Kamis, 05 Mei 2011

Soejoedi di Mata Arsitek dan Sahabatnya

Saat ini tak banyak orang yang mengenal Soejoedi Wirjoatmodjo, termasuk mereka yang berkecimpung di bidang arsitektur.

Masyarakat lebih mengenal keindahan gedung DPR/MPR yang bentuknya unik dan tak lekang oleh zaman itu, dibanding sang arsiteknya, yakni Soejoedi (baca: Suyudi).


Saat hadir di acara peluncuran buku Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi yang ditulis oleh Budi A. Sukada, IAI, banyak terungkap sisi lain dari Soejoedi yang mungkin kita tidak ketahui sebelum ini.

Acara dipandu oleh Sutrisno Murtiyoso pada 28 April 2011 di Jakarta ini, diawali oleh sang penulis dengan mengungkapkan sejauh mana objektifitas dia dalam membedah karya Soejoedi ini melalui tulisannya.

Budi Sukada dalam penulisannya menggunakan metode yang biasa digunakan oleh Charles Jenks. Menurutnya, Charles Jenks dalam melihat karya melalui dua cara. Pertama, karya yang ditiru dan kedua, menyempurnakan diri.

Selanjutnya Budi Sukada di dalam membedah karya Arsitek Soejoedi menggunakan apa yang disebutnya dengan "teori dorongan estetik".

Ulasan dimulai oleh Prof. Slamet Wirasonjaya, yang bercerita bahwa di dalam berkarya arsitek Soejoedi dapat memaksa konstruksi baja untuk mengikuti bentuk bangunan yang dibuatnya. Sebagai arsitek, Soejoedi berpendapat bahwa konstruksi harus mengikuti bentuk, bukan bentuk mengikuti konstruksi.

Menurut Prof. Slamet, saat ini sebutan ARSITEK telah tenggelam. Arsitek tidak lagi dikenal sebagaimana di masa lalu. Masyarakat sekarang lebih mengenal istilah konsultan, bukan lagi arsitek. Pertanyaan yang sering terdengar saat ini "siapa konsultannya?" bukan "siapa arsiteknya?".

Hal ini diperparah oleh UUJK (Undang-Undang Jasa Konstruksi) yang ikut pula menghancurkan arsitek. UUJK menyebut konsultan, bukan ARSITEK, sebagaimana hal ini diungkap oleh Ridwan Kurnia, mantan ketua IAI daerah Jawa Barat.

Mereka berdua menekankan agar kita harus mengembalikan posisi arsitek ke tempatnya semula, bahwa yang merancang bangunan itu ARSITEK bukan konsultan.

Yuswadi Saliya, IAI berpendapat, bahwa masa kreatif Soejoedi sangat singkat, dia hanya sempat berkarya selama 20 tahun, dia meninggal di usia yang masih sangat produktif.

Menurut Yuswadi dengan membaca buku Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi masih sulit untuk menempatkan Soejoedi, apakah dia arsitek modern di Indonesia atau arsitek Indonesia modern? Karena di buku itu tidak terungkap sisi Soejoedinya sendiri siapa?

Suprayogi adalah orang dibalik sukses Soejoedi, dialah yang membawa Sutami dan Soejoedi. Hal ini diungkap oleh Lutfi, salah seorang sahabat Soejoedi.

Sebagai salah seorang arsitek yang beruntung karena pernah menerima resep merancang dari Soejoedi, Hoemar menceritakan bahwa menurut Soejoedi untuk mendapatkan rancangan yang baik maka ukuran yang digunakan dalam mendesain itu harus selalu bisa dibagi tiga. Itulah yang menurutnya mengapa karya-karya Soejoedi sangatlah enak untuk dipandang.

Arsitek Harisanto mengungkapkan pesan Soejoedi agar kita tidak perlu takut atau minder bila berhadapan dengan orang asing, karena menurutnya kita ini setara dengan mereka.

Vila Arsyad menurut Arsitek Han Awal adalah karya terbaik Soejoedi. Di gedung ASEAN, Soejoedi membuat berjenjang-jenjang dengan teras-teras yang merefleksikan sawah. Di PGI (Pusat Grafika Indonesia) dahulu, pendopo diterjemahkan dengan bahasa internasional. Soejoedi pandai bermanipulasi dengan bidang yang panjang.

Prof. Josef Prijotomo baru mengenal Soejoedi dari buku Gedung MPR/DPR RI. Josef mengamati, bahwa ada dua tipe orang yang kembali dari belajar di mancanegara. Yang pertama, melokalkan yang global dan yang kedua, mengglobalkan yang lokal.

Maksud melokalkan yang global adalah mereka yang menimba pengetahuan di luar kemudian menerapkan yang dari luar itu ke dalam sini. Sedangkan mengglobalkan yang lokal adalah mereka yang menimba pengetahuan untuk menginternasionalkan Indonesia.

Soejoedi adalah termasuk tipe yang kedua, di mana dia bisa mengangkat nilai-nilai tradisi menggunakan ilmu modern untuk menginternasionalkan Indonesia.

Pengaruh Soejoedi di Jawa Tengah atau Semarang pada khususnya sangat besar dan itu bisa ditelusuri hingga kini. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Totok Rusmanto.

Prof. Bagoes Wiryomartono berpendapat bahwa Soejoedi sebagai original thinker tidak mungkin dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Oleh Soejoedi justru dengan semangat modernism diharapkan membongkar agar tidak ada alasan untuk merasa inferior.

Soejoedi lebih bisa mengungkap esensi dasar tradisi kita dibanding Thomas Karsten atau pun arsitek-arsitek kolonialism lainnya.

Soejoedi seorang arsitek yang memiliki integritas dan dedikasi pada pekerjaan. Dia hidup sebagai arsitek dan menghidupi arsitektur.

Di sisi lain, Prof. Eko Budihardjo mengingatkan kita untuk bisa membawa semangat Soejoedi dalam kehidupan di masa kini, agar kita tidak mudah melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan yang telah dibuat.

Ia mencontohkan ruang terbuka hijau di Jakarta yang saat ini sudah melanggar undang-undang karena sudah berada di bawah 20 %, jangan lagi dikurangi dengan lebih mengutamakan pembangunan gedung, apalagi di daerah hijau seperti di area MPR/DPR.

Pesan Prof. Eko, ruang hijau kota sekarang harusnya tidak dikurangi tapi justru kita tambah.

Mari hadirkan peradaban melalui karya arsitektur.

05 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: