Sabtu, 12 November 2011

Detail Taman Atap

Bagaimana detail Taman Atap dengan beban tanaman hias ringan, tidak terlalu besar untuk rumah tinggal kelas menengah-bawah, dengan bahan (material) umum yang mudah diperoleh pun murah pembuatannya?

Demikian pertanyaan Dwidyatmoko di milis IAI pada tanggal 8 November 2011 lalu. Karena dari beberapa sumber yang diperoleh umumnya ada beberapa bahan/material yang asing atau jarang ditemui di daerah tertentu, seperti lapisan penyaring, lapisan penyerap lembap, lapisan kedap air, lapisan pemisah, insulator panas, pengatur uap air, atau kelembapan.

Keesokan harinya, Supena Krisnadi menjawab, bahwa untuk perihal roof garden (taman atap), menurutnya ada 2 hal yang perlu perhatian khusus, yakni:
  • sisi konstruksi, yakni pentingnya membuat selubung bangunan kedap air dan saluran-saluran air dalam mendesain roof garden itu.
  • sisi lanskap, yakni pemahaman mengenai jenis media tanam, lapisan-lapisannya dan tingkat keasaman tanah

Untuk sisi konstruksi, dia lebih merasa nyaman menggunakan aditif pada beton atap di bawah roof garden itu untuk membuatnya lebih tahan air. Banyak produk yang tersedia di pasar, ada AM, Sika, Shell, dll.

Setelah beton tadi, biasanya ditambahkan juga waterproofing membrane. Bisa berupa lembaran bitumen, atau pun komposit dengan serat fiber. Keduanya banyak juga di pasaran.

Setelah ini, dahulu populer dipakai geo-textile, yang bentuknya seperti kain polyester untuk menahan agar kotoran dari tanah tidak menyumbat saluran pembuangan air. Sekarang ada produk lain seperti modul-modul kotak dari bahan turunan plastik yang didesain khusus sehingga bisa mengalirkan air tapi tetap menahan media tanah (agregat) di atasnya tidak ikut terbawa air.

Selanjutnya baru lapisan-lapisan media tanamnya. Media tanam ini sangat tergantung dari jenis dan spesies tanaman hias yang akan dipakai.

Disarankan untuk konsultasi dengan ahli tanaman di daerah Anda, karena media ini biasanya dikombinasi dengan lapisan pasir untuk menjaga tingkat kelembapannya. Mereka lebih paham untuk spesies-spesies tertentu berapa nilai minimum ketebalan media tanam dan media pasir sehingga sesuai dengan perkiraan beban terhadap struktur yang kita sudah tentukan.

Penting juga diketahui nilai keasaman dari media tanam tersebut agar sesuai kebutuhan tanaman yang dipakai.

Untuk tanaman jenis rumput, biasanya mereka akan stres pada masa awal penanaman, sehingga untuk masa-masa awal akan terlihat mati. Tapi jika komposisi-komposisinya benar (berarti akarnya tidak busuk) mereka akan tumbuh kembali setelah 1-3 bulan penanaman. Untuk tanaman hias lain, kasusnya spesifik, sesuai spesiesnya.

Hal-hal tersebut cukup mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai lapisan penyaring (geo-textile/modul block), lapisan kedap air (bitumen/komposit fiber), penyerap/pengatur kelembapan (pasir).

Sedangkan untuk insulator panas sendiri, penerapan roof garden sebenarnya sudah merupakan upaya pembuatan insulator terhadap panas. Jika hal ini terasa kurang, baru bisa ditambahkan bahan insulator lain, bisa di atas atau pun di bawah bahan lantai itu (polystyrene, phenolic, coconut fibre, cellulose fibre, dll).

Dapat dipahami kalau ada ketidakmerataan ketersediaan bahan bangunan atau teknologi bangunan di Indonesia, untuk itu bisa diambil prinsip-prinsip utamanya saja.

Sisi kontrol dari bahan dan teknik pengecoran beton, pencari substitusi waterproofing membrane yang tersedia secara lokal, dan penggunaan bahan penahan agar kotoran-kotoran tanah tidak terbawa air (mungkin perlu trial error research beberapa minggu).

Sedangkan untuk media tanam dan jenis tanaman, Supena Krisnadi merasa bahwa hal itu bisa disesuaikan dengan "daerah" di mana lokasi itu berada. Dia percaya pemilihan organisme lokal tentunya lebih sesuai dengan habitat lain di sekelilingnya, sehingga adaptasinya terhadap faktor cuaca dan siklus ekosistemnya lebih teruji.

Putu Okadiputra pun menambahkan berdasar pengalamannya dengan cara lebih tradisional dan lebih ekonomis. Untuk susunan lapisan dari beton ke atas dapat dilakukan sebagai berikut.
  1. Beton dibuat dengan baik sehingga tidak bocor, ini berkaitan dengan penulangan/pembebanan, metode pengecoran, dan kemungkinan penambahan aditif seperti disebutkan Supena Krisnadi.
  2. Leveling beton atau screed harus baik untuk memungkinkan air tidak menggenang dan mengalir tanpa hambatan.
  3. Menempatkan concrete block atau bata lepasan di atas beton dengan spasi antara mereka sehingga luas permukaan yang tertutup concrete block kira-kira 50%, jarak di antara conblock (bata) akan menjadi jalur lewat air lebih.
  4. Jarak di antaranya diisi dengan kerikil 3-4 cm diameter
  5. Di atasnya diisi sekam padi sampai kira-kira 5-10 cm di atas level conblock. Sekam padi berfungsi sebagai pengganti geo-textile.
  6. Lalu diisi dengan media tanam, pengalaman saya bisa sampai 40 cm dalam.

Cara ini lebih tradisional, kekurangannya adalah penambahan ketebalan yang cukup banyak. Namun sudah dicoba dan bekerja baik tanpa bocor dalam 3 tahun ini, demikian diungkap Putu. Berbagai tanaman pun bisa ditanam dengan baik antara lain, rumput, paku-pakuan, kemboja Jepang, lee kwan yew.

Atap hijau, udara pun segar.


12 November 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 23 Oktober 2011

Ekonomi Salah Kaprah!

“Pengelolaan ekonomi keliru,” demikian yang dikatakan oleh H.M. Aksa Mahmud dalam salah satu acara TVRI yang bertema Potret Ideologi Ekonomi Kita pada tanggal 23 Mei 2011.

Menurutnya suatu kesalahan yang fatal dengan globalisasi semua pintu dibuka! Padahal negara-negara lain termasuk Malaysia saja tidak begitu. Yang mereka buka adalah yang mereka sudah siap.


Membuka diri tanpa pernah menyusun kekuatan adalah suatu perbuatan yang sangat gegabah. Ditambah lagi dengan perekonomian kita yang dikondisikan terpuruk seperti sekarang ini, akibatnya semua yang kita punya dan miliki dengan mudah dikuasai oleh asing.

Kita bukan anti asing, tapi kita juga tak boleh menyerahkan segalanya pada pihak asing. Undang-Undang Dasar telah mengatur mengenai perekonomian kita dalam Pasal 33. Tidak ada satu pun ayat di sana yang mengindikasikan bahwa negara boleh menyerahkan perekonomian dan kekayaan alam kita pada pihak lain.


Nah yang terjadi sekarang justru sebaliknya, bahwa perusahaan asing tidak saja menguasai perdagangan tapi meluas dari hulu hingga hilir. Dan ini terjadi di hampir semua lini, dari kekayaan alam hingga pangan.

Bumi dan air dan kekayaan alam TIDAK LAGI dikuasai negara dan dikuras semua, juga BUKAN untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Hanya demi komisi, maka eksekutif, legislatif, dan yudikatif rela menyerahkan segalanya di bawah kekuasaan pihak asing. Pada gilirannya kini kita pun jadi kuli di negeri sendiri. Suatu hal yang pernah diwanti-wanti oleh Bung Karno agar jangan sampai terjadi.

Sejak tahun 1967, hampir tidak ada satu pun regulasi yang dibuat untuk menjaga kekayaan kita. Padahal tentang kekayaan alam Sukarno pernah berpesan, “Bila kita belum sanggup mengolahnya, biarkan di dalam tanah.” Dan akibat desukarnoisasi dampaknya luar biasa, contoh kekayaan alam Irian (Papua) dikeruk dari berbentuk gunung hingga berbentuk danau, namun penduduknya hingga kini tetap koteka-an. Sedih rasa ini.


Perusahaan Air Minum (PAM) pun sudah bukan lagi air minum karena tidak lagi bisa langsung diminum, merupakan suatu kemunduran dibanding ketika zaman penjajahan Belanda dahulu. Apakah kualitas air PAM sengaja diperburuk agar penjualan air kemasan menjadi laku? Tiadakah korelasi antara ketersediaan air PAM yang buruk dengan upaya penjualan air kemasan?

Belum tampak adil beradab, bijaksana, dan keadilan sosial. Ini yang perlu kita gugat sekarang, kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara untuk saling peduli.

Kecerdasan rakyat perlu segera ditingkatkan, mengingat 60% penduduk hanya lulus sekolah dasar, sebagaimana hal ini disampaikan oleh Sawiji dalam acara yang disiarkan oleh TVRI itu.

Namun tampak belum ada yang peduli akan hal ini, mengingat pendidikan adalah investasi jangka panjang sehingga dalam satu atau dua periode pemerintahan pasti belum menghasilkan apa-apa. Perlu minimal 15 tahun baru bisa mencapai sarjana, dan paling tidak perlu 2-5 tahun lagi produktivitasnya baru bisa terlihat.

“Pemimpin yang cerdas akan lahir dari pemilih yang cerdas.” demikian diingatkan oleh Sawiji.


23 Oktober 2011 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 05 Juli 2011

Pemerintah Bohong Soal Subsidi BBM

Sungguh membuka mata kita saat memirsa acara Economic Challenges pada tanggal 4 Juli 2011 di MetroTV yang menampilkan Kwik Kian Gie sebagai salah satu narasumber.


BBM Kita Tidak Disubsidi

Kwik mengatakan bahwa BBM kita tidak disubsidi, bahkan ia berani menantang untuk membuka forum agar para ekonom berdebat dengannya bila ada yang mengatakan bahwa harga BBM kita disubsidi oleh pemerintah.

Tampak kedua narasumber lain pun, Aviliani, Anggota Komite Ekonomi Nasional dan Ichsan Mojo, ekonom yang juga Ketua DPP Partai Demokrat, tidak ada yang membantah apa yang diungkapkan Kwik.

Sejak beberapa tahun lalu Kwik telah mengumpulkan data dan membuat analisis perhitungan tentang BBM, yang hasilnya adalah harga yang ditetapkan pemerintah telah berada di atas harga pokok produksi. Bahkan menurutnya bila dikurangkan dengan harga impor BBM yang dilakukan saat ini pun kita masih untung.

Sebagai negara penghasil minyak, wajar bila harga minyak yang dijual di dalam negeri lebih murah dari harga minyak dunia, dan tidak perlu pula menyamakan dengan harga minyak dunia.

Dia meminta pemerintah tidak melakukan kebohongan dengan menggunakan kata subsidi. Kwik tidak berkeberatan bila pemerintah menaikkan harga BBM, asal jangan menggunakan alasan mengurangi subsidi.

Jadi bila kata SUBSIDI yang digunakan maka itu sama artinya dengan pemerintah melakukan KEBOHONGAN PUBLIK.

Lebih baik pemerintah mengatakan butuh uang atau menurut Kwik, presiden katakan saja “Saya akan menaikkan harga BBM, Anda percaya saja sama saya karena Anda sudah memilih saya dan juga sudah memilih DPR yang sekarang”.


Jika Menteri Keuangan, Agus Martowardojo berteriak mengenai beban subsidi BBM yang akan memengaruhi APBN, maka perlu ada auditor, BPK, atau KPK untuk mengusut benar tidaknya ada beban subsidi, karena jangan-jangan ada tindak pidana korupsi juga di sana.

Di lain pihak, Pertamina dinilai tidak mampu mengelola suplai minyak sehingga terjadi kelangkaan di mana-mana. Perbedaan harga yang demikian tinggi mengakibatkan penyelundupan BBM juga keluar negeri.

Dari ungkapan ini bukankah tindakan yang paling tepat adalah mengganti pimpinan Pertamina dan mengusut tuntas pelaku penyelundupan BBM?

Harus dipastikan bahwa tidak ada tindak pidana korupsi di sana, karena bila ada korupsi, maka jumlahnya pasti akan sangat besar, bisa jauh lebih besar dari sekedar kasus Century, Gayus, atau Nazaruddin, yang tak kunjung tuntas pengusutannya.

Melihat di Brunei atau negara-negara lain penghasil minyak, harga minyak mereka banyak yang masih di bawah kita. Adakah penyelundupan minyak di sana? Pencegahan bisa dilakukan secara internal oleh Pertamina dan secara eksternal oleh aparat hukum. Bila pemerintah kita tidak mampu, maka belajarlah pada mereka bagaimana mencegah penyelundupan.

Adilkah bila beban akibat ketidakmampuan pemerintah mengelola uang dan aset negara ditanggung oleh masyarakat dengan menaikkan harga BBM?

Amanah Pasal 33 UUD RI pun menyatakan agar cabang produksi penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat.

05 Juli 2011 | samidirijono | arsitek |

Senin, 04 Juli 2011

Kepemilikan Asing

Sungguh menyentak hati membaca pernyataan Wakil Ketua Panitia Kerja DPR untuk RUU Rumah Susun, Muhidin M. Said, yang mengharapkan terobosan aturan kepemilikan asing atas rumah susun berupa hak pakai langsung selama 70 tahun atau pun HGB (Kompas, 1 Juli 2011 hlm. 18 _ RUU Rumah Susun “Kepemilikan Properti bagi Orang Asing Belum Tuntas”).


Setelah semua perusahaan-perusahaan besar kita dimiliki oleh orang asing, mulai dari sektor tambang, keuangan, teknologi, dan lainnya. Kini kepemilikan rumah pun hendak diberikan pada orang asing.

Di saat yang sama, masih banyak warga negara sendiri yang belum lagi memiliki rumah, atau pun terpaksa tinggal di tempat yang tidak layak huni dan tempat yang tidak tertata baik. Kawasan kumuh pun semakin luas sampai menempati berbagai lokasi hingga ke bantaran kali yang bukan diperuntukkan bagi tempat tinggal.


Kepemilikan rumah oleh orang asing lebih dimaksudkan untuk memudahkan mereka yang bekerja di sini untuk tinggal sementara selama mereka masih bekerja di sini. Kalau mereka merasa nikmat dan ingin selamanya tinggal di sini ada baiknya menjadi WNI.

Peraturan Pemerintah No. 41/1996 yang membolehkan WNA memiliki satu unit rumah tinggal dengan status hak pakai selama 25 tahun dan dapat diperpanjang pun sebetulnya sudah baik.

Logikanya, bila dihitung usia kerja mereka sekitar 25-30 tahun ditambahkan dengan 25 tahun saja berarti sudah mencapai usia 50-55 tahun. Itu berarti sudah memasuki usia pensiun! Kalau sampai 70 tahun, berarti dia akan berusia 95 atau 100 tahun! Coba pikir, masih perlukah mereka tinggal di sini? Sudahkah pula terpikirkan berapa kekuatan bangunan kita?

Jika wakil rakyat kita memperjuangkan kepentingan asing, pertanyaan berikut yang muncul. Apa yang dijanjikannya saat pemilihan umum dahulu? Mungkinkah dia dipilih rakyat untuk mewakilinya bila hal itu disampaikan saat kampanye pemilu? Apakah orang asing itu penyandang dananya saat pemilu? Atau ia dijanjikan komisi bila klausul itu menjadi bagian dari undang-undang? Atau dia begitu lugu, tidak tahu bahwa posisinya dimanfaatkan untuk kepentingan asing? Dan banyak lagi pertanyaan yang bisa muncul.

Tapi setidaknya ini bisa jadi pembelajaran buat Anda (masyarakat) agar dicatat apa, kapan, dan di mana setiap janji yang diucapkan atau amanat yang Anda serahkan, baik itu untuk calon pemimpin mau pun untuk calon anggota DPR/DPD.

Tulis apa yang dikemukakan dan dijanjikan setiap calon yang akan Anda pilih, baca kembali catatan itu bila ia terpilih dan sedang menjalankan fungsi serta tugasnya.

04 Juli 2011 | samidirijono | arsitek |

Sabtu, 28 Mei 2011

Arsitektur dan Relasi Kekuasaan

Apakah arsitektur telah diperalat oleh kekuasaan atau kekuasaan dimanfaatkan untuk melahirkan ide-ide arsitektur?

Arsitektur ada hubungannya dengan kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dipungkiri, demikian diungkap Rizal Syarifuddin saat memandu diskusi Arsitektur dan Relasi Kekuasaan pada tanggal 27 Mei 2011.

Diskusi ini bila dikaitkan dengan keputusan penghentian pembangunan gedung DPR atau wacana pemindahan ibu kota, menurutnya bisa jadi salah satu contoh kasus menarik berkenaan dengan tema diskusi yang menampilkan narasumber Taufik Rahzen dan Sutrisno Murtiyoso.

Masa kini adalah kegiatan sosial politik yang tengah berlangsung, sehingga belum cukup jelas di mata Sutrisno Murtiyoso, apalagi pengaruh kepentingan dan sikap kita masih bergumul di dalamnya. Karena itu dia hanya mengupas dari sisi pengetahuannya di sejarah arsitektur.

Dalam sejarah kita, tiap kali terjadi pergantian kekuasaan maka ibu kota pun pindah. Ibu kota selalu mengikuti tempat tinggal rajanya. Hal ini berbeda dengan pelabuhan yang tidak semudah itu berpindah.

Malaka pada awal abad ke-15 tercatat sebagai kota metropolis, lalu Banten dan Makassar yang merupakan kota metropolis internasional.

Jalinan sistem kekuasaan dan arsitektur kota kita pada masa lalu itu membentuk tradisi arsitektur kota yang berbeda dengan yang kita alami sekarang. Pergantian kekuasaan (baca: penjajahan) membuat sejarah terputus.

Kota-kota kita sekarang lahir di masa modern dan berbasis perniagaan yang mengikuti tradisi Eropa abad pertengahan. Rata-rata berusia di bawah 100 tahun sehingga 'tradisi' berkota kita belum cukup terbakukan. Kita di-'paksa' hidup di kota modern yang tidak kita kenal, kota binaan yang kita terima tanpa kita minta. Jadi seperti kita disuruh menerima kloset yang bukan tradisi kita—tradisi kita adalah jongkok—maka akhirnya kita pun tetap jongkok di kloset duduk.

Taufik Rahzen membagi siklus sejarah kita ke dalam 500 tahunan, 30 tahunan, dan siklus kecil 7 tahunan. Diawali dari tahun 535 yang merupakan letusan kedua Krakatau, kemudian tahun 1011 maha pralaya di Kediri, Udayana wafat. Pada tahun 1511 Malaka runtuh.

Dan menurutnya tahun 2011 ini seirama dengan pergantian zaman dari rama (brahmana), raka (satria), hingga tiba zaman sudra (rakyat), pertanda berakhir masa arsitektur yang sekarang, berganti ke arsitektur rakyat—arsitektur perumahan rakyat.

Dalam siklus 30 tahunan bisa dilihat berbagai peristiwa. Tahun 1908 ditandai dengan kebangkitan nasional, tahun 1938, tahun 1968 dicanangkannya Repelita (rencana pembangunan lima tahun) pertama, hingga tahun 1998 Sidang Istimewa MPR. Dan kita tunggu di tahun 2028 mendatang akan ada apa?

Sedangkan di siklus 7 tahunan setelah 1998 dan 2005, akan ada apa di tahun 2012 nanti?

Mengenai ibu kota pun Taufik sempat mengamati rencana Sukarno memindahkan ibu kota ke Palangkaraya. Menurutnya Sukarno tidak betul-betul ingin memindahkan ibu kota ke sana, itu hanya siasat untuk mengambil Serawak, Sabah, dan Brunei semata. Sedangkan isu posisi Palangkaraya ada di tengah Indonesia itu hanya untuk pengalihan saja.

Dari apa yang diungkap oleh kedua narasumber ini ada benang merah yang sebetulnya bisa ditarik.

Sejarah mencatat bahwa dahulu pun ada pembedaan antara ibu kota dengan kota niaga/perdagangan, di mana daerah pemerintahan dipilih di tempat yang relatif lebih tenang sesuai dengan fungsinya yang butuh ketenangan. Jadi tidak seperti sekarang, ibu kota sebagai pusat pemerintahan bergabung dengan pusat perdagangan di Jakarta.

Pusat pemerintahan cenderung lebih mudah dipindah dibanding pusat perdagangan. Namun karena sejarah juga mencatat perpindahan pusat pemerintahan terkait dengan pergantian kekuasaan, maka kini itu pun menjadi beban kekhawatiran (bila tak boleh disebut ketakutan) bagi beberapa kalangan bila ibu kota kita dipindahkanapalagi ke luar pulau Jawadikhawatirkan Indonesia akan bubar.

Tetap di Jawa yang sudah sumpek dan penuh sesak, tampak bukan pilihan terbaik. Meski mungkin tidak harus di Palangkaraya, tapi jika ditinjau dari beberapa faktor, maka alternatif terbaik masih tetap Kalimantan Tengah.

Waspada boleh, tapi perlu diingat, dengan sistem pemerintahan yang tidak lagi berupa kerajaan, dan telah pula mengalami beberapa kali pergantian kekuasaan maupun sistem bernegara, pada kenyataannya Indonesia masih tetap berlangsung.

Dan apabila pergantian zaman ke sudra itu benar, bukankah itu bisa juga pertanda bahwa pusat pemerintahan harus pula berpindah? Atau mungkinkah goncangan yang kerap mendera ini memang akibat posisi ibu kota yang ada sekarang?

Penafsiran Taufik Rahzen tentang ide Palangkaraya dari Sukarno pun bisa jadi keliru, karena bukan tidak mungkin yang dipikirkan Bung Karno justru sebaliknya. Keinginannya memindahkan ibu kota itulah yang salah satu penyebab dia ingin menyatukan ketiga daerah tadi ke pangkuan ibu pertiwi. Faktor keamanan ibu kota bisa jadi salah satu pertimbangannya.

Mengikuti utak-atik-gatuk dari Taufik bisa saja itu pertanda di tahun 2011 dimulainya pencanangan dan diskusi intensif pemindahan ibu kota, di tahun 2012 dimulainya perancangan yang dilanjut dengan pembangunan, di tahun 2028 peresmian pusat pemerintahan di ibu kota baru.

Gotong-royong yang menurut Sukarno adalah inti sari Pancasila, saatnya kita bangun kembali dan amalkan bersama sebagai satu bangsa yang besar.


28 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Rabu, 18 Mei 2011

Apa Itu Desain and Build?

Seperti kita ketahui, di Indonesia, masyarakat kita yang berhubungan dengan dunia konstruksi sering menggunakan istilah Desain and Build, namun dengan pengertian dan pemahaman yang salah.

Sungguh menarik mengikuti diskusi dan penjelasan tentang 'Desain and Build' pada tanggal 9 Mei 2011 di mailing list Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang disampaikan oleh dua orang arsitek, Dian Kusumaningtyas dan Didi Haryadi. Berikut ini petikan dari diskusi tentang itu.

Design-Build sudah lama ada dan legal, demikian pernyataan yang ditulis oleh Dian Kusumaningtyas.

Dia sudah mengerjakan proyek-proyek Design-Build (DB) dari tahun 90-an. Menurutnya kontrak-kontrak proyek Worldbank, ADB, dan kerja sama asing swasta dengan pemerintah sudah lama mengerjakan ini di mana-mana.

AIA (Institusi Arsitek Amerika) punya dokumen kontrak untuk sistem Design-Build. Menurut Dian kalau menggunakan dokumen kontrak DB-nya AIA jelas sistemnya. FIDIC juga punya sistem kontrak DB (Orange Book).

Tapi itu semua untuk proyek yang tingkat kesulitannya besar. Kalau untuk rumah tinggal tentunya harus menggunakan sistem kontrak DB yang lebih sederhana.

Jadi menurutnya kalau soal DB-nya tidak ada yang haram. Itu hanya soal pengaturan tugas dan tanggung jawabnya saja.

Kalau yang ditanya sistem mana yang lebih baik antara DB dan tidak, tentunya tergantung situasi dan kondisi. Tidak gampang memutuskan mana yang lebih baik.

Kalau ada pihak-pihak yang ngawur (arsitek, struktur, mekanikal, elektrikal, dll - sebagai konsultan) atau kontraktornya (dalam satu kasus), tidak berarti suatu sistem akan menjadi jaminan mutu dalam semua situasi.

Menurut Dian, apa pun sistem yang dipakai, semuanya ada baik dan buruknya.

Ikatan Arsitek Indonesia memang belum mengatur tentang Design-Build termasuk untuk kontrak dan pelaksanaannya.

Dan ingat, bukan hanya AIA yang menerbitkan contract document berbasis DB, ada RIBA, FIDIC, dan banyak institusi arsitek lainnya. Semuanya ditujukan untuk mengatur praktik arsitek yang sesuai dengan Code of Ethics atau Code of Professional Conduct yang dianut.

Permasalahannya menurut Dian Kusumaningtyas, ada kesalahan persepsi atau mengartikan dari kalimat Design-Build. Dulu juga dikenal sebagai D&C (Design and Construct).

Memang di sini sering digunakan atau dilakukan penerjemahan yang mengakibatkan kesalahan persepsi. Contoh yang baru-baru ini mengagetkan dia adalah Gedung Hijau—diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris 'green building'.

Jadi, arti Design-Build itu apa? Arti yang paling 'sederhana' dari design dan build, Design dari Designer dan Build dari Builder. Jadi maksudnya paket kerja sama antara Designer (arsitek) dan Builder (kontraktor).

Dian menjelaskan lebih jauh, yang banyak terjadi di proyek sederhana adalah I am Designer and I am Contractor (saya desainer dan saya juga kontraktornya). Ini salah!

Yang diizinkan dalam institusi-institusi seperti AIA, RIBA, dan lainnya itu adalah I am a Designer—I am working together to produce one package of submission—with a Contractor (saya desainer—saya bekerja sama untuk menghasilkan satu paket penawaran—dengan kontraktor).

Tujuan DB yang sederhana adalah:
  1. Menghemat waktu. Terutama waktu dalam hal melakukan gambar-gambar detail sampai sempurna. Umumnya kalau Desainer melakukan hal ini sering terjadi bongkar pasang gambar karena kurang menguasai detail yang applicable di lapangan. Builder umumnya lebih menguasai detail-detail ini sehingga diharapkan dapat cepat dilaksanakan;
  2. Menghemat waktu karena proses produksi detail ditangani langsung oleh Builder;
  3. Menghemat waktu pelaksanaan karena proses keputusan di lapangan dilakukan sepenuhnya (90-95%) oleh Builder. Desainer umumnya hanya mengambil keputusan apabila klien meminta perubahan atau ada kasus-kasus lainnya yang memerlukan keputusan Arsitek.

Masalah terbesar di DB di seluruh dunia adalah Kualitas. Biasanya kompromi-kompromi yang dilakukan Builder selalu mengakibatkan Kualitas yang diinginkan oleh Arsitek tidak tercapai. Dengan catatan “Arsiteknya TAHU kualitas yang diinginkannya dan TAHU bagaimana caranya untuk mencapai kualitas itu”. Kalau tidak TAHU... Sebaiknya “serahkan kepada ahlinya” daripada semakin banyak omong dan hanya menciptakan blunder yang tidak perlu.

"Jadi jangan menggunakan istilah DB kalau tidak mengerti maknanya dan implikasinya terhadap bentuk atau format kontrak," tandas Dian.

Didi Haryadi, Ketua Badan Keprofesian IAI menambahkan dengan tambahan catatan bahwa masing-masing pelaku/peran bertindak sesuai kompetensinya.

Didi sependapat dengan Dian dan menambahkan penekanan pada 3 butir tujuan DB, menurutnya:
  1. Menghemat waktu dalam hal di sinilah peranan proses shop drawing oleh builder.
  2. Setuju proses produksi detail, dengan catatan bahwa si builder (pelaksana) harus kompeten.
  3. Keputusan di lapangan sebaiknya diartikan sebagai keputusan yang diambil di lapangan (pada masa/saat konstruksi):
  • keputusan msalah-masalah lapangan di lapangan, dan
  • keputusan masalah-masalah desain di lapangan.

"Persoalan TAHU atau tidak tahu, ya yang mengambil keputusan harus tahu, kalau tidak tahu jangan merasa tahu lalu mengambil keputusan (kode etik arsitek menyuarakan demikian). Bukan kalau dilihat arsitek (designer)-nya tidak tahu terus keputusan dan tanggung jawabnya diambil alih si constructor / builder-nya atau pemeran lain." demikian ditekankan oleh Didi.

Dari apa yang disampaikan oleh mereka berdua, tampaknya menjadi tugas kita bersama untuk meluruskan persepsi yang telah salah selama ini tentang keberadaan istilah Design and Build kepada masyarakat, agar ke depan kita bisa berangkat dengan pengertian yang sama dan betul.

Saya arsiteknya dan saya juga kontraktornya memang tidak diakomodasi oleh IAI, mengingat itu akan menimbulkan konflik kepentingan. Arsitek di dalam mukadimah buku Pedoman Hubungan Kerja Antara Arsitek dengan Pengguna Jasa, antara lain disebutkan sebagai ahli yang terpercaya dalam mendampingi dan/atau mewakili pengguna jasa atau pemilik.

Mengingat dalam merancang dan membangun (DB) ternyata masing-masing punya tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berbeda meski tujuan akhirnya sama, yakni mewujudkan karya dan menghadirkan peradaban.

Maka menjadi pekerjaan rumah bagi IAI untuk peduli dan membuatkan aturan tentang DB bagi arsitek, agar semuanya menjadi jelas dan dapat berjalan sesuai aturan.

Pengertian dan pemahaman yang salah bisa dihindari dengan aturan yang jelas.


17 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Sabtu, 14 Mei 2011

Rupiah Oh Rupiah

Tentunya banyak orang yang tidak mengerti atau semakin tak mengerti apa yang terjadi dengan negeri ini.

Banyak orang pintar setingkat profesor doktor ada di negeri ini, tapi menjadi aneh ketika hampir tak terdengar mereka bicara tentang manfaat dan keuntungan penguatan nilai rupiah.

Apakah tak banyak orang yang punya pendapat seperti Bambang PS Brojonegoro atau media yang memang tak hendak mengangkatnya?

Bank Indonesia atau pun pemerintah tampaknya seperti lebih suka rupiah senantiasa dalam keadaan terpuruk. Berulang kali terdengar ucapan yang menyatakan berbahaya jika rupiah terlalu cepat menguat. Aneh rasa mendengar ini!

Opini penguatan rupiah berbahaya justru yang sering didengung-dengungkan. Ada apa sebetulnya? Kenapa seperti tiada keinginan mendorong penguatan rupiah?

Ketika mata uang dolar terpuruk di mana-mana. Indonesia malah berusaha menahan laju kekuatan rupiah. Aneh!

Ucapan Bambang PS Brojonegoro, Pelaksana Tugas Kepala Badan dan Kebijakan Fiskal, bahwa "Setiap Rp100 penguatan akan menghemat pengeluaran Rp400 miliar" seperti tiada artinya.

Padahal setiap angka penguatan sangat besar manfaatnya untuk pembayaran utang luar negeri kita.

Ada korupsikah dibalik ini semua? Karena bukan tidak mungkin semakin banyak utang akan semakin banyak komisi yang di dapat.

Alasan membahayakan ekspor selalu dikedepankan. Padahal bagi para pedagang hal ini bisa tidak terlalu bermasalah karena ini hanya akan berdampak untuk jangka pendek. Mereka akan dapat segera menyesuaikan terhadap tiap penguatan atau pun pelemahan yang terjadi.

Bagi spekulan mungkin saja bisa sedikit mengganggu. tapi yang pasti setiap penguatan rupiah akan sangat mengganggu mereka para penyimpan uang dalam bentuk mata uang asing.

Contoh, Presiden SBY yang entah untuk keperluan apa hingga punya simpanan lebih dari 200 ribu dolar, bisa jadi ia belum tentu rela jika nilai simpanannya menjadi berkurang akibat penguatan rupiah terhadap dolar.

Di lain pihak penguatan rupiah sebagaimana diungkap oleh Bambang tadi, tentunya bisa mendorong kita untuk segera mengurangi utang negara, bahkan melunasinya.

Memang diperlukan jiwa nasionalisme dalam hal ini sehingga bisa peduli mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Di sanubari rakyat kecil nasionalisme itu tampaknya masih banyak dimiliki. Tinggal bagaimana dengan segolongan lain, pemilik harta, yang perlu dibangkitkan rasa nasionalismenya.

Hanya ada dua pilihan, bergerak menuju keadaan yang lebih baik atau terpuruk dan hilang tak berbekas.

Berlari menuju cita-cita proklamasi.

11 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 08 Mei 2011

Indonesia yang Tidak Mengindonesia?

Ada perasaan sangat bangga membaca judul dan kalimat pertama di harian Kompas 7 Mei 2011 bahwa Universitas Indonesia mengenalkan perpustakaan yang diklaim sebagai terbesar di dunia.

Namun apabila berita itu benar, sungguh sangat sedih tatkala membaca kalimat selanjutnya "Perpustakaan dengan nama The Crystal Knowlegde...". Mengingat, universitas yang menyandang nama bangsa ini menamakan gedungnya dengan bahasa asing!


Mudah-mudahan bukan karena arsitektur gedung ini yang "konon kabarnya" mirip dengan salah satu desain gedung yang ada di negara lain maka mungkin tak diperlukan penggunaan bahasa Indonesia.

Atau, sedemikian jelek dan burukkah bahasa Indonesia bagi kita sehingga sebuah universitas yang menyandang nama bangsa dan negara pun seakan melupakan jati dirinya?

Tiadakah padanan kata itu dalam bahasa Indonesia? Malas mencari? Atau bahasa Indonesia memang sungguh sangat memalukan, kolot, ketinggalan zaman?!

Benarkah tiada lagi sisa makna arti sumpah pemuda di mata yang disebut sebagai kaum intelektual ini?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan secara serempak dan bertalu-talu di kepala.

Kalau kita saja sudah tidak bangga menggunakan bahasa persatuan kita sendiri, perlukah orang lain juga memperhatikan bahasa kita?

Yang acap terjadi adalah banyak yang sangat paham bahkan meng-kritisi terhadap penggunaan kaidah atau tata bahasa asing yang salah. Namun entah disengaja atau tidak, di antara mereka inilah yang justru terkesan tak peduli dengan penggunaan kaidah dan tata bahasa Indonesia.

Padahal satu-satunya alat yang masih mempersatukan kita sebagai bangsa yang satu hingga saat ini adalah bahasa Indonesia

Sungguh menyedihkan nasib bangsa ini. Di tengah keterpurukan dan kegalauan seperti saat ini tampaknya kian sedikit rakyatnya yang peduli untuk membangun kembali kepercayaan dan kemampuan diri kita.

Mungkin sudah saatnya kita bubarkan bangsa ini bila kita tak bisa lekas sadar akan makna berbangsa dan bernegara di bumi ini.

Bukan tidak boleh kita menggunakan bahasa asing, bahkan sangatlah baik bila kita mampu menguasai beberapa asing dengan baik. Namun penempatan dan penggunaannya haruslah di tempat tepat.

Mari kita junjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

08 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Kamis, 05 Mei 2011

Soejoedi di Mata Arsitek dan Sahabatnya

Saat ini tak banyak orang yang mengenal Soejoedi Wirjoatmodjo, termasuk mereka yang berkecimpung di bidang arsitektur.

Masyarakat lebih mengenal keindahan gedung DPR/MPR yang bentuknya unik dan tak lekang oleh zaman itu, dibanding sang arsiteknya, yakni Soejoedi (baca: Suyudi).


Saat hadir di acara peluncuran buku Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi yang ditulis oleh Budi A. Sukada, IAI, banyak terungkap sisi lain dari Soejoedi yang mungkin kita tidak ketahui sebelum ini.

Acara dipandu oleh Sutrisno Murtiyoso pada 28 April 2011 di Jakarta ini, diawali oleh sang penulis dengan mengungkapkan sejauh mana objektifitas dia dalam membedah karya Soejoedi ini melalui tulisannya.

Budi Sukada dalam penulisannya menggunakan metode yang biasa digunakan oleh Charles Jenks. Menurutnya, Charles Jenks dalam melihat karya melalui dua cara. Pertama, karya yang ditiru dan kedua, menyempurnakan diri.

Selanjutnya Budi Sukada di dalam membedah karya Arsitek Soejoedi menggunakan apa yang disebutnya dengan "teori dorongan estetik".

Ulasan dimulai oleh Prof. Slamet Wirasonjaya, yang bercerita bahwa di dalam berkarya arsitek Soejoedi dapat memaksa konstruksi baja untuk mengikuti bentuk bangunan yang dibuatnya. Sebagai arsitek, Soejoedi berpendapat bahwa konstruksi harus mengikuti bentuk, bukan bentuk mengikuti konstruksi.

Menurut Prof. Slamet, saat ini sebutan ARSITEK telah tenggelam. Arsitek tidak lagi dikenal sebagaimana di masa lalu. Masyarakat sekarang lebih mengenal istilah konsultan, bukan lagi arsitek. Pertanyaan yang sering terdengar saat ini "siapa konsultannya?" bukan "siapa arsiteknya?".

Hal ini diperparah oleh UUJK (Undang-Undang Jasa Konstruksi) yang ikut pula menghancurkan arsitek. UUJK menyebut konsultan, bukan ARSITEK, sebagaimana hal ini diungkap oleh Ridwan Kurnia, mantan ketua IAI daerah Jawa Barat.

Mereka berdua menekankan agar kita harus mengembalikan posisi arsitek ke tempatnya semula, bahwa yang merancang bangunan itu ARSITEK bukan konsultan.

Yuswadi Saliya, IAI berpendapat, bahwa masa kreatif Soejoedi sangat singkat, dia hanya sempat berkarya selama 20 tahun, dia meninggal di usia yang masih sangat produktif.

Menurut Yuswadi dengan membaca buku Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi masih sulit untuk menempatkan Soejoedi, apakah dia arsitek modern di Indonesia atau arsitek Indonesia modern? Karena di buku itu tidak terungkap sisi Soejoedinya sendiri siapa?

Suprayogi adalah orang dibalik sukses Soejoedi, dialah yang membawa Sutami dan Soejoedi. Hal ini diungkap oleh Lutfi, salah seorang sahabat Soejoedi.

Sebagai salah seorang arsitek yang beruntung karena pernah menerima resep merancang dari Soejoedi, Hoemar menceritakan bahwa menurut Soejoedi untuk mendapatkan rancangan yang baik maka ukuran yang digunakan dalam mendesain itu harus selalu bisa dibagi tiga. Itulah yang menurutnya mengapa karya-karya Soejoedi sangatlah enak untuk dipandang.

Arsitek Harisanto mengungkapkan pesan Soejoedi agar kita tidak perlu takut atau minder bila berhadapan dengan orang asing, karena menurutnya kita ini setara dengan mereka.

Vila Arsyad menurut Arsitek Han Awal adalah karya terbaik Soejoedi. Di gedung ASEAN, Soejoedi membuat berjenjang-jenjang dengan teras-teras yang merefleksikan sawah. Di PGI (Pusat Grafika Indonesia) dahulu, pendopo diterjemahkan dengan bahasa internasional. Soejoedi pandai bermanipulasi dengan bidang yang panjang.

Prof. Josef Prijotomo baru mengenal Soejoedi dari buku Gedung MPR/DPR RI. Josef mengamati, bahwa ada dua tipe orang yang kembali dari belajar di mancanegara. Yang pertama, melokalkan yang global dan yang kedua, mengglobalkan yang lokal.

Maksud melokalkan yang global adalah mereka yang menimba pengetahuan di luar kemudian menerapkan yang dari luar itu ke dalam sini. Sedangkan mengglobalkan yang lokal adalah mereka yang menimba pengetahuan untuk menginternasionalkan Indonesia.

Soejoedi adalah termasuk tipe yang kedua, di mana dia bisa mengangkat nilai-nilai tradisi menggunakan ilmu modern untuk menginternasionalkan Indonesia.

Pengaruh Soejoedi di Jawa Tengah atau Semarang pada khususnya sangat besar dan itu bisa ditelusuri hingga kini. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Totok Rusmanto.

Prof. Bagoes Wiryomartono berpendapat bahwa Soejoedi sebagai original thinker tidak mungkin dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Oleh Soejoedi justru dengan semangat modernism diharapkan membongkar agar tidak ada alasan untuk merasa inferior.

Soejoedi lebih bisa mengungkap esensi dasar tradisi kita dibanding Thomas Karsten atau pun arsitek-arsitek kolonialism lainnya.

Soejoedi seorang arsitek yang memiliki integritas dan dedikasi pada pekerjaan. Dia hidup sebagai arsitek dan menghidupi arsitektur.

Di sisi lain, Prof. Eko Budihardjo mengingatkan kita untuk bisa membawa semangat Soejoedi dalam kehidupan di masa kini, agar kita tidak mudah melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan yang telah dibuat.

Ia mencontohkan ruang terbuka hijau di Jakarta yang saat ini sudah melanggar undang-undang karena sudah berada di bawah 20 %, jangan lagi dikurangi dengan lebih mengutamakan pembangunan gedung, apalagi di daerah hijau seperti di area MPR/DPR.

Pesan Prof. Eko, ruang hijau kota sekarang harusnya tidak dikurangi tapi justru kita tambah.

Mari hadirkan peradaban melalui karya arsitektur.

05 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Kamis, 28 April 2011

Arsitektur Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Demikian judul diskusi yang digelar oleh Urbanus pada tanggal 27 April 2011.

Menarik memang mengikuti paparan dari arsitek Prof. Josef Prijotomo khususnya dan budayawan Taufik Rahzen yang dipandu oleh Rizal Syarifuddin.

Dalam pengantar awal dijelaskan Rizal, bahwa istilah karakter bangsa yang dipinjam dari antropologi selalu mengandaikan sebuah perubahan yang bersifat evolusi, meski demikian bukan berarti kita tidak bisa menandai karakter suatu bangsa.

Karya arsitektur merupakan karya kolektif yang tidak hanya melibatkan arsitek sebagai perancang tapi juga pemberi tugas, pengguna, penyedia bahan, media massa, dan sebagainya. Dan itu menjadi premis awal bahwa karya arsitektur bisa dijadikan alat untuk melihat suatu bangsa.

Prof. Josef membuka cakrawala peserta dengan kalimat bernada miris, "Matinya arsitektur tradisional Indonesia" dan dia pun mengembalikan arsitektur tradisional ke ranah arkeologi dan budaya.

Namun, matinya arsitektur tradisional Indonesia juga dibarengi dengan lahirnya arsitektur nusantara.

Mengingat bangunan kita sejak dahulu sudah sustainable, maka kata-kata genius loci atau kearifan lokal menurutnya adalah sebuah istilah yang justru dibuat untuk merendahkan kita. Yang betul itu cerlangtara (kecemerlangan nusantara) bukan kearifan lokal!

Adakah arsitektur tradisional Amerika atau Eropa? Lantas kenapa arsitektur kita yang pada umumnya terbuat dari kayu itu selalu disebut arsitektur tradisional?

Kekakuan beton tentu berbeda dengan kelenturan kayu. Perbedaan arsitektur kita dengan mereka harusnya menyadarkan kita untuk menggali dan mengembangkan arsitektur kita sendiri yang disebutnya sebagai arsitektur nusantara.

Berangkat dari situ maka kita harus berani menyejajarkan arsitektur kita dengan arsitektur asing!

Perbedaan yang mendasar yaitu arsitektur nusantara bukanlah tempat untuk berlindung tapi tempat untuk bernaung.

Menurut Prof. Josef, apa yang dipelajari di mata kuliah arsitektur tentang ruang pun kurang tepat. Yang benar bukan ruang tapi ruangan. RUANGAN berkait dengan rupa dan bentuk, sedangkan RUANG hanya ada di alam pikir kita.

Rupa dan bentuk itulah yang dapat kita cari dan kembangkan sebagai karakter bangsa yang meng-internasional.

Keberanian Presiden Sukarno menggunakan putra-putri Indonesia sendiri dalam membangun gedung-gedung seperti Monas, masjid Istiqlal, gedung Conefo (sekarang MPR/DPR) —di masa awal setelah kemerdekaan kita raih—adalah demi mengangkat harkat dan harga diri sebagai bangsa.

Baik arsitek, ahli struktur, mau pun para pekerja dipercayakan penuh kepada rakyatnya sendiri.

Sukarno membakar semangat rakyat dengan karya-karya arsitektur yang hebat dan tidak lekang oleh zaman. Kata-katanya bahwa kita jangan hanya menjadi bangsa tempe, dibuktikan dengan keberhasilan kita membangun gedung-gedung yang megah karya bangsa sendiri.

Taufik Rahzen menjelaskan bahwa 1000 tahun yang lalu di masa Raja Udayana, tepatnya pada tahun 1011 kita pun telah punya seorang arsitek, yakni Empu Kuturan.

Dialah yang diyakini mengembangkan mengenai skala dan niskala yang digunakan dalam arsitektur Bali, atau yang orang barat sekarang sebut dengan istilah explicate dan implicate, yang juga bisa dimaknai sebagai ruangan dan ruang.

Taufik mengamati bahwa arsitek kita sekarang terlalu sibuk dengan aspek estetik sehingga lupa dengan karakter ruangan yang dapat digunakan untuk menggali karakter bangsa yang sesungguhnya.

Kesadaran sebuah bangsa dimunculkan oleh karya arsitekturnya.

27 April 2011 | samidirijono | arsitek |

Kamis, 20 Januari 2011

Merombak Ekonomi, Hukum, dan Pendidikan

Ekonomi (baca: materi) sebagai panglima yang dibangun rezim Suharto telah mencapai kejayaannya.

Pemujaan pada materi (uang) disadari atau tidak, kini telah merasuk ke sumsum tulang, apalagi ketika kondisi negeri dibiarkan dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.

Mata uang dolar sebagai rujukan yang dibiarkan tetap tinggi sudah menandakan kita siap menjual semua kekayaan negeri ini kepada orang asing dengan harga murah. Kenapa penguatan rupiah selalu dianggap membahayakan stabilitas ekonomi?

Pertanyaan yang sederhana ini mungkin bisa membuka mata kita, "Untuk apa seorang presiden sampai menyimpan hingga ratusan ribu dolar?"

Boleh disimpulkan bahwa memang tidak ada keinginan untuk menguatkan rupiah. Kapital telah menguasai negeri ini. Ibu pertiwi pun berlinang air mata. Prediksi Sukarno akan ada neokolonialisme dan imperialisme modern kini telah terjadi dan bangsa ini pun kembali menjadi bangsa kuli.

Hukum di negeri ini pun sudah porak-poranda. Semua bisa diatur oleh uang. Uang bisa menciptakan kekuasaan dan kekuasaan bisa dengan mudah mengatur hukum.

Biaya pendidikan yang semakin menjulang tinggi membuat rakyat tak bisa sekolah, di lain pihak kualitas pendididikan pun cendrung menurun. Rakyat pun menjadi bodoh sehingga mudah diadu-domba, dibohongi, dan dibodohi. Menjadi minder dan takut mengambil sikap, apalagi terhadap orang asing. Bangsa ini pun kembali menjadi bangsa kuli. Kuli di negeri sendiri!

Karena itu pendidikan harus diutamakan, akhlak serta budi pekerti harus ditanamkan dan dicontohkan sebagai teladan, sebagaimana nenek moyang yang lebih mengedepankan gotong royong dibandingkan materi. Agar harkat dan harga diri sebagai bangsa tumbuh bersemi.

Menempatkan orang-orang muda yang jujur, bersih, dan berani sebagai pemimpin di bidang hukum. Menempatkan generasi muda--yang relatif bersih--yang berani memimpin penegakan hukum, supaya berani memutus rantai mafia hukum dan peradilan. Bila perlu di seluruh bidang hukum untuk jangka minimal satu dekade, usia pensiun diturunkan menjadi 50 tahun.

Perekonomian harus disusun ulang sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh negara dan harus dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Saat mulai memutar haluan negara ke arah cita-cita kemerdekaan harus diwujudkan. Mari menuju masyarakat adil makmur.

18 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 18 Januari 2011

Pelajaran untuk Rakyat

Sedih rasa melihat kondisi negara yang tak kunjung membaik. Bahkan kecenderungan dekadensi moral semakin meninggi khususnya di kalangan pejabat dan aparat pemerintah, serta mereka yang mempunyai hubungan dengannya.

Hal ini terjadi mulai dari tingkat yang tertinggi hingga yang terendah. Apakah ini berarti bahwa pimpinan sebagai panutan telah diteladani (diterapkan) dengan baik?

Pencitraan diri dengan kebohongan sudah semakin telanjang. Janji-janji pun tinggallah janji.

Jangan berjanji bila tak sanggup menepatinya. Janji itu terikat waktu. Janji yang tak bisa ditepati akan menjadi utang yang tak akan bisa terbayar.

Sangat tidak berlebihan jika para pemuka agama pun berkumpul dan bersuara mengingatkan kita semua akan kondisi yang ada. Hal ini bisa terjadi karena rakyat dibiarkan terus bodoh dengan kualitas pendidikan yang buruk.

Kekurangcermatan dalam membaca peristiwa terhadap seseorang yang telah dipecat (baca: tidak dipakai) oleh dua presiden malah dipilih untuk dijadikan presiden, tampak sebagai sesuatu pelajaran untuk kita lebih berhati-hati saat memilih pimpinan. Jadikan pengalaman pahit ini sebagai pelajaran bila hendak menentukan sesuatu.

Perubahan! Itulah yang kita butuhkan sekarang.

Bila yang tua sudah tak bisa lagi diharapkan maka sudah tiba masa bagi yang muda untuk memimpin negeri ini.

18 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 09 Januari 2011

Ternyata

Beberapa waktu lalu, masuk surat elektronik di kotak pesan. Sering juga mendapat surel sarat pesan seperti ini yang tak juga kita tahu dari siapa bermula.

Tapi kali ini isinya cukup menyentuh serta menggugah perasan dan kesombongan kita. Ada beberapa hal yang sering terdengar dan ada pula hal baru yang mengusik hati.

SAYA PIKIR...
  • Saya pikir, hidup itu harus banyak meminta ~ ternyata....harus banyak memberi.
  • Saya pikir, sayalah orang yang paling hebat ~ ternyata....ada langit di atas langit.
  • Saya pikir, kegagalan itu final ~ ternyata....hanya sukses yang tertunda.
  • Saya pikir, sukses itu harus kerja keras ~ ternyata....kerja pintar.
  • Saya pikir, kunci Surga ada di langit ~ ternyata....ada di hatiku.
  • Saya pikir, makhluk yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling pintar, atau yang paling kuat ~ ternyata....yang paling cepat merespon perubahan.
  • Saya pikir, keberhasilan itu karena keturunan ~ ternyata....karena ketekunan.
  • Saya pikir, kecantikan luar yang paling menarik ~ ternyata....inner beauty yang lebih menawan.
  • Saya pikir, kebahagiaan itu ketika menengok ke atas ~ ternyata....ketika melihat ke bawah.
  • Saya pikir, usia manusia itu diukur dari bulan dan tahun ~ ternyata....dihitung dari apa yang telah dilakukannya terhadap orang lain.
  • Saya pikir, yang paling berharga itu uang dan emas permata ~ ternyata....yang paling mahal itu KESEHATAN dan NAMA BAIK.

Tentu kita masing-masing punya pengalaman yang tak sama, dan itulah akhirnya yang membentuk diri. Coba simak dan maknai apa yang diungkap di sana.

Cita-cita adil makmur rasanya mudah tercapai bila anak bangsa bisa berpandangan begitu.

09 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 02 Januari 2011

Selamat Tahun Baru

Malam tahun baru telah kita lewati. Kehidupan mulai bergerak lambat bersiap untuk kembali menjalani rutinitasnya.

Kemeriahan Jakarta di malam menjelang tahun baru kemarin tidak seperti biasa. Meski orang tetap ramai berbondong-bondong menuju titik-titik keramaian, seperti di tugu Selamat Datang di bunderan Hotel Indonesia, Ancol, Kemayoran, dan Monas.

Bukan hanya penduduk Jakarta yang merayakan malam pergantian tahun di ibu kota ini. Mereka yang tinggal di kota-kota sekitar Jakarta pun turut hadir memeriahkan malam tutup tahun di kota ini. Bahkan salah seorang di antara kami, Fatima, dari Banjarmasin pun kali ini khusus datang untuk menikmati malam tahun baru di ibu kota.

Di jalan-jalan, suara terompet tidak lagi segemuruh tahun-tahun sebelumnya. Apakah ini pertanda bahwa tingkat kesulitan hidup di negeri ini semakin tinggi?

Yang bertambah semarak hanyalah kemeriahan kembang api di pusat-pusat keramaian mau pun di permukiman penduduk yang mewarnai berbagai penjuru kota.


Selepas perayaan malam pergantian tahun, pasukan kebersihan kota berseragam putih sibuk bekerja membersihkan tempat dan jalanan ibu kota yang dipenuhi sampah. Baik sampah sisa kembang api mau pun sisa makanan atau minuman yang dibuang sembarangan.

Kita memang masih harus belajar banyak tentang kebersihan.

Bila di rumah kita bisa membuang sampah di tempat sampah, sudah sewajarnya bila di jalan mau pun di tempat umum kita juga bisa melakukan hal itu.

Bukankah dalam arti luas, kota adalah rumah yang kita huni bersama? Dan untuk cakupan yang lebih luas lagi, tentunya negara ini pun adalah rumah kita bersama.

Pemerintah juga punya kewajiban menyediakan tempat sampah di berbagai penjuru kota. Dan secara rutin mengangkut sampah yang terkumpul ke tempat pembuangan akhir, untuk dipilah dan diolah sehingga menjadi lebih berguna.

Mari jaga kebersihan negara, karena negara inikan rumah kita juga.

Amalkan pepatah lama yang menyatakan...

"Bersih pangkal sehat,
rajin pangkal pandai, dan hemat pangkal kaya".

02 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |