Selasa, 06 Juli 2010

Kalau Penghuni Rumah Sering Sakit

Beberapa tahun lalu, seorang kawan--kontraktor di Bandung--yang sedang bekerja di Jakarta karena acap kali dia harus pulang mendengar kabar anaknya sakit, waktu itu secara spontan terucap "Rumah lo ga bener tuh" (rumahmu tidak benar), tapi dia cuek saja.

Di lain waktu saat bertemu kembali, lagi-lagi ada kabar anaknya sakit. Kali ini dia terusik ketika diberitahu bahwa kalau anaknya sering sakit-sakitan berarti ada yang tidak benar dengan si rumah, dia menangggapi bahwa menurut rekan lain yang juga arsitek yang pernah diajak ke rumahnya, menyatakan suasana rumahnya dingin dan sejuk (nyaman).

Namun suatu ketika saat berkunjung ke Bandung untuk mengikuti sebuah seminar, selesai seminar langsung "diculik" dan dibawa ke rumahnya di Perumahan Wijaya Kusuma. Sesampai di sana dia mengajak berkeliling rumah. Selesai keliling kami pun duduk di ruang tamu, lalu dia bertanya "Nah bagaimana, rumahku dingin dan sejuk bukan?"

Betul Bandung memang dingin apalagi kalau yang merasakan orang Jakarta, tapi dingin bukan berarti rumahnya sehat, karena saat berkeliling rumah berlantai dua itu sudah terlihat masalahnya dan sudah pula terpikirkan solusi sederhananya.

Untuk itu kuminta dia sejenak berdiri tepat di pintu masuk untuk kemudian mundur beberapa tindak. Perbedaan apa yang terasa?

Angin. Saat berdiri di dekat pintu terasa terpaan angin dan saat mundur beberapa tindak sudah tidak lagi terasa hembusan angin. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan rumah tidak sehat, sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik, belum lagi cahaya matahari yang dapat masuk sangat minim.

Faktor lain yang memperburuk keadaan (baca: kesehatan) adalah kesalahan menempatkan bukaan (opening) kamar mandi. Ventilasi kamar mandi tidak baik bila diarahkan ke dapur, meski ada juga bukaan ke brand-gang (ruang sela antarbangunan untuk kebakaran) di belakang, namun itu pun terlalu kecil, belum lagi kondisi diperburuk oleh pintu kamar mandi yang menghadap ruang keluarga dibiarkan selalu terbuka.


Mengingat kondisi keuangannya yang belum memungkinkan untuk melakukan perbaikan rumah maka solusi dengan biaya rendah yang disarankan, untuk kamar mandi:
1. pintu kamar mandi harus selalu tertutup
2. menutup bukaan ke arah dapur
3. memperlebar bukaan di belakang


Juga disarankan pula agar udara dapat bersirkulasi dengan baik dan matahari bisa sedikit masuk ke dalam rumah:
4. membuat bukaan untuk ventilasi di atap
5. membuat lubang ventilasi di dinding tertinggi dekat bubungan
6. membuat bukaan ventilasi di bagian atas dinding kamar tidur di lantai 2


Kami pun kemudian tidak pernah berbincang tentang rumahnya lagi, dan sepertinya saran untuk kamar mandi telah diterapkan maka kabar anaknya sakit-sakitan alhamdulillah sudah tidak lagi terdengar. Bahkan terdengar kabar dia telah membeli rumah tetangga sebelah, menggabungkannya, dan membuat sebuah taman kecil di bagian luar di belakang rumah, sehingga sirkulasi udara dan cahaya matahari masih bisa dinikmati di sana.


Minggu lalu saat menginap di rumahnya terasa lantai bawah memang sudah jauh lebih nyaman tapi untuk lantai atas rasanya masih ada yang kurang, karena pelebaran dan perbaikan rumahnya terlihat belum menyentuh lantai atas. Mudah-mudahan ini bukan karena dia lupa atau karena merasa rumahnya sudah nyaman.

Orang kalau sakit berobat ke dokter, tapi kalau orang itu sakit akibat rumahnya yang sakit bagaimana?

Jika dokter bisa mengobati orang sakit, maka arsitek seharusnya bisa mengobati bangunan sakit. Bahkan arsitek pun harus bisa merancang (baca: melahirkan) bangunan yang sehat, agar penghuni sehat dan terhindar dari sakit.

Rumah sehat keluarga pun sehat.


| 06 Juli 2010 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: