Sabtu, 14 Mei 2011

Rupiah Oh Rupiah

Tentunya banyak orang yang tidak mengerti atau semakin tak mengerti apa yang terjadi dengan negeri ini.

Banyak orang pintar setingkat profesor doktor ada di negeri ini, tapi menjadi aneh ketika hampir tak terdengar mereka bicara tentang manfaat dan keuntungan penguatan nilai rupiah.

Apakah tak banyak orang yang punya pendapat seperti Bambang PS Brojonegoro atau media yang memang tak hendak mengangkatnya?

Bank Indonesia atau pun pemerintah tampaknya seperti lebih suka rupiah senantiasa dalam keadaan terpuruk. Berulang kali terdengar ucapan yang menyatakan berbahaya jika rupiah terlalu cepat menguat. Aneh rasa mendengar ini!

Opini penguatan rupiah berbahaya justru yang sering didengung-dengungkan. Ada apa sebetulnya? Kenapa seperti tiada keinginan mendorong penguatan rupiah?

Ketika mata uang dolar terpuruk di mana-mana. Indonesia malah berusaha menahan laju kekuatan rupiah. Aneh!

Ucapan Bambang PS Brojonegoro, Pelaksana Tugas Kepala Badan dan Kebijakan Fiskal, bahwa "Setiap Rp100 penguatan akan menghemat pengeluaran Rp400 miliar" seperti tiada artinya.

Padahal setiap angka penguatan sangat besar manfaatnya untuk pembayaran utang luar negeri kita.

Ada korupsikah dibalik ini semua? Karena bukan tidak mungkin semakin banyak utang akan semakin banyak komisi yang di dapat.

Alasan membahayakan ekspor selalu dikedepankan. Padahal bagi para pedagang hal ini bisa tidak terlalu bermasalah karena ini hanya akan berdampak untuk jangka pendek. Mereka akan dapat segera menyesuaikan terhadap tiap penguatan atau pun pelemahan yang terjadi.

Bagi spekulan mungkin saja bisa sedikit mengganggu. tapi yang pasti setiap penguatan rupiah akan sangat mengganggu mereka para penyimpan uang dalam bentuk mata uang asing.

Contoh, Presiden SBY yang entah untuk keperluan apa hingga punya simpanan lebih dari 200 ribu dolar, bisa jadi ia belum tentu rela jika nilai simpanannya menjadi berkurang akibat penguatan rupiah terhadap dolar.

Di lain pihak penguatan rupiah sebagaimana diungkap oleh Bambang tadi, tentunya bisa mendorong kita untuk segera mengurangi utang negara, bahkan melunasinya.

Memang diperlukan jiwa nasionalisme dalam hal ini sehingga bisa peduli mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Di sanubari rakyat kecil nasionalisme itu tampaknya masih banyak dimiliki. Tinggal bagaimana dengan segolongan lain, pemilik harta, yang perlu dibangkitkan rasa nasionalismenya.

Hanya ada dua pilihan, bergerak menuju keadaan yang lebih baik atau terpuruk dan hilang tak berbekas.

Berlari menuju cita-cita proklamasi.

11 Mei 2011 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: