Sabtu, 29 Desember 2012

Trotoar

Bila kita perhatikan tinggi trotoar di jalan-jalan, seperti yang ada di ibu kota Jakarta, dari masa ke masa, kian lama kian tak manusiawi. Trotoar kita senantiasa bertambah tinggi.

Mencegah kendaraan bermotor menggunakan area trotoar atau penambahan lapisan aspal terus-menerus yang mengakibatkan bertambahnya ketinggian badan jalan, bukanlah suatu alasan yang bisa dibenarkan dalam meninggikan trotoar.

Pada awalnya, orang bepergian dengan berjalan kaki, kemudian mereka mengenal binatang untuk dikendarai atau untuk digunakan membawa beban, seperti kuda, keledai, unta, gajah. Kemudian pada peradaban yang lebih maju, dibuatlah kereta kuda, pedati, dan sebagainya.

Ketika memasuki zaman industrialisasi, mulailah dikenal kendaraan bermotor, di masa awal zaman ini pun area untuk para pedestrian (pejalan kaki) masih menjadi satu dengan kendaraan. Dengan meningkatnya kecepatan kendaraan, mulai sering terjadi korban kecelakaan di jalan-jalan akibat tertabrak oleh kendaraan bermotor. Maka untuk menjaga keselamatan bersama, kemudian dibuatlah peraturan berlalu-lintas di jalan dan seiring dengan itu mulailah dibuatkan area khusus untuk pedestrian, jalur pedestrian ini ditempatkan di sisi-sisi jalan.

Keamanan dan keselamatan para pedestrian ini kian lama kian ditingkatkan, sehingga kemudian dibuatlah pembedaan tinggi jalur pedestrian dengan jalur kendaraan, di mana jalur pedestrian dibuat lebih tinggi dari jalan, yang kemudian kita kenal dengan istilah trotoar (gili-gili).

Lebar trotoar yang dibuat diperhitungkan supaya minimal orang dapat berjalan berpapasan dengan leluasa, yakni selebar 5 kaki (five foot/feet) atau 150 cm.

Dari situlah konon kabarnya kemudian dikenal istilah kaki lima, yang selain untuk pedestrian, banyak juga digunakan oleh pedagang untuk berdagang, sehingga kemudian dikenal istilah pedagang kaki lima.

Sejalan dengan tujuan memberikan kenyamanan kepada pedestrian, lebar jalur pedestrian terus diperluas, termasuk lebar trotoar. Dari sisi keamanan, guna melindungi pedestrian, pada area trotoar yang bersisian dengan jalur kendaraan dapat ditanami dari rumput hingga pohon-pohon besar dan rindang. Pepohonan yang selain berfungsi untuk melindungi pedestrian dari kendaraan juga untuk memberikan keteduhan, di samping itu juga bisa berfungsi untuk membantu penanggulangan banjir.

Tinggi trotoar ideal adalah maksimum 15 cm dan pada daerah-daerah tertentu dapat dibuat lebih landai guna memudahkan orang untuk turun ke jalan, seperti pada lokasi-lokasi penyeberangan.  Sedangkan untuk membantu para difabel (penyandang cacat) di trotoar dapat dibuatkan penanda dengan tekstur yang berbeda.

Lubang saluran pembuangan pun dapat diperlebar atau diperbanyak jumlahnya untuk memudahkan air mengalir ke saluran air (drainase). Yang tentunya pada jalan-jalan utama hal ini juga harus didukung dengan saluran air yang besar, yang dapat dimasuki semacam dump truck untuk kemudahan pembersihan (maintenance). Atau bila perlu dibuat semacam deep tunnel sebagaimana yang ada di kota-kota besar lainnya di dunia.

Jadi pemerintah sebaiknya menghentikan kesalahan yang tengah dilakukannya dalam hal tinggi trotoar dan harus segera beralih dengan membuat trotoar yang berdasarkan pada standar manusia, dengan ketinggian yang manusiawi. Juga trotoar pun perlu dilengkapi dengan perabotnya (street furniture), seperti penerangan, tempat duduk, halte, tong sampah, telepon dan rambu-rambu.

Trotoar yang lega dan nyaman bagi pedestrian, membuat orang senang berjalan kaki.

29 Desember 2012 | samidirijono | arsitek |

Rabu, 05 September 2012

Ketika Kering Melanda

Musim kemarau menyebabkan kekeringan terjadi di berbagai daerah di nusantara. Sungai, situ, dan waduk mengering, petani pun sulit mendapatkan air, sehingga sawah ladang pun gersang tak bertanam. Petani pun berhenti bekerja, berharap akan datang guyuran air dari langit.

Pepohonan di daerah kantung-kantung (resapan) air habis ditebangi, juga penyebab kekeringan melanda di beberapa daerah, yang ketika hujan tiba terkadang berakibat banjir bandang.

Alam memang punya cara sendiri untuk mengingatkan kita, bersamaan dengan dia berproses menyeimbangkan diri, karena itu belajar dari alam dan manfaatkan alam dengan bijak.

Pendangkalan sungai, situ, dan waduk pun salah satu penyebab daya tampung air berkurang, yang di kala hujan menyebabkan sungai atau waduk meluap mengakibatkan banjir. Seperti yang pernah terjadi di Situ Gintung beberapa tahun yang lalu.

Saat kekeringan melanda sebetulnya adalah saat yang tepat untuk mengeruk sungai atau waduk. Jajaran pemerintah bisa memanfaatkan setiap masa kekeringan ini guna memperdalam dasar sungai atau waduk. Bisa dengan mempergunakan alat berat atau mendayagunakan tenaga warga sekitar.

Bila demikian, maka warga pun bisa bekerja secara berkelompok bergotong-royong mengerjakan pengerukan untuk mendapatkan penghasilan guna menyambung hidup.

Penghasilan didapat dari hasil penjualan tanah atau endapan yang terjadi, di mana hasil pengerukan bisa dijual kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Warga sekitar mendapatkan penghasilan, pengusaha angkutan pun demikian, dan yang memerlukan urukan pun terpenuhi maksudnya. Roda perekonomian pun berputar.

Hanya saja perlu dijaga agar dapat memperkecil dampak kerusakan dan pencemaran yang terjadi akibat pelaksanaan pengerukan itu.

Pemerintah bisa mengatur dengan membagi-bagi segmen pada jarak tertentu, misal per 50 – 100 meter dengan kedalaman pengerukan 1 – 2 meter, mulai dari hulu ke hilir atau di titik-titik yang dilanda kekeringan. Bila perlu ikut mengoordinir mobilisasinya.

Untuk sungai kalau secara teknis, saat pengerjaan salah satunya mungkin dengan membagi sisi kiri dan kanan, tergantung situasi dan kondisi.

Pemerintah hanya mengatur, mengoordinir, dan mencatat, karena mengingat hal ini bisa saja harus dilanjutkan di musim kering tahun berikut atau secara periodik. Inilah yang disebut pemerintah melayani rakyatnya.

Sejalan dengan reformasi birokrasi untuk mengubah (mental birokrat) dari budaya menguasai menjadi budaya melayani masyarakat, seperti yang disampaikan oleh Eko Prasodjo, Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam acara Sentilan-Sentilun di Metro TV, 3 September 2012.

Pemerintah mengatur agar rakyat dapat bekerja untuk menyambung hidup, karena ada atau tidak pekerjaan, aparat pemerintah tetap digaji, sedangkan masyarakat bila tidak bekerja tak berpenghasilan.

Jagalah alam maka dia akan menjagamu.


05 September 2012 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 29 Mei 2012

Kemiskinan dan Korupsi

Menurut Bank Dunia, dengan perhitungan penghasilan kurang dari Rp7.800,00 per hari, penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2008 tercatat 40,5 juta jiwa dan di tahun 2010 meningkat menjadi 43,1 juta jiwa. (Metro This Week pukul 18.50 Metro TV, 30 Oktober 2011)

Dalam acara Metro This Week yang ditayangkan Metro TV pada tanggal 30 Oktober 2011 itu, diberitakan bahwa menurut Bank Dunia, dengan perhitungan penghasilan kurang dari Rp7.800,00 per hari, penduduk miskin di Indonesia yang pada tahun 2008 tercatat 40,5 juta jiwa, meningkat menjadi 43,1 juta jiwa di tahun 2010.

Biduan Edo Kondologit, saat membahas pergolakan di Timika, Papua, dalam Metro Hari Ini yang dipandu oleh Zelda Savitri setengah jam sebelumnya pun mengungkap masalah kemiskinan.

Menurut Edo, "Masalah kemiskinan bukan hanya masalah di Papua saja, tapi masalah di seluruh Indonesia!


Benar! Kemiskinan memang bukan hanya milik warga Papua saja. Kemiskinan bisa kita dapati di berbagai penjuru negeri ini, bahkan di ibu kota pun kita dapat menjumpai kemiskinan. Bila di negeri yang kaya raya ini ada rakyat miskin tentulah itu akibat korupsi.


Belum tampak pemimpin negeri ini yang mampu mengatasi keadaan ini. Korupsi biang keladi masalah kemiskinan ini pun belum bisa diberantas. Seperti tiada niatan untuk memperbaiki keadaan negeri.

Komisi Pemberantasan Korupsi yang diharapkan mampu mengoyak borok korupsi pun tak bertaring. Apa karena cara perekrutan yang salah? Atau sengaja dicari orang yang tidak bersih supaya mudah dikendalikan?

Kenapa untuk calon KPK itu harus mengajukan lamaran? Tidak bisakah dicari dan ditemukan orang yang jujur dan berani untuk dilamar guna menduduki jabatan itu? Amerika pernah melakukan yang seperti itu saat mereka hendak membongkar kejahatan Al Capone, bukankah cara seperti itu bisa ditempuh? Dan lebih murah biayanya!

Di sisi lain, sulitkah untuk mengetahui seseorang itu koruptor atau bukan? Berapa gajinya dan seperti apa rumahnya? Bukankah ini cara termudah untuk tahap awal mengetahui koruptor atau bukan?

Miskinkan koruptor, kalau tidak mau ada hukuman mati! Penjarakan dan ambil seluruh hartanya untuk negara. Wujudkan Indonesia sejahtera bebas dari koruptor.

Janganlah berpikir rumit bila ada hal mudah yang bisa dilakukan.

29 Mei 2012 | samidirijono | arsitek |

Rabu, 02 Mei 2012

Dari Titik Kecil Kita Menuju ke Masyarakat Adil dan Makmur.

Beberapa waktu lalu, lewat pesan elektronik sampai kiriman gambar Peta Indonesia. Lucunya peta ini terlihat berbeda dari peta biasanya, di mana pulau-pulau di peta itu digambarkan sebagai bentuk-bentuk tikus.

Dilihat dari satu sisi, bisa dikatakan ini suatu pelecehan. Tapi bila diteropong dari sisi lain, maka tampaknya apa yang digambarkan oleh si desainer ada benarnya juga. Dalam artian apa yang saat ini terjadi di negara kita secara telanjang dapat dilihat demikian.

Analogi tikus ini mencerminkan kondisi apa yang ada pada saat ini. Bukankah kini negeri ini sedang digerogoti tikus-tikus? Tikus yang hidup di lumbung padi, yang terus berkembang biak luar biasa banyaknya dan siap melalap habis padi di dalam lumbung.

Telah terjadi dekadensi moral yang sedemikian parah dan membahayakan. Negara dengan umat beragama seperti tanpa agama atau lebih tepatnya esensi dari agama itu sendiri seperti tidak dapat dicerna dengan baik oleh umat agama yang mana pun. Pagar-pagar budaya pun telah koyak di sana-sini, kesantunan dan tenggang rasa kian meranggas sudah.

Mana benar dan mana salah kini semakin sulit dibedakan, kegamangan pun telah merasuk jauh ke dalam pikiran. Kebenaran sudah kian jauh terpendam. Ketidakbenaran kian dianggap wajar atau pada akhirnya dimaklumi, karena kian sulit dihindari. Apa yang sebetulnya salah sudah tidak lagi dianggap salah, atau tidak peduli mana benar dan mana salah?

Ribuan contoh bisa ditampilkan, salah satunya bisa lihat pada kejadian sehari-hari di jalan. Perhatikan sebuah jalan bertanda verboden (dilarang masuk), di situ bisa kita lihat masyarakat tua-muda dari semua agama, suku, golongan (tentara, polisi, sipil, pegawai negeri), melanggar aturan itu.


Tidak sedikit pula dari yang melanggar aturan ini berkendara bersama anaknya yang masih kecil.

Sadarkah kita bahwa itu berarti memberi contoh kepada anak kita?

Bukankah melihat atau mencontoh adalah pendidikan terbaik yang paling mudah dicerap oleh anak-anak?

Sekarang, yang terjadi justru berbagai pelanggaran dengan sengaja pun tidak dicontohkan kepada anak-anak. Kasihan anak-anak kita, mereka semakin bias akan mana benar dan mana yang tidak benar.

Nilai-nilai kebenaran yang diajarkan sendiri oleh orang tuanya dengan gamblang dilanggar sendiri oleh orang tuanya. Mampukah si anak mencerna itu?

Atau itu yang kemudian membentuk kesadarannya bahwa salah itu adalah bila orang lain yang melakukan, tapi kalau kami atau saya sendiri yang melakukan, tidak salah?!

Kita harus beranjak sadar dan peduli akan hal ini, bahwa dari hal-hal kecil ternyata bisa membawa dampak besar bagi perkembangan kejiwaan seorang anak.

Perbaikilah kesalahan kita, agar anak keturunan kita bisa memperbaiki semua perilaku yang menyimpang yang telah terjadi sepanjang masa ini.

Ingat pesan yang ditorehkan oleh Wage Rudolf Supratman dalam syair lagu kebangsaan kita, mengenai apa yang harus dilakukan kepada anak bangsa ini guna membangun bangsa!

...bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya...

02 Mei 2012 | samidirijono | arsitek |

(sumber foto dari internet dan koleksi pribadi)