitek senior senantiasa mengingatkan bahwa arsitek dalam berprofesi selalu mempunyai dua klien. Klien arsitek yang pertama adalah pengguna jasa, yakni orang yang menggunakan jasa dan memberikan imbalan jasa, sedangkan klien kedua adalah masyarakat, yang meski pun bukan pengguna jasa tapi dia adalah klien yang juga harus dilindungi dan dijaga agar tidak dirugikan atas keinginan berlebihan pengguna jasa di dalam rancangan yang dibuat arsitek.

Jadi arsitek dalam setiap rancangannya selain terhadap profesi dan pengguna jasa, juga berkewajiban melindungi hak-hak masyarakat umum. Masyarakat umum bisa berarti pengguna akhir (end user) bangunan hasil rancangannya, atau pun masyarakat di lingkungan sekitar.

Karena itulah Undang-Undang (UU) Arsitek diperlukan, agar bukan hanya dapat melindungi sang arsitek tapi secara adil juga melindungi pengguna jasa dan masyarakat kita.

Dengan telah ditandatanganinya kesepakatan tentang keikutsertaan Indonesia dalam WTO, AFTA, akan berdampak dengan masuknya badan-badan usaha asing untuk bersaing tanpa aturan bila kita tidak punya landasan hukum sebagai rambu-rambu untuk melindungi tanah air kita. Dalam hal banyak bangunan saat ini yang dibuat oleh arsitek asing yang tidak mengenal iklim, adat, dan budaya kita, mengakibatkan bangunan yang dibuat ternyata berdampak buruk bagi lingkungan. Beberapa arsitek asing memang tidak seperti itu tapi bukan tidak mungkin bila pintu telah dibuka siapa pun bisa berbuat apa pun karena tidak ada landasan hukum yang mengatur dan melindungi masyarakat kita.

Jiwa nasionalisme yang menipis menjadikan luar negeri "minded" banyak merasuki sebagian masyarakat kita sehingga mereka merasa lebih "gaya" bila menggunakan arsitek asing, tapi kadang kala tanpa disadarinya ternyata yang mengerjakan proyek itu adalah arsitek-arsitek kita juga yang bekerja di perusahaan asing itu, dengan gaji yang jauh dari standar. Ironis ya?

Dengan hadirnya UU Arsitek juga akan mengharuskan arsitek kita untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensinya, yang pada akhirnya dapat bersaing pula dengan arsitek-arsitek mancanegara.

Jadi sudah selayaknya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita mulai memikirkan bagaimana membangun negeri ini dengan membuatkan landaskan hukum yang baik dan adil untuk kemajuan bangsa, negara, dan kelangsungan hidup bagi generasi kita selanjutnya.

Kepercayaan diri sebagai bangsa dapat dibangun bila kita kembali dalam hidup bergotong-royong membangun negeri

06 September 2010 | samidirijono | arsitek |

Rabu, 25 Agustus 2010

Seni Patung, Monumen, dan Ruang Publik

Kemacetan memang terkadang dapat dijadikan alasan untuk menghindar tapi kadang juga begitu mengesalkan bila ternyata Anda telah sampai di ujung kegiatan yang ingin diikuti saat tiba di sana.

Kejadian itu terjadi saat ingin mengikuti diskusi Seni Patung, Monumen, dan Ruang Publik pada tanggal 21 Agustus 2010 di Salihara, Jakarta. Jadi cuma kebagian makalah salah seorang pembicara serta melihat pameran patung dan foto sesaat setelah berbuka puasa.


Telaah Arsitek

Dalam makalah Yuke Ardhiati yang diberi judul Monumen Puitik Dalam "Panggung Indonesia" diungkapkan bahwa Soekarno ketika memulai peradaban baru bagi negeri ini menyetarakan unsur rupa terwujud sebagai monumen, yang dirancang secara terstruktur demi mengejar ketertinggalan karya Tri Dimensional, sekaligus untuk menghapus 'luka-luka sejarah masa lalu', monumen yang berdurasi waktu relatif abadi, seperti Candi Borobudur yang menjadi bukti kebesaran peradaban Nusantara sebelum penjajahan.

Peradaban keindonesiaan yang dirilis melalui monumen demi monumen, dimulai dari Jakarta yang disebut sebagai Wajah Muka Indonesia.

Membaca seni patung, monumen, dan ruang publik dapat dilakukan dengan cara menguak bentuk (form) yang tidak nampak (intangible) melalui khora, yaitu menangkap proses mengualitas dari yang semula 'tiada' menjadi 'ada' (becoming). Khora sebagai 'ruang' yang mengandung unsur metafisik berupa locality, place, spacing, site.

Proses mengualitas ini ditengarai oleh peran "Arsitek" Soekarno yang mewacanakan identitas keindonesiaan melalui sejumlah karya arsitektur. Spasial yang terbentuk akibat karya yang terbentang itu menyerupai area representasi, yang disebut Yuke Ardhiati sebagai "Panggung Indonesia".

Dan dalam simpulan makalahnya dikatakan power-knowledge-space-man-art di ranah arsitektur negeri ini di awal kemerdekaan merupakan spasial keindonesiaan yang dicipta "Arsitek" Sukarno yang beruntung jadi 'kelas yang berkuasa' sebagai pencipta peradaban. Dan demi menuntut kembali peradaban kolektif yang mulia dapat dimulai dengan closure--rembug warga.


Momen Fotografi pun Bicara

Asfarinal yang berjulukan Santo Rumah Gadang melalui momen fotografinya berbicara banyak tentang seni patung, monumen, dan ruang publik.

Salah satu momen yang diabadikan adalah patung Selamat Datang di tengah cuaca mendung dan hiruk-pikuknya suasana di sana, diabadikan secara natural tanpa rekayasa dalam komposisi fotografi yang baik.

Kendaraan yang cukup padat, rambu lalu lintas yang asal pasang, hingga bangunan-bangunan yang menjulang tinggi telah mengecilkan arti patung Selamat Datang yang bukan saja berfungsi sebagai ornamen kota dan monumen, tetapi juga berupa ruang publik kota. Bila kita melihat langsung kondisi di sana akan tampak pula pos polisi dan papan reklame yang menambah lengkap kegalauan di bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Rambu dilarang memotong jalan menjadi simbol peringatan agar pembangunan di lingkungan itu seharusnya tidak memotong "jalan" keabadian monumen yang ditempatkan di sana. Awan pun mendung menangis melihat itu sebagaimana yang ingin diungkapkan sang fotografer melalui karyanya yang disajikan dengan apik.

Soekarno ketika menata kota dan meletakkan patung-patung di penjuru ibu kota pada waktu itu tampak sangat memegang kaidah-kaidah arsitektur kota, di mana dia meletakkan tengara (landmarks), nodes, paths, edges, districts sebagaimana yang kemudian kita pelajari dari teori Kevin Lynch (The Images of the City) telah diterapkan di sana. Dan bukan hanya itu, dalam berbagai hal dia senantiasa mempelajari, mengamati, memikirkan, dan menerapkan dengan cara yang baik dan bijak, sehingga dia pun mempunyai pandangan yang jauh melebihi zamannya, ini terbukti dalam berbagai hal yang telah dihasilkannya. Beruntung Indonesia punya Soekarno!

Ruang publik adalah bagian penting dari arsitektur kota, kota pun menjadi sakit ketika ruang publiknya terabaikan dan digadaikan. Monumen yang baik merupakan bagian dari elemen ruang publik. Monumen bisa saja berupa bangunan, tugu, atau patung yang harus kita hargai keberadaannya, apalagi bila ada tersimpan nilai sejarah di dalamnya.

Sedangkan kaidah arsitektur dibuat dan digunakan untuk menghasilkan rancangan yang baik, yang berguna untuk masyarakat dan lingkungannya.

Kota yang indah adalah kota yang menerapkan kaidah-kaidah arsitektur tidak secara parsial.

| 25 Agustus 2010 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 22 Agustus 2010

Edhi Sunarso

Generasi kita sekarang pasti tak banyak yang tahu siapa Edhi Sunarso, bahkan boleh jadi hanya segelintir orang di Jakarta yang mengenalnya, meski bisa dipastikan juga, hanya segelintir orang di Jakarta yang tidak mengenal karya Edhi Sunarso.

Edhi Sunarso dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1932 di Salatiga, Jawa Tengah dan dia adalah pematung Indonesia pertama yang menggunakan bahan logam (perunggu) untuk mencetak patung berskala besar.

Tidak aneh rasanya bila tidak banyak orang yang mengenalnya, karena namanya memang jarang dipublikasikan walau karya-karya beliau telah berjaya sejak tahun 1960-an. Dan menjadi ironis, bila mengingat salah satu karyanya justru yang kini senantiasa dijadikan tempat unjuk rasa di Jakarta, bahkan kerbau pun pernah ikut serta menjadi maskot unjuk rasa di sana.

Siapa yang tidak mengenal patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), yang belakangan ini juga selalu menjadi pusat berkumpulnya penduduk Jakarta di saat merayakan malam tahun baru dengan gratis? Itulah salah satu karya patung monumental Edhi Sunarso!


Masyarakat kita sangat haus akan ruang publik yang dapat dinikmati secara nyaman dan gratis. Semenjak Monumen Nasional atau Monas dipenjarakan (baca: dipagari) maka masyarakat tidak lagi leluasa untuk mendekatinya, sehingga konsentrasi massa pun beralih ke Bundaran HI di mana patung Selamat Datang ini ditempatkan.

Dua buah karya monumental lainnya yang mengisi ruang arsitektur kota Jakarta yakni patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng dan patung Dirgantara di Pancoran yang nasibnya sedikit mengenaskan karena kini terhimpit di antara dua jalan layang.

Nasib patung Dirgantara di Pancoran mungkin masih lebih baik dibandingkan dengan patung Banteng yang seharusnya ada di keempat penjuru tugu Monas.


Edhi Sunarso, maestro seni patung monumental yang karyanya jauh lebih dikenal dibandingkan sosok diri pembuatnya.

| 22 Agustus 2010 | samidirijono | arsitek |

(Pameran Monumen karya Edhi Sunarso di Galeri Salihara, Pejaten, Jakarta dari tanggal 14-28 Agustus 2010)

Jumat, 06 Agustus 2010

Saat Mahakam Melintas di Samarinda

Setelah dari Palembang kini giliran Samarinda (baca: Kalimantan Timur) yang dijadikan ajang sosialisasi Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia pada tanggal 4 Agustus 2010. Tujuan sosialisasi ini adalah untuk menyebarluaskan informasi tersebut, sekaligus juga memaparkan karya-karya yang pernah mendapatkan penghargaan di tahun-tahun sebelumnya sehingga peserta sosialisasi bisa mendapatkan gambaran tentang karya seperti apa yang bisa mereka unggulkan untuk mendapatkan penghargaan.

Samarinda adalah ibu kota provinsi Kalimantan Timur, bisa dicapai dari bandar udara Sepinggan yang berada di kota Balikpapan, berjarak 110-an kilometer atau kira-kira tiga jam dari samarinda. Bila Palembang dilewati sungai Musi maka Samarinda dilewati oleh sungai Mahakam, yang juga membelah kota menjadi dua bagian.

Sungai Mahakam yang melintasi Samarinda terlihat lebih lebar jika dibandingkan dengan sungai Musi yang melintas di Palembang. Sungai Mahakam ini masih bisa dilayari oleh kapal-kapal besar hingga masuk lebih jauh lagi ke arah hulu, karena jembatan yang dibuat di sini masih cukup tinggi dari muka air sungai. Untuk itu perlu diatur bahwa kapal-kapal yang boleh melintas di atasnya hanya kapal-kapal yang tidak berpotensi mencemarkan sungai agar kelestarian sungai tetap terjaga sehingga masih bisa dinikmati oleh anak-cucu kita kelak.

Potensi pariwisata sungai Mahakam di Samarinda bisa dikembangkan sebagaimana sungai Huang Pu yang membelah kota Shanghai dimanfaatkan sebagai aset pariwisata oleh pemerintah Cina, di mana pengembangkan kota sangat memperhatikan daerah pesisir sungai. Skyline bangunan dijadikan latar dalam mengolah bangunan sebagai diorama kota yang cantik, dilengkapi dengan permainan lampu-lampu dan laser pada bangunan-bangunannya di malam hari. Untuk urusan lighting (iluminasi atau pencahayaan), kota Shanghai konon banyak dijadikan acuan oleh para desainer dunia sehingga banyak desainer dan arsitek berbondong-bondong datang ke kota itu untuk mempelajarinya.

Kalimantan Timur masih bisa dikembangkan dengan baik mengikuti kaidah-kaidah sustainable development atau pun green architecture agar tidak rusak seperti daerah Jawa dan Jakarta pada khususnya. Pengadaan angkutan massal dan barang, selain angkutan air, yakni kereta api atau sejenisnya perlu dirancang secara integral untuk pulau Kalimantan demi kemajuan perekonomian dan kesejahteraan daerah ini.

Perjalanan ke Kalimantan Timur ini bukan untuk pertama kalinya. Rupa-rupanya mantera air sungai Mahakam cukup ampuh, yakni bagi yang minum air sungai Mahakam maka ia kelak akan kembali lagi ke sana.

Jangan minum air sungai Mahakam bila Anda tidak ingin kembali ke sana :)

| 6 Agustus 2010 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 01 Agustus 2010

Palembang

Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia (PKKI) untuk tahun 2010 tengah berlangsung dengan akhir pemasukan karya bagi mereka yang ingin mengikutsertakan karyanya adalah pada tanggal 25 Oktober 2010 di Sekretariat Panitia PKKI di lantai 7, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Untuk itulah rombongan sosialisasi datang ke Palembang, sebagian rombongan tiba malam hari melalui bandar udara Sultan Mahmud Badaruddin II setelah mengalami penundaan dikarenakan cuaca buruk di tujuan. Tidak banyak yang dikerjakan malam itu, hanya makan malam, menyiapkan segala sesuatu untuk besok, dan kemudian istirahat.

Esok harinya setelah selesai acara sosialisasi, sambil menunggu pesawat yang akan membawa sebagian rombongan kembali ke Jakarta pada pukul 18.30, kami pun diajak berwisata keliling kota Palembang oleh Mas Anta dan Mas Yopi, rekan arsitek yang tinggal di sana.

Kota Palembang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, kota ini pun tumbuh dengan ruko (rumah toko) yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Dan seperti halnya di kota-kota lain maka penghijauan pun tampaknya yang perlu ditambahkan dan ditata di Palembang ini.

Bila kita berjalan keliling kota Palembang ada beberapa hal unik yang mungkin tidak ada di daerah lain. Becak Palembang berbeda bentuknya dengan becak yang ada di beberapa daerah lain, becak di sana beratap rendah. Ada juga bus kota (angkutan umum) dengan wajah yang dihiasi dengan berbagai gambar hingga ke kaca depan, menarik memang, tapi mungkin gambar-gambar yang sampai menutupi kaca itu bisa membahayakan keselamatan para penumpang termasuk sang sopir juga bila sampai menghalangi pandangan sang sopir.


Dan belum ke Palembang rasanya bila kita belum berkunjung ke Jembatan Ampera. Jembatan yang menghubungkan dua sisi kota yang dipisahkan oleh Sungai Musi ini memang adalah jembatan tua yang masih berfungsi hingga kini. Jembatan yang dulu bisa diangkat untuk dibuka agar bisa dilewati oleh kapal-kapal besar yang melintas di sungai Musi, kini sudah tidak diaktifkan lagi sehingga kapal-kapal besar sudah tidak diperbolehkan lagi melintas di bawahnya.

Banyak pembangunan yang sedang dilaksanakan di kota Palembang, sehingga gedung-gedung baru mulai bermunculan, salah satunya Gedung DPRD yang dirancang oleh rekan-rekan arsitek di sana. Sangat disayangkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menggunakan jasa arsitek masih belum berkembang, hanya bangunan-bangunan besar dan bangunan pemerintah saja yang telah dirancang oleh arsitek. Inilah sepertinya salah satu yang menyebabkan kenapa belum dapat tercipta lingkungan yang tertata rapi dengan bangunan yang sehat dan indah di Palembang.

Hotel Novotel merupakan salah satu objek sasaran yang dikunjungi, pemenang kategori arsitektur dalam Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia di tahun 2006, yang sebelumnya telah mendapatkan Penghargaan IAI juga. Sebuah hotel dengan bentuk dasar lingkaran dengan finishing batu alam ini berorientasi ke dalam, dengan kolam renang dan taman di pusatnya. Menurut sang perancang, air yang digunakan untuk menyiram tanaman merupakan air hasil daur ulang, inilah salah satu nilai tambah dari bangunan ini.


Terakhir, sambil meneruskan perjalanan menuju bandara, tidak lupa kami mampir untuk membeli makanan khas daerah ini, yakni pempek sebagai buah tangan dari Palembang.

Berkembang dan maju dengan baiklah kota-kota negeriku.

| 1 Agustus 2010 | samidirijono | arsitek |

Jumat, 16 Juli 2010

Meletakkan Urinoar

Ronald S. Lumbuun, putra dari Prof.Dr. T. Gayus Lumbuun S.H., berhasil mempertahankan desertasinya untuk program doktoral pada tanggal 5 Juni 2010 yang lalu dan lulus dengan predikat doktor termuda dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Sidang doktoral itu dilaksanakan di Balai Sidang Joko Soetono di kompleks Fakultas Hukum (FH) UI, Depok. Sebagaimana pada bangunan-bangunan umum lainnya, gedung ini pun dilengkapi dengan toilet (WC) untuk pria dan wanita. Toilet pria dilengkapi antara lain dengan 3 buah urinoar, sangat disayangkan bahwa perletakan urinoar di gedung ini seperti tidak direncanakan dengan baik.

Tiga buah urinoar ini seperti dipaksakan untuk diletakkan di tempat yang cukup sempit, sehingga--kecuali yang tengah--sulit untuk digunakan, apalagi bila masing-masing dipergunakan pada waktu yang bersamaan. Hal ini diperparah dengan adanya tonjolan dinding tepat di posisi kepala orang dewasa, yang bila tidak hati-hati kepala bisa benjol.

Peturasan, tempat kencing pria, atau bahasa kerennya urinoar, umumnya digunakan untuk toilet yang ada di tempat-tempat umum karena salah satu tujuannya adalah guna mengoptimalkan ruang, namun untuk itu tetap harus ada batasan-batasan ukuran dan kaidah-kaidah arsitektur yang harus dijadikan pedoman agar urinoar dapat digunakan dengan baik dan nyaman.

Ada bermacam model urinoar, dari yang mencapai lantai hingga yang menggantung seperti yang dipergunakan di FH-UI ini. Untuk model yang seperti itu, bisa dibuat dengan berjarak minimum 90 cm, yang bila dirasa perlu pun masih bisa dipasangi pembatas setebal 3-4 cm. Jangan lupa untuk posisi yang dekat dinding beri jarak minimal 40 cm, agar nantinya masih ada sisa ruang antara 10 hingga 15 cm di sisi tubuh kita.


Sedangkan ketinggian urinoar disarankan sekitar 100 cm untuk ukuran orang dewasa. Bisa juga dibuatkan dinding tambahan setinggi 130 hingga 140 cm dengan ketebalan sekitar 20-30 cm. Fungsinya selain untuk instalasi pipa, juga bisa digunakan sebagai tempat sementara untuk meletakkan barang bawaan bagi pengguna urinoar.

Perletakan urinoar pun perlu dirancang dengan benar agar buang air seni pun lancar ...

| 16 Juli 2010 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 06 Juli 2010

Kalau Penghuni Rumah Sering Sakit

Beberapa tahun lalu, seorang kawan--kontraktor di Bandung--yang sedang bekerja di Jakarta karena acap kali dia harus pulang mendengar kabar anaknya sakit, waktu itu secara spontan terucap "Rumah lo ga bener tuh" (rumahmu tidak benar), tapi dia cuek saja.

Di lain waktu saat bertemu kembali, lagi-lagi ada kabar anaknya sakit. Kali ini dia terusik ketika diberitahu bahwa kalau anaknya sering sakit-sakitan berarti ada yang tidak benar dengan si rumah, dia menangggapi bahwa menurut rekan lain yang juga arsitek yang pernah diajak ke rumahnya, menyatakan suasana rumahnya dingin dan sejuk (nyaman).

Namun suatu ketika saat berkunjung ke Bandung untuk mengikuti sebuah seminar, selesai seminar langsung "diculik" dan dibawa ke rumahnya di Perumahan Wijaya Kusuma. Sesampai di sana dia mengajak berkeliling rumah. Selesai keliling kami pun duduk di ruang tamu, lalu dia bertanya "Nah bagaimana, rumahku dingin dan sejuk bukan?"

Betul Bandung memang dingin apalagi kalau yang merasakan orang Jakarta, tapi dingin bukan berarti rumahnya sehat, karena saat berkeliling rumah berlantai dua itu sudah terlihat masalahnya dan sudah pula terpikirkan solusi sederhananya.

Untuk itu kuminta dia sejenak berdiri tepat di pintu masuk untuk kemudian mundur beberapa tindak. Perbedaan apa yang terasa?

Angin. Saat berdiri di dekat pintu terasa terpaan angin dan saat mundur beberapa tindak sudah tidak lagi terasa hembusan angin. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan rumah tidak sehat, sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik, belum lagi cahaya matahari yang dapat masuk sangat minim.

Faktor lain yang memperburuk keadaan (baca: kesehatan) adalah kesalahan menempatkan bukaan (opening) kamar mandi. Ventilasi kamar mandi tidak baik bila diarahkan ke dapur, meski ada juga bukaan ke brand-gang (ruang sela antarbangunan untuk kebakaran) di belakang, namun itu pun terlalu kecil, belum lagi kondisi diperburuk oleh pintu kamar mandi yang menghadap ruang keluarga dibiarkan selalu terbuka.


Mengingat kondisi keuangannya yang belum memungkinkan untuk melakukan perbaikan rumah maka solusi dengan biaya rendah yang disarankan, untuk kamar mandi:
1. pintu kamar mandi harus selalu tertutup
2. menutup bukaan ke arah dapur
3. memperlebar bukaan di belakang


Juga disarankan pula agar udara dapat bersirkulasi dengan baik dan matahari bisa sedikit masuk ke dalam rumah:
4. membuat bukaan untuk ventilasi di atap
5. membuat lubang ventilasi di dinding tertinggi dekat bubungan
6. membuat bukaan ventilasi di bagian atas dinding kamar tidur di lantai 2


Kami pun kemudian tidak pernah berbincang tentang rumahnya lagi, dan sepertinya saran untuk kamar mandi telah diterapkan maka kabar anaknya sakit-sakitan alhamdulillah sudah tidak lagi terdengar. Bahkan terdengar kabar dia telah membeli rumah tetangga sebelah, menggabungkannya, dan membuat sebuah taman kecil di bagian luar di belakang rumah, sehingga sirkulasi udara dan cahaya matahari masih bisa dinikmati di sana.


Minggu lalu saat menginap di rumahnya terasa lantai bawah memang sudah jauh lebih nyaman tapi untuk lantai atas rasanya masih ada yang kurang, karena pelebaran dan perbaikan rumahnya terlihat belum menyentuh lantai atas. Mudah-mudahan ini bukan karena dia lupa atau karena merasa rumahnya sudah nyaman.

Orang kalau sakit berobat ke dokter, tapi kalau orang itu sakit akibat rumahnya yang sakit bagaimana?

Jika dokter bisa mengobati orang sakit, maka arsitek seharusnya bisa mengobati bangunan sakit. Bahkan arsitek pun harus bisa merancang (baca: melahirkan) bangunan yang sehat, agar penghuni sehat dan terhindar dari sakit.

Rumah sehat keluarga pun sehat.


| 06 Juli 2010 | samidirijono | arsitek |

Senin, 21 Juni 2010

Tanah Air Beta


Alexandra Gottardo, wanita cantik pemain film Tanah Air Beta, saat wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu merasa sedih (terenyuh) melihat masyarakat dengan rumah yang dikatakannya antara lain hanya beratap jerami, dinding masih kayu, dan lantai masih tanah.

Tertegun rasa ini mendengar pernyataan itu. Ada benarnya bila rumah hanya berlantai tanah mungkin kurang nyaman, seperti bila hujan atau terkena air maka akan membuat kotor bagian tubuh terutama kaki kita, juga keberadaan binatang atau serangga sangat tidak terkontrol karena dengan mudah mereka bisa menggali tanah dan masuk.

Namun salahkah bila rumahmu hanya beratap jerami dan berdinding kayu? Di Amerika yang negara maju sekali pun--meski di sana mungkin tidak ada yang beratap jerami--banyak orang yang lebih suka tinggal di rumah berdinding kayu. Bahkan belakangan ini acap diberitakan Rumah Tomohon yang terbuat dari kayu itu banyak diminati oleh orang-orang di luar daerahnya hingga ke manca negara. Vila-vila dan tempat peristirahatan pun banyak yang beratapkan jerami, dapat kita jumpai di Bali atau daerah lainnya.

Apakah rumah itu harus berlantai granit atau marmer? Tidak juga, lantai rumah meskipun dari keramik, teraso, ubin PC (portland cement), atau bahkan berlantai kayu,atau dengan hanya berupa acian semen pun bukan berarti secara arsitektur rumah itu tidak baik, karena dengan begitu kebersihan dan kesehatan sudah lebih terjaga dibanding yang berlantai tanah saja.

Rumah beratap jerami atau rumbia pun bukan berarti salah, karena salah satu keunggulan rumah beratap seperti ini adalah atap itu lebih bisa bernapas guna menjaga kelembaban, hanya saja kelemahannya antara lain adalah mudah terbakar.

