Senin, 31 Maret 2014

Pemilu Tak Menyejahterakan Rakyat


Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar cerita Tri Rismaharini wali kota Surabaya di acara Mata Najwa di Metro TV, bahwa dia menemukan di kotanya ada wanita pekerja seks komersial (PSK) yang telah berusia 60 tahun, yang demi bertahan hidup dengan hanya mengandalkan uang seribu atau dua ribu rupiah dari pelanggannya yang hanya anak-anak SD dan SMP! Nauzubillah min zalik, apa artinya ini? Artinya negara tidak hadir untuk membuat rakyatnya bisa hidup sejahtera!

Sementara Satinah yang hendak dihukum mati mendapat perhatian yang begitu besar, padahal dua-duanya sama-sama berjuang untuk kelangsungan hidup meski dalam bingkai yang berbeda.

Lain lagi kisah Tamireja seorang pejuang kemerdekaan yang telah berusia lebih dari 100 tahun tinggal di gubug sederhana berpapan tripleks di kaki Gunung Putri, Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang dan ia masih harus terus berjuang (bekerja) demi kelangsungan hidupnya!



PSK usia 60-an tahun, pejuang kemerdekaan usia 100-an tahun, dan banyak orang-orang tua renta lainnya yang terpaksa masih terus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari apabila mereka masih ingin bisa hidup lebih lama di dunia ini. Apakah ini tanda bahwa negara sudah peduli dengan kesejahteraan rakyatnya?

Kisah yang sangat memilukan dari negeri ini, namun belum terdengar apa solusi yang ditawarkan oleh para calon wakil rakyat kita.

Kita semua akan tua, tapi tidak semua memiliki kemampuan yang sama.



Kesejahteraan atau masyarakat adil makmur adalah tujuan kita menjadi bangsa yang merdeka. Negara dalam hal ini pemerintah dan wakil rakyat serta segenap warga negara seharusnya bisa mewujudkan cita-cita proklamasi ini. Seharusnya negara yang berdasarkan Pancasila dan dengan UUD 1945-nya yang mencantumkan tentang keadilan sosial, manusia yang adil dan beradab, penghidupan yang layak, dan kesejahteraan harus bisa mewujudkan hal ini.

Tapi kenapa hingga hari ini hal itu belum juga terwujud? Akankah bisa terwujud?

Bisa!  Kita bisa mewujudkannya melalui pajak!  Melalui Pajak Pribadi.

Sistem perpajakan dengan cara perhitungan sendiri (self assesment) telah diterapkan sejak masa Mar'ie Muhammad dahulu dan langkah terakhir pemerintah tentang kepemilikan NPWP (nomor pokok wajib pajak) bagi setiap orang pun sudah benar. Hanya saja langkah ini perlu dilanjutkan dengan menerapkan bahwa pajak pribadi akan kembali ke pribadi masing-masing pembayar pajak. (Baca lagi catatan sami tahun 2010, Pajak untuk Apa?)

Jadi nanti seperti asuransi jiwa, di tahun kedua pembayar pajak bisa melihat rupiah yang akan dia dapatkan per bulannya bila kelak dia berhenti bekerja atau pensiun. Dana ini boleh juga digunakan untuk menghidupi orang yang sedang menganggur mau pun anak terlantar.  Bila hal ini dilaksanakan  maka bisa dijamin setiap warga negara yang punya penghasilan akan berlomba-lomba membayar pajak. Karena mereka sadar bahwa dengan membayar pajak berarti masa depan mereka akan terjamin. 

Bisa jadi perusahaan asuransi khawatir akan wacana ini, meski sebetulnya hal itu tidak perlu terjadi, karena asuransi akan tetap diminati. Asuransi lebih pada mengantisipasi faktor risiko meski bisa juga untuk menambah penghasilan kelak, dan berbeda dengan pajak, uang asuransi bisa diwariskan ke ahli waris.

Memang negara-negara pemberi utang akan khawatir bila ini bisa terwujud, karena dengan dana yang terkumpul, negara kelak cukup berutang kepada rakyatnya bukan ke mereka. Sehingga bisa jadi mereka akan berupaya menghalang-halangi terwujudnya hal ini.

Meski kampanye untuk pemilihan legislatif telah berlangsung sekian lama, namun sepertinya belum terdengar dari para calon wakil rakyat mau pun partai-partai peserta pemilu yang mengumandangkan wacana pajak untuk kesejahteraan rakyat!

Partai baru yang mengusung isu restorasi dan perubahan pun tak menyinggung untuk pemecahan isu ini. Demikian pula dengan partai progresif yang telah menelurkan 6 Program Aksi Transformasi Bangsa, tak pula menyentuh soal ini.

Sementara menjelang Pemilu, dana bantuan sosial di APBN mencapai angka 91,8 triliun rupiah, yang bisa saja tak jelas pemanfaatannya dan rawan digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek. Uang rakyat dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas, sedangkan rakyatnya sendiri masih banyak yang sengsara.

Apakah calon-calon presiden kita akan ada yang mengangkat isu pajak untuk kesejahteraan rakyat ini?  Kita tunggu saja.

Ingat! Pemilu bukan untuk kesengsaraan rakyat tapi untuk kesejahteraan rakyat.


31 Maret 2014 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 09 Maret 2014

Ecotech Garden

(Pengolahan Air Selokan)

Air buangan rumah tangga dibagi 2 jenis, yakni apa yang disebut dengan grey water dan black waterGrey water adalah limbah rumah tangga nonkakus, yaitu buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur (yang mengandung sisa makanan), dan tempat cuci. Black water adalah limbah rumah tangga berupa tinja/kotoran manusia yang berasal dari kakus (kloset/WC).

Di dunia arsitektur kita mengenalnya dengan istilah air kotor untuk grey water dan air kotoran/air limbah untuk black water. Pada tulisan kali ini yang dibahas hanya yang air kotor (grey water), sekaligus untuk melengkapi tulisan sebelum ini Kali Hitam Berubah Coklat.

Air kotor dari pabrik, tempat usaha, perkantoran, dan bahkan dari rumah tangga pun banyak yang dibuang langsung ke selokan tanpa melalui penyaringan (filterisasi), yang ternyata ini bisa membahayakan lingkungan dan makhluk hidup termasuk manusia.

Dari hasil penelitian Ratna Hidayat, air kotor dari rumah tangga banyak terkandung zat pencemar, seperti N (amonium, nitrat, nitrit, organik N), P (phosphate), BOD, dan COD.

Menurut Dr.K. Mophin Kani di researchgate.net, COD atau Chemical Oxygen Demand adalah pengukuran total semua bahan kimia (organik dan in-organik) di dalam air/air limbah; BOD atau Biochemical oxyen demand adalah ukuran, jumlah oksigen yang dibutuhkan bagi bakteri untuk mendegradasi komponen organik yang ada dalam air/air limbah.

Kita beruntung karena Ratna Hidayat, pemenang Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia tahun 2007 untuk kategori Teknologi Tepat Guna, termasuk seorang peneliti yang juga memperhatikan keindahan, dia memilih jenis-jenis tanaman hias sebagai media yang berfungsi untuk meminimalkan pencemaran yang terjadi, dia menyebutnya Pengolahan Air Selokan dalam Bentuk Ecotech Garden.

Ecotech garden adalah salah satu teknologi pengolahan air selokan (grey water) yang menggunakan tanaman hias air yang berfungsi menyerap N dan P, menurunkan zat pencemar (BOD, COD, detergen, bakteri patogen) serta menghilangkan bau dan sekaligus menjernihkan air.


Ada pun tanaman hias yang bisa digunakan antara lain:  pontederia cordata (bunga ungu), arrowhead sagita japonica (lili air), waterdrop-echinodorus paleafollus (melati air), thalia dealbata (kana air), cyperus papyrus, typha angustifolla (bunga coklat).


Ecotech garden baik untuk diterapkan secara individual di setiap rumah atau dibuat secara kolektif sebagai taman pada sebidang lahan di kompleks perumahan. Bahkan harapan beliau, ini bisa diterapkan di dalam skala yang lebih luas untuk kelestarian kualitas sumber air (sungai,waduk, atau danau) khususnya di lingkungan perumahan. Tentunya untuk yang terakhir ini bisa dilakukan oleh pemerintah, swasta (pengembang), atau pun secara bergotong royong.



Bila Ratna Hidayat bisa melakukannya, masyarakat juga tentu bisa, apalagi bila para arsitek dan ahli lanskap berinisiatif memberi inspirasi bagi penerapan tanaman hias ini sebagai taman yang menarik yang sekaligus berfungsi untuk menetralisir pencemaran di tiap rumah dan lingkungan yang mereka desain.

Taman indah, lingkungan bersih, rumah pun nyaman.

08 Maret 2014 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 04 Maret 2014

Kali Hitam Berubah Coklat


Hujan yang mengguyur Jakarta dan Bogor di awal tahun 2014 memang luar biasa. Warna air kali yang puluhan tahun hitam pun bisa berubah warna menjadi coklat.

Kali Sunter, Kali Galur, Kali Sentiong, Kali Cijantung, atau Kali Baru itu sama saja, hanya sebutannya saja yang berbeda-beda menyesuaikan nama daerah yang dilewatinya. Ia adalah saluran air buatan yang berada di sebelah Timur dari Sungai Ciliwung sehingga dikenal juga dengan nama Kali Baru Timur. Ada pun posisinya berada di sepanjang Jalan Raya Bogor dan terus ke utara hingga mencapai Laut Jawa. Di daerah Matraman, Jakarta tepatnya di dekat Kebon Pala terdapat sodetan saluran yang menginduk ke Sungai Ciliwung juga.

Entah berawal di mana, yang pasti Kali Baru Timur yang melintasi Jakarta di bilangan Kelurahan Galur hingga Sunter telah puluhan tahun berwarna hitam. Mungkin tak banyak warga yang menyadari perubahan warna air kali yang telah puluhan tahun  berwarna hitam itu kini menjadi coklat.

Sepertinya tak ada catatan sejarah yang mencatat kapan terakhir kalinya air kali ini berwarna coklat, mungkin hanya kali ini sendiri yang tahu sejak kapan warna airnya mulai menghitam.

Pada masa Emil Salim menjadi Menteri Lingkungan Hidup, berkat program kali bersih (Prokasih) yang dijalankan kala itu air kali ini sempat berubah warna, walau belum berwarna coklat, tapi dari yang tadinya hitam mulai berwarna kehijauan. Sayang hal itu tidak berlangsung lama, seiring dengan pergantian kabinet, Prokasih tak berlanjut.

Yang ditinggalkan Emil Salim adalah kali yang tak lagi dipenuhi kotoran atau sampah, hal ini tetap terus terjaga, meski di beberapa bagian terkadang masih terlihat onggokan sampah, namun dari kali yang tadinya penuh dengan sampah hingga orang bisa berjalan-jalan di atasnya, telah berubah menjadi kali yang dapat dilihat airnya.

Setelah sekian lama tak pernah mendapatkan perhatian yang serius, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, barulah ia mendapatkan perhatian kembali di era pemerintahan Gubernur Joko Widodo atau yang lebih akrab dipanggil Jokowi.

Jokowi sempat menyambangi beberapa sungai dan kali yang ada di Jakarta, guna memantau kondisinya, dengan salah satu tujuannya untuk mengantisipasi banjir. Dan dari hasil pantauan terungkap adanya penyempitan dan pendangkalan akibat endapan, kotoran, atau sampah di hampir semua sungai yang ada di Jakarta, termasuk yang di Kali Baru ini. Sehingga dilaksanakanlah pelebaran serta pengerukan sungai dan kali yang ada di Jakarta, atau yang kita kenal dengan istilah Normalisasi Kali dan Sungai.

Tampaknya alam berpihak pada sang gubernur, dampak hujan lebat yang terjadi di awal tahun 2014 telah mengakibatkan air kali pun berubah warna. Entah karena malu kepada sang gubernur akibat warnanya yang hitam, atau justru itu pernyataan senang dan ungkapan terima kasih dari si kali karena telah mendapat perhatian dari sang Gubernur.  ;)

Segala kemungkinan masih akan terus berlanjut ke pertanyaan, akankah warna coklat ini dapat dipertahankan seterusnya?

Warga yang hidup di sekitar kali ini semoga diberi kesadaran untuk menjaga kebersihan air kali dengan berhenti mencemari. Membuat bak kontrol dan penyaringan sebelum air keluar dari halaman rumah kita pun membantu mengurangi pencemaran air dan lingkungan, dengan tidak lupa membersihkan dan merawatnya secara periodik. Penyaringan air juga dapat dilakukan dengan menggunakan media tanaman yang sekaligus berfungsi sebagai lanskap.

Pemerintah, selain mengadakan pengerukan dan pelebaran, ada baiknya mulai merencanakan dan membuat (minimum) saluran ganda, yang satu untuk saluran air hujan, yang lainnya untuk saluran air limbah yang dilengkapi dengan sentra-sentra pengolahan airnya, paling sedikit diadakan di tiap kecamatan atau bila memungkinkan di setiap kelurahan.

Kali bersih, lingkungan sehat, penduduk pun sehat.

04 Maret 2014 | samidirijono | arsitek |