Jumat, 19 Maret 2010

Di Jalan Benyamin Suaeb Harus Dibuatkan Jalur Pedestrian

Enam Maret menjelang petang, saat melintas di bekas landas pacu bandara Kemayoran Jakarta yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jln. H. Benyamin Suaeb, tampak di kejauhan seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil sedang berjalan ke arah utara di jalur lambat, jalur kendaraan.

Lebar jalan Benyamin Suaeb kira-kira 40 meter terbagi dua, ke arah selatan dan ke utara (Ancol). Masing-masing arah terdiri dari tiga lajur jalur cepat dan dua lajur jalur lambat. Dan masih ada jalur hijau cukup luas di kedua sisi jalan, yang di dalamnya masih bisa dimanfaatkan sedikit sebagai jalur pedestrian (pejalan kaki) yang nyaman dan terlindung pepohonan. Tapi entah kenapa, tempat yang seharusnya dapat digunakan untuk trotoar bagi pedestrian ini malah dipagari dari ujung ke ujung di sepanjang kedua sisi jalan ini. Bahkan riol kota yang dahulu tertutup pun kini sudah dibuka hingga tidak menyisakan tempat bagi pedestrian. Jadi untuk pedestrian di mana? Ya di aspal bersama dengan kendaraan!

Itulah sebabnya kenapa sang ibu dengan dua anak tadi berjalan di jalur lambat, meski disebut jalur lambat namun laju kendaran yang melintas di sana cukup kencang. Cukup repot kelihatannya karena harus menggendong salah seorang anaknya, sambil sebentar-sebentar menoleh ke belakang dengan was-was takut tertabrak kendaraan yang melintas.


Melihat kejadian ini bak seorang wartawan, segera mengeluarkan telepon genggam berkamera--maklum tidak punya kamera sungguhan--dan bersiap mengabadikan momen yang menarik ini untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi berhubung hanya kamera telepon minim fasilitas maka diperlukan jarak yang cukup dekat untuk mengabadikan itu dan mungkin karena naluri keibuan yang kuat guna melindungi anak-anaknya, saat melihat ada kendaraan yang datang melambat maka secara spontan dia melambaikan tangan guna menghentikan laju kendaraan. Dan tanpa ragu atau pun takut dia minta diperbolehkan menumpang.

Dasar hanya wartawan gadungan, melihat kondisi lingkungan di situ tak tega juga menampik permintaan itu, apalagi jarak tempat yang dituju tidak sampai satu kilometer di depan. Jadi saya antarlah si ibu dan kedua anaknya itu ke tempat tujuan, yakni Pasar Mobil Kemayoran.

Dari ceritanya kemudian terungkap, bahwa dia ingin menjumpai suaminya di sana guna memberi kabar bahwa orang tuanya sedang sakit. Rupanya kabar kesehatan orang tua itulah yang membulatkan tekadnya sehingga terpaksa mengunjungi sang suami di tempat kerja dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil menempuh bahaya.

Oh Jakarta!

| 14 Maret 2010 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: