Rabu, 25 Agustus 2010

Seni Patung, Monumen, dan Ruang Publik

Kemacetan memang terkadang dapat dijadikan alasan untuk menghindar tapi kadang juga begitu mengesalkan bila ternyata Anda telah sampai di ujung kegiatan yang ingin diikuti saat tiba di sana.

Kejadian itu terjadi saat ingin mengikuti diskusi Seni Patung, Monumen, dan Ruang Publik pada tanggal 21 Agustus 2010 di Salihara, Jakarta. Jadi cuma kebagian makalah salah seorang pembicara serta melihat pameran patung dan foto sesaat setelah berbuka puasa.


Telaah Arsitek

Dalam makalah Yuke Ardhiati yang diberi judul Monumen Puitik Dalam "Panggung Indonesia" diungkapkan bahwa Soekarno ketika memulai peradaban baru bagi negeri ini menyetarakan unsur rupa terwujud sebagai monumen, yang dirancang secara terstruktur demi mengejar ketertinggalan karya Tri Dimensional, sekaligus untuk menghapus 'luka-luka sejarah masa lalu', monumen yang berdurasi waktu relatif abadi, seperti Candi Borobudur yang menjadi bukti kebesaran peradaban Nusantara sebelum penjajahan.

Peradaban keindonesiaan yang dirilis melalui monumen demi monumen, dimulai dari Jakarta yang disebut sebagai Wajah Muka Indonesia.

Membaca seni patung, monumen, dan ruang publik dapat dilakukan dengan cara menguak bentuk (form) yang tidak nampak (intangible) melalui khora, yaitu menangkap proses mengualitas dari yang semula 'tiada' menjadi 'ada' (becoming). Khora sebagai 'ruang' yang mengandung unsur metafisik berupa locality, place, spacing, site.

Proses mengualitas ini ditengarai oleh peran "Arsitek" Soekarno yang mewacanakan identitas keindonesiaan melalui sejumlah karya arsitektur. Spasial yang terbentuk akibat karya yang terbentang itu menyerupai area representasi, yang disebut Yuke Ardhiati sebagai "Panggung Indonesia".

Dan dalam simpulan makalahnya dikatakan power-knowledge-space-man-art di ranah arsitektur negeri ini di awal kemerdekaan merupakan spasial keindonesiaan yang dicipta "Arsitek" Sukarno yang beruntung jadi 'kelas yang berkuasa' sebagai pencipta peradaban. Dan demi menuntut kembali peradaban kolektif yang mulia dapat dimulai dengan closure--rembug warga.


Momen Fotografi pun Bicara

Asfarinal yang berjulukan Santo Rumah Gadang melalui momen fotografinya berbicara banyak tentang seni patung, monumen, dan ruang publik.

Salah satu momen yang diabadikan adalah patung Selamat Datang di tengah cuaca mendung dan hiruk-pikuknya suasana di sana, diabadikan secara natural tanpa rekayasa dalam komposisi fotografi yang baik.

Kendaraan yang cukup padat, rambu lalu lintas yang asal pasang, hingga bangunan-bangunan yang menjulang tinggi telah mengecilkan arti patung Selamat Datang yang bukan saja berfungsi sebagai ornamen kota dan monumen, tetapi juga berupa ruang publik kota. Bila kita melihat langsung kondisi di sana akan tampak pula pos polisi dan papan reklame yang menambah lengkap kegalauan di bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Rambu dilarang memotong jalan menjadi simbol peringatan agar pembangunan di lingkungan itu seharusnya tidak memotong "jalan" keabadian monumen yang ditempatkan di sana. Awan pun mendung menangis melihat itu sebagaimana yang ingin diungkapkan sang fotografer melalui karyanya yang disajikan dengan apik.

Soekarno ketika menata kota dan meletakkan patung-patung di penjuru ibu kota pada waktu itu tampak sangat memegang kaidah-kaidah arsitektur kota, di mana dia meletakkan tengara (landmarks), nodes, paths, edges, districts sebagaimana yang kemudian kita pelajari dari teori Kevin Lynch (The Images of the City) telah diterapkan di sana. Dan bukan hanya itu, dalam berbagai hal dia senantiasa mempelajari, mengamati, memikirkan, dan menerapkan dengan cara yang baik dan bijak, sehingga dia pun mempunyai pandangan yang jauh melebihi zamannya, ini terbukti dalam berbagai hal yang telah dihasilkannya. Beruntung Indonesia punya Soekarno!

Ruang publik adalah bagian penting dari arsitektur kota, kota pun menjadi sakit ketika ruang publiknya terabaikan dan digadaikan. Monumen yang baik merupakan bagian dari elemen ruang publik. Monumen bisa saja berupa bangunan, tugu, atau patung yang harus kita hargai keberadaannya, apalagi bila ada tersimpan nilai sejarah di dalamnya.

Sedangkan kaidah arsitektur dibuat dan digunakan untuk menghasilkan rancangan yang baik, yang berguna untuk masyarakat dan lingkungannya.

Kota yang indah adalah kota yang menerapkan kaidah-kaidah arsitektur tidak secara parsial.

| 25 Agustus 2010 | samidirijono | arsitek |

1 komentar:

Lilis mengatakan...

Terkait postingan di atas dapat juga di lihat link di bawah ini :
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3132/1/PESAT%202005%20_arsitektur_006.pdf