Sedangkan rumah berdinding kayu bahkan gedek (sulaman bambu) tetap akan menjadi baik dan sehat bila dirancang dengan betul, yakni dirancang dengan memperhatikan adanya bukaan untuk ventilasi udara, sinar matahari, pengorganisasian ruang, dan lain sebagainya.

Perlu dipahami bahwa rumah berbahan material kayu tentulah lebih bersahabat dengan alam bila dibandingkan dengan rumah tembok atau baja. Karena kayu lebih mudah diperbaharui (sustainable) dengan cara di setiap area yang ditebangi pohonnya haruslah diganti dan ditanami kembali minimal sebanyak jumlah pohon yang telah ditebang.

Kejadian ini mungkin akibat kesalah-kaprahan anggapan bahwa rumah kayu itu bukan rumah permanen, karena sesungguhnya rumah kayu itu rumah permanen juga bila memang telah direncanakan untuk dibangun dan ditempati dalam jangka waktu yang lama, meski dia tetap bisa digotong dan dipindahkan.

Sedangkan apa yang dikatakan oleh Alexandra seperti lebih dimaksudkan pada kenyataan kehidupan sesungguhnya dari kebanyakan rakyat kita yang memang miskin--yang kebetulan tinggal di rumah-rumah beratapkan jerami, berdinding kayu, dan berlantai tanah--sehingga dia tidak mampu untuk memperbaiki atau merancang rumahnya dengan benar karena untuk bisa hidup sehari-hari saja sudah hebat.

Tanggung jawab jajaran pemerintah dari pimpinan di tingkat atas hingga bawahlah guna membangun untuk kesejahteraan rakyat, mulailah dari meningkatkan kebaikan serta kesehatan lingkungan dan menyediakan pendidikan yang benar.

Dengan lingkungan dan rumah yang sehat, kesejahteraan pun meningkat.

| 20 Juni 2010 | samidirijono | arsitek |

Sabtu, 19 Juni 2010

Pohonku Sayang Pohonku Malang

Kamu mungkin sering berdecak kagum bila melihat sesuatu yang tidak biasa kita lihat, misalnya melihat bangunan yang sangat tinggi, lukisan yang indah, danau yang cantik, atau hal-hal lain seperti lingkungan dengan pohon-pohon besar dan rindang di kiri-kanan jalan.

Kenapa itu terjadi, mungkin ya itu tadi, karena kita tidak biasa melihatnya, tapi bukan tidak mungkin yang terjadi malah sebaliknya, yaitu karena senang melihat atau mengamati sesuatu itulah yang menyebabkan kita mengaguminya.

Pohon yang tergolong sebagai tanaman keras biasanya perlu waktu lama untuk bisa mencapai diameter batang yang besar. Terkadang bisa mencapai umur hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Namun ada kalanya pohon-pohon yang sudah memiliki batang cukup besar ini harus mengalah oleh karena kepentingan tertentu.

Pembuatan pagar atau peninggian pagar halaman adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan hal itu terjadi. Perancang biasanya kurang atau malas memperhatikan hal detail seperti ini, demikian juga pelaksana pekerjaan konstruksi di lapangan yang biasanya lebih suka bila pekerjaan dapat dilakukan dengan tanpa hambatan. Malas menghadapi tantangan adalah salah satu penyebab yang lain.

Potong atau lukai pohon adalah jalan termudah bila menghadapi tantangan demikian. Kesadaran perlu ditanamkan dan diteladani sejak dini agar hal-hal semacam ini bisa semakin berkurang.

Beberapa arsitek dalam perancangannya telah melakukan hal ini dengan cara memberikan pemecahan-pemecahan desain yang baik. Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh arsitek Popo Danes dalam salah satu karyanya, yakni Natura Resort and Spa di Ubud, Bali. Sang arsitek meletakkan bangunan dalam rancangannya pada lahan yang tidak terdapat tanaman keras serta memberikan pemecahan dengan memasukkan pohon yang ada sebagai salah satu unsur dalam rancangannya. Ia memberikan jalan keluar secara desain dengan baik. Dan dalam tahap pelaksanaan konstruksi juga dihindari sebisa mungkin terjadinya perusakan terhadap tanaman.


Itu pula yang menjadi salah satu unsur yang menyebabkan kenapa karya ini pantas mendapatkan Penghargaan IAI di tahun 2002, Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia di tahun 2003, dan sebagai karya pertama dari Indonesia dengan memenangkan the Asean Energy Awards pada tahun 2004. Meski untuk memasukkan unsur itu dalam karya tidak mudah, namun teladan seperti ini memang perlu untuk kita dan generasi mendatang.

Ingat, alam akan menjaga kita bila kita pun menjaganya...

| 18 Juni 2010 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 16 Mei 2010

Museum Bahari di Jakarta

Museum Bahari terletak di daerah Kampung Luar Batang, wilayah Sunda Kelapa atau tepatnya di jalan Pasar Ikan No.1, Jakarta. Museum ini dahulu difungsikan untuk gudang penyimpan rempah-rempah yang terdiri dari beberapa bangunan, mulai dibangun sekitar tahun 1700-an atau awal abad ke-18.

Menghitung usia bangunan yang sudah 300-an tahun ini sangat wajar bila terlihat bangunan museum saat ini sudah tidak lagi dalam kondisi prima. Cat dinding sudah mengelupas di mana-mana, kayu-kayu konstruksi sudah banyak yang keropos dimakan rayap, penutup atap yang sudah diganti keramik pun tampak tidak lurus lagi.


Banyak hal lain yang juga mempengaruhi kondisi bangunan yang kian mundur ini. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi bahan bangunan yang telah mencapai ratusan tahun ini. Kondisi permukaan air laut yang terus naik dan daratan yang secara perlahan terus turun, belum lagi ditambah kendaraan-kendaraan berat yang lewat di daerah itu menimbulkan adanya getaran yang berdampak pada bangunan dan lingkungan secara keseluruhan.

Merawat bangunan tua tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi bangunan-bangunan di zaman dahulu hampir rata-rata mempunyai bentuk yang tinggi dan besar seperti yang ada di kompleks museum ini, yang berarti mempunyai lantai, plafon, dan dinding dengan permukaan yang sangat luas sehingga menyebabkan biaya perawatan menjadi tinggi.

Kayu-kayu untuk konstruksi bangunan yang berukuran dari 30 hingga 50 cm masih banyak dan bisa kita jumpai di sana, meski terlihat sudah banyak juga di antara kayu-kayu ini yang telah keropos dimakan rayap atau pun yang harus dipotong karena lapuk.


Mempertahankan bangunan tua karena nilai kesejarahannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nilai kesejarahan yang dimaksud tentunya bukan untuk memperlihatkan bahwa bangsa ini pernah sangat lama dijajah, bukan pula untuk membuat kita minder karena pernah dijajah, tapi ini justru harus bisa digunakan sebagai peringatan dan cambuk untuk bangkit dan tetap bersatu agar kesalahan leluhur kita terdahulu yang tercerai-berai mementingkan kelompok atau diri sendiri sehingga mudah dijajah tidak terulang kembali.

Nilai kesejarahan lain yang bisa diambil salah satunya adalah nilai sejarah perkembangan arsitektur--bangunan, lingkungan, dan kota--sebagai pembelajaran kita dalam menata ke depan. Arsitektur senantiasa berjalan bersamaan dengan peradaban, arsitektur membuat kita dengan mudah mengenali peradaban dari suatu bangsa.

Kita juga bisa mempelajari mana yang baik dari semua yang telah pernah dilaksanakan. Dari bentuk bangunan atau lingkungan yang sederhana hingga menjadi sebuah kota yang semerawut seperti Jakarta, tentunya dapat dijadikan bekal agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sebagai aset pariwisata, dengan tidak mengubah bentuk aslinya, fungsi kawasan dan bangunan lama jika perlu bisa diubah, agar punya nilai tambah dan tetap dapat berfungsi.

Nilai tambah bukan berarti dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri apalagi kawasannya. Sebagai bangunan atau kawasan mungkin dia tidak punya potensi untuk menghidupi dirinya sendiri, namun jika dimasukkan dalam skala perkotaan justru dia berpotensi menghidupi kotanya. Alasan dia tetap harus dihidupi oleh kota bahkan negara dikarenakan secara keseluruhan nilai devisa yang masuk yang dihasilkan dari kunjungan turis yang masuk ke suatu kota atau negara itu sangat besar, inilah makna gotong royong.

Karena itu pengelola negara dan kota di Indonesia ini harus mulai berpikir cerdas guna mengelola pariwisata, mulai dari memelihara objek pariwisatanya hingga mengatur perjalanan kunjungan turis saat berwisata.

| 16 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |

Senin, 10 Mei 2010

Berutang ... Hobi Atau Kutukan?

Entah dari kapan hal ini bermula namun untuk soal yang satu ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk rakyat negeri ini, bahkan ada yang berkomentar ini sudah jadi falsafah hidup bagi kebanyakan orang. Dari rakyat jelata hingga pejabat, dari rakyat miskin hingga konglomerat punya kebiasaan buruk, yakni berutang.

Negara kita ini pun punya utang yang sungguh luar biasa besar hingga mencapai ribuan triliun, entah kapan ini akan terlunasi, karena utang ini bukan semakin kecil tapi semakin membengkak dari tahun ke tahun dan sepertinya para penyelenggara negara pun tidak ambil peduli tentang hal ini. Mereka terus menciptakan utang-utang baru dengan menggadaikan apa pun yang bisa digadaikan, dengan menggunakan istilah obligasi, sukuk, dan lain sebagainya yang pada dasarnya adalah untuk utang!

Gali lubang tutup lubang menjadi istilah yang biasa kita dengar, namun sayangnya itu tidak berarti lubangnya selalu berukuran sama atau mengecil, yang kebanyakan terjadi justru lubang itu semakin dalam dan bertambah besar, bukan tidak mungkin lubang itu pada akhirnya untuk mengubur kita sendiri.

Apa penyebab ini semua?

Sepertinya tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Entah karena management (pengelolaan) keuangan yang buruk atau karena kebiasaan cara hidup yang buruk, dalam pengertian pendapatan (uang) yang diperoleh bukan untuk ditabung atau untuk menambah modal usaha tapi lebih digunakan untuk kebutuhan konsumtif--membeli sesuatu yang tidak terlalu perlu--sehingga ketika diperlukan untuk kebutuhan yang sesungguhnya uang itu sudah tidak ada lagi, akhirnya berutang dan lalu lagi berutang.

Sebagai contoh, pada tingkat masyarakat bawah "penghasilan lebih diutamakan untuk membeli rokok daripada ditabung", pada tingkatan yang lebih tinggi "pendapatan bukannya dijadikan modal usaha tetapi lebih diutamakan untuk membeli kendaraan".

Kita harus mulai dan mau belajar bagaimana mempergunakan uang dengan cerdas atau kita tidak akan pernah bisa mengubah nasib.

Banyak di antara kawan dan sahabat yang punya usaha sendiri, bahkan sebagian lagi telah berbentuk badan usaha resmi. Namun akibat management (pengelolaan) keuangan yang buruk, maka usaha yang dimiliki tidak kunjung maju, salah satu penyebab adalah justru karena penghasilan usaha yang didapat cukup besar mengakibatkan ia tidak mampu menahan diri dalam menghadapi kebutuhan yang seharusnya masih bisa ditunda untuk sementara waktu.

Belajar dari pengalaman orang lain.

Salah satu cara jitu belajar mengelola uang adalah memisahkan uang pribadi dengan uang untuk usaha. Bagi yang membuka usaha pribadi pun prinsip ini harus bisa dipegang. Jadi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara belajar menggaji diri sendiri, ya sekali pun usaha itu adalah usaha milik sendiri tetap saja harus dipisahkan antara uang usaha dengan uang pribadi.

Bung Karno pernah mengingatkan kita agar jangan menjadi bangsa kuli. Seperti apakah bangsa kuli? Salah satu kebiasaan buruk kuli adalah berutang.

| 10 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |
(foto hasil rekayasa, sumber internet)

Minggu, 02 Mei 2010

Trotoar dan Pedagang Es Buah di Batusari 4

Trotoar bagi pedestrian (pejalan kaki) di daerah Kemanggisan Utama berbeda dengan di Pejaten apalagi dibandingkan dengan jalan Benyamin Suaeb bekas landas pacu bandara Kemayoran yang tidak punya trotoar. Di Batusari 4 (dahulu Jln. Sakti) tepatnya, kita bisa menemukan trotoar di kedua sisi jalan dengan lebar tidak sampai dua meter yang lebih manusiawi dibandingkan kedua daerah tadi.

Trotoar di sisi selatan diapit aspal jalan dan riol kecil. Sepanjang trotoar ini selain terdapat jalur pejalan kaki yang terbuat dari paving block juga dilengkapi dengan jalur hijau yang terletak di antara jalur pejalan kaki dan riol. Sebetulnya akan lebih baik bila jalur tanaman ini diletakkan di antara jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki, agar para pejalan kaki lebih aman dan terlindung. Bila demikian maka tidak terlalu perlu lagi diletakkan pot-pot tanaman dengan jarak tertentu, sehingga jalur pejalan kaki ini menjadi lebih luas. Atau pot-pot ini bila tetap ingin ada bisa diletakkan di sisi riol dan di antara pot-pot tanaman ini bisa diletakkan furnitur, seperti tempat duduk, lampu taman, telepon umum pada jarak-jarak tertentu.

Trotoar di sisi utara yang diapit oleh aspal jalan dan saluran terbuka riol kota yang cukup besar lebih teduh dibandingkan yang ada di sebelah selatan. Di sekeliling pohon-pohon peneduh yang ada di situ dibuatkan pembatas terbuat dari bata dengan ketinggian antara 10-30 cm dan lebar 70 x 70 cm, sehingga masih memungkinkan bagi sang pohon untuk mengembangkan diri. Konstruksi bak pembatas ini tidak begitu kuat, sehingga ketika pohon membesar maka dinding pembatas itu pun mulai retak dan terbelah. Lemahnya konstruksi pembatas ini ada baiknya juga bagi sang pohon sehingga tidak mengganggu perkembangannya. Meski dibuat cukup rendah, pembatas itu pun masih bisa berfungsi untuk duduk apabila pejalan kaki yang melintas di sana ingin beristirahat sejenak untuk melepas penat.

Keteduhan pohon di tempat ini juga mungkin yang mengundang pedagang kaki lima untuk berjualan es buah di sana. Di saat siang hari yang panas terik tentunya ini menggoda para pejalan kaki mau pun pengendara yang dahaga saat melintas di tempat itu untuk berhenti sejenak menikmati segar dan dinginnya es buah yang disajikan apalagi ditambah suasana teduh pepohonan... wah nikmatnya.

Entah ada yang mengatur atau tidak, yang pasti secara ilmu arsitektur penempatan gerobak di tepi jalan yang tegak lurus dari sumbu jalan dengan jarak tertentu adalah cara penempatan yang cukup baik bagi pandangan pengendara yang lewat di sana. Hanya saja dengan cara penempatan seperti itu jadi mengganggu pejalan kaki, mengingat lebar trotoar yang tidak seberapa tadi.

Trotoar meski hanya untuk kita berjalan kaki atau pun bersepeda tetaplah perlu dirancang dengan baik, setiap penempatan perlu diatur dengan baik, perletakan semacam tiang listrik dan rambu-rambu pun tidak sekedar asal taruh, ini perlu agar jalur pedestrian terlihat rapi dan teratur sehingga pengguna trotoar pun senang dan nyaman berjalan di situ, apalagi bila trotoar bisa dilengkapi dengan tempat duduk, lampu, telepon umum, tempat sampah, dan lainnya yang temasuk dalam bagian dari street furniture.

Demikian juga penempatan pedagang kaki lima, bisa saja diperbolehkan asal tetap perlu pula diatur dengan jarak-jarak tertentu atau tempat-tempat tertentu agar tidak mengganggu pengguna trotoar.

Yang tidak kalah penting yang harus dijaga adalah kebersihan lingkungan. Sang pedagang es buah dan teman-teman pedagang lainnya yang berjualan di trotoar tentunya harus bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampahnya ke tempat sampah. Bagaimana dengan kebersihan air untuk mencuci mangkuk atau gelas? Mudah-mudahan yang ini pun juga jadi perhatian para pedagang.

Lingkungan yang bersih dan indah akan menjamin kesehatan kita, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan juga, karena biaya untuk berobat bisa dikurangi dan dapat digunakan untuk keperluan lain.

Lingkungan sehat, rakyat sehat, kesejahteraan pun meningkat.

| 2 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |

Kamis, 01 April 2010

Chalwanka

Jumat petang kemarin, saat masuk dari tempat parkir di lantai tiga Atrium Senen, dari arah bawah terdengar suara membahana alunan musik instrumental dengan suara melodi yang berbeda dari yang biasa kita dengar.

Melongok ke bawah secara selintas tidak tampak ada pertunjukan musik, yang terlihat hanyalah ramai pengunjung. Namun setelah diamati sejenak barulah tampak sekumpulan orang yang membentuk setengah lingkaran, yang ternyata adalah pengunjung yang sedang menonton pertunjukan musik etnis dari pegunungan Andes.

Karena ukuran panggung hanya berkisar satu setengah kali dua meter dengan ketinggian tidak sampai 20 cm, di mana pemusik yang tampil solo dan penonton sama-sama dalam posisi berdiri, ditambah lagi di lantai itu juga sedang berlangsung bazar dengan keramaian pengunjung yang cenderung merata, mengakibatkan tidak terjadi perbedaan mencolok di antara mereka bila hanya dilihat selintas.

Chalwanka adalah nama grup musik yang memainkan salah satu alat musik yang disebut zampona. Zampona adalah alat musik tiup yang berasal dari Amerika Latin berbentuk silinder atau tabung dengan lubang yang tertutup pada salah satu ujungnya dan biasanya terdiri dari 5 tabung atau lebih. Bisa terbuat dari bambu, kayu, atau bahan lainnya. Suara yang dihasilkannya sangat khas.

Sebetulnya Chalwanka terdiri dari dua orang, namun saat itu hanya seorang saja yang tampil dan dengan hanya diiringi rekaman musik instrumental ia memainkan melodi dengan zampona.

Selain menyaksikan permainan musik yang menawan ada satu pelajaran lain dapat dipetik dari sini, yakni tentang arsitektur, yang berhubungan dengan ruang (space) dan tempat (place). Bahwa manusia tanpa disadari atau pun diatur punya kecenderungan membentuk lingkaran ketika mereka menyaksikan sebuah pertunjukan atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian. Dan seperti kita ketahui bahwa lingkaran memang memiliki sesuatu yang disebut pusat atau sumbu.

Jadi jangan heran bila colosseum, amphitheatre, atau pun tempat-tempat pertunjukan biasanya mengambil bentuk-bentuk lingkaran, baik berbentuk seperempat, setengah, elips, hingga lingkaran penuh.

| 28 Maret 2010 | samidirijono | arsitek |

:: sumber foto dari internet dan koleksi pribadi ::

Jumat, 19 Maret 2010

Di Jalan Benyamin Suaeb Harus Dibuatkan Jalur Pedestrian

Enam Maret menjelang petang, saat melintas di bekas landas pacu bandara Kemayoran Jakarta yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jln. H. Benyamin Suaeb, tampak di kejauhan seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil sedang berjalan ke arah utara di jalur lambat, jalur kendaraan.

Lebar jalan Benyamin Suaeb kira-kira 40 meter terbagi dua, ke arah selatan dan ke utara (Ancol). Masing-masing arah terdiri dari tiga lajur jalur cepat dan dua lajur jalur lambat. Dan masih ada jalur hijau cukup luas di kedua sisi jalan, yang di dalamnya masih bisa dimanfaatkan sedikit sebagai jalur pedestrian (pejalan kaki) yang nyaman dan terlindung pepohonan. Tapi entah kenapa, tempat yang seharusnya dapat digunakan untuk trotoar bagi pedestrian ini malah dipagari dari ujung ke ujung di sepanjang kedua sisi jalan ini. Bahkan riol kota yang dahulu tertutup pun kini sudah dibuka hingga tidak menyisakan tempat bagi pedestrian. Jadi untuk pedestrian di mana? Ya di aspal bersama dengan kendaraan!

Itulah sebabnya kenapa sang ibu dengan dua anak tadi berjalan di jalur lambat, meski disebut jalur lambat namun laju kendaran yang melintas di sana cukup kencang. Cukup repot kelihatannya karena harus menggendong salah seorang anaknya, sambil sebentar-sebentar menoleh ke belakang dengan was-was takut tertabrak kendaraan yang melintas.


Melihat kejadian ini bak seorang wartawan, segera mengeluarkan telepon genggam berkamera--maklum tidak punya kamera sungguhan--dan bersiap mengabadikan momen yang menarik ini untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi berhubung hanya kamera telepon minim fasilitas maka diperlukan jarak yang cukup dekat untuk mengabadikan itu dan mungkin karena naluri keibuan yang kuat guna melindungi anak-anaknya, saat melihat ada kendaraan yang datang melambat maka secara spontan dia melambaikan tangan guna menghentikan laju kendaraan. Dan tanpa ragu atau pun takut dia minta diperbolehkan menumpang.

Dasar hanya wartawan gadungan, melihat kondisi lingkungan di situ tak tega juga menampik permintaan itu, apalagi jarak tempat yang dituju tidak sampai satu kilometer di depan. Jadi saya antarlah si ibu dan kedua anaknya itu ke tempat tujuan, yakni Pasar Mobil Kemayoran.

Dari ceritanya kemudian terungkap, bahwa dia ingin menjumpai suaminya di sana guna memberi kabar bahwa orang tuanya sedang sakit. Rupanya kabar kesehatan orang tua itulah yang membulatkan tekadnya sehingga terpaksa mengunjungi sang suami di tempat kerja dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil menempuh bahaya.

Oh Jakarta!

| 14 Maret 2010 | samidirijono | arsitek |

Kamis, 11 Maret 2010

Seks dan Arsitektur

Tulisan ini diangkat dari penjelasan atas permintaan seorang kawan, arsitek senior, tentang penyelenggaraan Seminar Seks dan Arsitektur, yang kutipan permintaannya begini "tolong diterangin dikit donk maksud temanya tuh, ntar udah pada 'hot' dateng eeh kagak ade ape2nya..."

Ah pura-pura tidak tahu atau cuma mau ngetes doang nih? Karena yang namanya arsitek itu pasti paham tentang arsitektur dan paham akan seks kan he.he.he...

Nah berikut ini adalah gambaran singkat tentang maksud seminar Seks dan Arsitektur itu. Yang diharapkan dari seminar ini, ada atau tidak ada hubungan keduanya--antara seks dan arsitektur.

Contoh, Marilyn Monroe yang hot itu dalam salah satu peran di film The Seven Year Itch di tahun 1954 kan ada adegan yang mengibar-kibarkan roknya tepat di atas tempat (lubang) yang terdapat angin kencang yang berhembus ke atas. Michael Jackson juga dalam salah satu aksi panggungnya bermain-main dengan angin yang dihembuskan dari bawah. Michael laki-laki, Marilyn perempuan, meski beda kelamin tapi sama-sama suka adegan itu. Lantas apa hubungannya dengan angin ya?

Dulu sewaktu kuliah di arsitektur dikenal istilah angin arsitektur, yaitu angin yang bisa berkelok-kelok terserah bagaimana tangan ini mulai menggoreskan pensil atau tinta di denah atau potongan bangunan yang sedang dirancang, di mana angin itu bisa berkelok-kelok lantas keluar di tempat yang diinginkan. Padalah kenyataannya sih boro-boro, yang kebanyakan terjadi justru di tempat itu mati angin!

Nah Marilyn dan Michael merupakan dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda tapi keduanya suka dengan adegan angin. Efek yang dihasilkan oleh angin tadi berbeda untuk pria dan wanita itu. Sang wanita terkesan malu dan berusaha menutupi roknya yang berkibar terkena hembusan angin, sementara sang pria justru menjadikan hembusan angin itu untuk menampilkan kesan keperkasaannya. Dari segi arsitektur, perancang harus pandai menempatkan arah hembusan angin agar tidak vulgar, untuk menampilkan kedua kesan yang bertolak belakang tadi. Itulah gambaran dari seks dan arsitektur.

Contoh lain, kalau kita melihat Tugu Monas (Monumen Nasional) banyak yang berpendapat itu maskulin karena menampilkan kejantanan pria (lingga). Tapi apa betul itu hanya melambangkan maskulin? Kalau kita mau memperhatikan dengan perasaan yang lebih mendalam, Monas itu melambangkan puncak hubungan cinta kasih antara pria dan wanita (suami-istri) secara timbal-balik. Tidak percaya?

Coba perhatikan dan amati baik-baik Tugu Monas. Kalau dari sudut seksologi itu melambangkan posisi pria di bawah dan wanita di atas. Belum percaya juga? Lihat gambar, bayangkan dalam pikiran Anda di sana bentuk penis (lingga) yang menembus vagina (yoni). Jadi Monas itu bukan lambang kejantanan semata, tapi lebih tepat sebagai lambang cinta kasih yang harus dibangun di negeri ini. Cuma sayang rakyatnya belum sadar, sehingga masih pada berkelahi melulu.

Itu penjelasan versi pribadi, kalau mau tahu penjelasan yang lebih jelas silahkan baca di leaflet, sedangkan kalau mau tahu detailnya ya kudu datang ke seminar Seks dan Arsitektur tanggal 25-26 Maret 2010 di Kampus Universitas Tarumanagara, he.he.he....

| 11 Maret 2010 | samidirijono | arsitek |

  • Sumber tulisan adalah e-mail kepada Firdauzy Noor tanggal 10 Maret 2010.
  • Sumber foto dari internet dan koleksi pribadi.