Sabtu, 19 Juni 2010

Pohonku Sayang Pohonku Malang

Kamu mungkin sering berdecak kagum bila melihat sesuatu yang tidak biasa kita lihat, misalnya melihat bangunan yang sangat tinggi, lukisan yang indah, danau yang cantik, atau hal-hal lain seperti lingkungan dengan pohon-pohon besar dan rindang di kiri-kanan jalan.

Kenapa itu terjadi, mungkin ya itu tadi, karena kita tidak biasa melihatnya, tapi bukan tidak mungkin yang terjadi malah sebaliknya, yaitu karena senang melihat atau mengamati sesuatu itulah yang menyebabkan kita mengaguminya.

Pohon yang tergolong sebagai tanaman keras biasanya perlu waktu lama untuk bisa mencapai diameter batang yang besar. Terkadang bisa mencapai umur hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Namun ada kalanya pohon-pohon yang sudah memiliki batang cukup besar ini harus mengalah oleh karena kepentingan tertentu.

Pembuatan pagar atau peninggian pagar halaman adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan hal itu terjadi. Perancang biasanya kurang atau malas memperhatikan hal detail seperti ini, demikian juga pelaksana pekerjaan konstruksi di lapangan yang biasanya lebih suka bila pekerjaan dapat dilakukan dengan tanpa hambatan. Malas menghadapi tantangan adalah salah satu penyebab yang lain.

Potong atau lukai pohon adalah jalan termudah bila menghadapi tantangan demikian. Kesadaran perlu ditanamkan dan diteladani sejak dini agar hal-hal semacam ini bisa semakin berkurang.

Beberapa arsitek dalam perancangannya telah melakukan hal ini dengan cara memberikan pemecahan-pemecahan desain yang baik. Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh arsitek Popo Danes dalam salah satu karyanya, yakni Natura Resort and Spa di Ubud, Bali. Sang arsitek meletakkan bangunan dalam rancangannya pada lahan yang tidak terdapat tanaman keras serta memberikan pemecahan dengan memasukkan pohon yang ada sebagai salah satu unsur dalam rancangannya. Ia memberikan jalan keluar secara desain dengan baik. Dan dalam tahap pelaksanaan konstruksi juga dihindari sebisa mungkin terjadinya perusakan terhadap tanaman.


Itu pula yang menjadi salah satu unsur yang menyebabkan kenapa karya ini pantas mendapatkan Penghargaan IAI di tahun 2002, Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia di tahun 2003, dan sebagai karya pertama dari Indonesia dengan memenangkan the Asean Energy Awards pada tahun 2004. Meski untuk memasukkan unsur itu dalam karya tidak mudah, namun teladan seperti ini memang perlu untuk kita dan generasi mendatang.

Ingat, alam akan menjaga kita bila kita pun menjaganya...

| 18 Juni 2010 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: