Minggu, 16 Mei 2010

Museum Bahari di Jakarta

Museum Bahari terletak di daerah Kampung Luar Batang, wilayah Sunda Kelapa atau tepatnya di jalan Pasar Ikan No.1, Jakarta. Museum ini dahulu difungsikan untuk gudang penyimpan rempah-rempah yang terdiri dari beberapa bangunan, mulai dibangun sekitar tahun 1700-an atau awal abad ke-18.

Menghitung usia bangunan yang sudah 300-an tahun ini sangat wajar bila terlihat bangunan museum saat ini sudah tidak lagi dalam kondisi prima. Cat dinding sudah mengelupas di mana-mana, kayu-kayu konstruksi sudah banyak yang keropos dimakan rayap, penutup atap yang sudah diganti keramik pun tampak tidak lurus lagi.


Banyak hal lain yang juga mempengaruhi kondisi bangunan yang kian mundur ini. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi bahan bangunan yang telah mencapai ratusan tahun ini. Kondisi permukaan air laut yang terus naik dan daratan yang secara perlahan terus turun, belum lagi ditambah kendaraan-kendaraan berat yang lewat di daerah itu menimbulkan adanya getaran yang berdampak pada bangunan dan lingkungan secara keseluruhan.

Merawat bangunan tua tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi bangunan-bangunan di zaman dahulu hampir rata-rata mempunyai bentuk yang tinggi dan besar seperti yang ada di kompleks museum ini, yang berarti mempunyai lantai, plafon, dan dinding dengan permukaan yang sangat luas sehingga menyebabkan biaya perawatan menjadi tinggi.

Kayu-kayu untuk konstruksi bangunan yang berukuran dari 30 hingga 50 cm masih banyak dan bisa kita jumpai di sana, meski terlihat sudah banyak juga di antara kayu-kayu ini yang telah keropos dimakan rayap atau pun yang harus dipotong karena lapuk.


Mempertahankan bangunan tua karena nilai kesejarahannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nilai kesejarahan yang dimaksud tentunya bukan untuk memperlihatkan bahwa bangsa ini pernah sangat lama dijajah, bukan pula untuk membuat kita minder karena pernah dijajah, tapi ini justru harus bisa digunakan sebagai peringatan dan cambuk untuk bangkit dan tetap bersatu agar kesalahan leluhur kita terdahulu yang tercerai-berai mementingkan kelompok atau diri sendiri sehingga mudah dijajah tidak terulang kembali.

Nilai kesejarahan lain yang bisa diambil salah satunya adalah nilai sejarah perkembangan arsitektur--bangunan, lingkungan, dan kota--sebagai pembelajaran kita dalam menata ke depan. Arsitektur senantiasa berjalan bersamaan dengan peradaban, arsitektur membuat kita dengan mudah mengenali peradaban dari suatu bangsa.

Kita juga bisa mempelajari mana yang baik dari semua yang telah pernah dilaksanakan. Dari bentuk bangunan atau lingkungan yang sederhana hingga menjadi sebuah kota yang semerawut seperti Jakarta, tentunya dapat dijadikan bekal agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sebagai aset pariwisata, dengan tidak mengubah bentuk aslinya, fungsi kawasan dan bangunan lama jika perlu bisa diubah, agar punya nilai tambah dan tetap dapat berfungsi.

Nilai tambah bukan berarti dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri apalagi kawasannya. Sebagai bangunan atau kawasan mungkin dia tidak punya potensi untuk menghidupi dirinya sendiri, namun jika dimasukkan dalam skala perkotaan justru dia berpotensi menghidupi kotanya. Alasan dia tetap harus dihidupi oleh kota bahkan negara dikarenakan secara keseluruhan nilai devisa yang masuk yang dihasilkan dari kunjungan turis yang masuk ke suatu kota atau negara itu sangat besar, inilah makna gotong royong.

Karena itu pengelola negara dan kota di Indonesia ini harus mulai berpikir cerdas guna mengelola pariwisata, mulai dari memelihara objek pariwisatanya hingga mengatur perjalanan kunjungan turis saat berwisata.

| 16 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |

Senin, 10 Mei 2010

Berutang ... Hobi Atau Kutukan?

Entah dari kapan hal ini bermula namun untuk soal yang satu ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk rakyat negeri ini, bahkan ada yang berkomentar ini sudah jadi falsafah hidup bagi kebanyakan orang. Dari rakyat jelata hingga pejabat, dari rakyat miskin hingga konglomerat punya kebiasaan buruk, yakni berutang.

Negara kita ini pun punya utang yang sungguh luar biasa besar hingga mencapai ribuan triliun, entah kapan ini akan terlunasi, karena utang ini bukan semakin kecil tapi semakin membengkak dari tahun ke tahun dan sepertinya para penyelenggara negara pun tidak ambil peduli tentang hal ini. Mereka terus menciptakan utang-utang baru dengan menggadaikan apa pun yang bisa digadaikan, dengan menggunakan istilah obligasi, sukuk, dan lain sebagainya yang pada dasarnya adalah untuk utang!

Gali lubang tutup lubang menjadi istilah yang biasa kita dengar, namun sayangnya itu tidak berarti lubangnya selalu berukuran sama atau mengecil, yang kebanyakan terjadi justru lubang itu semakin dalam dan bertambah besar, bukan tidak mungkin lubang itu pada akhirnya untuk mengubur kita sendiri.

Apa penyebab ini semua?

Sepertinya tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Entah karena management (pengelolaan) keuangan yang buruk atau karena kebiasaan cara hidup yang buruk, dalam pengertian pendapatan (uang) yang diperoleh bukan untuk ditabung atau untuk menambah modal usaha tapi lebih digunakan untuk kebutuhan konsumtif--membeli sesuatu yang tidak terlalu perlu--sehingga ketika diperlukan untuk kebutuhan yang sesungguhnya uang itu sudah tidak ada lagi, akhirnya berutang dan lalu lagi berutang.

Sebagai contoh, pada tingkat masyarakat bawah "penghasilan lebih diutamakan untuk membeli rokok daripada ditabung", pada tingkatan yang lebih tinggi "pendapatan bukannya dijadikan modal usaha tetapi lebih diutamakan untuk membeli kendaraan".

Kita harus mulai dan mau belajar bagaimana mempergunakan uang dengan cerdas atau kita tidak akan pernah bisa mengubah nasib.

Banyak di antara kawan dan sahabat yang punya usaha sendiri, bahkan sebagian lagi telah berbentuk badan usaha resmi. Namun akibat management (pengelolaan) keuangan yang buruk, maka usaha yang dimiliki tidak kunjung maju, salah satu penyebab adalah justru karena penghasilan usaha yang didapat cukup besar mengakibatkan ia tidak mampu menahan diri dalam menghadapi kebutuhan yang seharusnya masih bisa ditunda untuk sementara waktu.

Belajar dari pengalaman orang lain.

Salah satu cara jitu belajar mengelola uang adalah memisahkan uang pribadi dengan uang untuk usaha. Bagi yang membuka usaha pribadi pun prinsip ini harus bisa dipegang. Jadi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara belajar menggaji diri sendiri, ya sekali pun usaha itu adalah usaha milik sendiri tetap saja harus dipisahkan antara uang usaha dengan uang pribadi.

Bung Karno pernah mengingatkan kita agar jangan menjadi bangsa kuli. Seperti apakah bangsa kuli? Salah satu kebiasaan buruk kuli adalah berutang.

| 10 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |
(foto hasil rekayasa, sumber internet)

Minggu, 02 Mei 2010

Trotoar dan Pedagang Es Buah di Batusari 4

Trotoar bagi pedestrian (pejalan kaki) di daerah Kemanggisan Utama berbeda dengan di Pejaten apalagi dibandingkan dengan jalan Benyamin Suaeb bekas landas pacu bandara Kemayoran yang tidak punya trotoar. Di Batusari 4 (dahulu Jln. Sakti) tepatnya, kita bisa menemukan trotoar di kedua sisi jalan dengan lebar tidak sampai dua meter yang lebih manusiawi dibandingkan kedua daerah tadi.

Trotoar di sisi selatan diapit aspal jalan dan riol kecil. Sepanjang trotoar ini selain terdapat jalur pejalan kaki yang terbuat dari paving block juga dilengkapi dengan jalur hijau yang terletak di antara jalur pejalan kaki dan riol. Sebetulnya akan lebih baik bila jalur tanaman ini diletakkan di antara jalur kendaraan dan jalur pejalan kaki, agar para pejalan kaki lebih aman dan terlindung. Bila demikian maka tidak terlalu perlu lagi diletakkan pot-pot tanaman dengan jarak tertentu, sehingga jalur pejalan kaki ini menjadi lebih luas. Atau pot-pot ini bila tetap ingin ada bisa diletakkan di sisi riol dan di antara pot-pot tanaman ini bisa diletakkan furnitur, seperti tempat duduk, lampu taman, telepon umum pada jarak-jarak tertentu.

Trotoar di sisi utara yang diapit oleh aspal jalan dan saluran terbuka riol kota yang cukup besar lebih teduh dibandingkan yang ada di sebelah selatan. Di sekeliling pohon-pohon peneduh yang ada di situ dibuatkan pembatas terbuat dari bata dengan ketinggian antara 10-30 cm dan lebar 70 x 70 cm, sehingga masih memungkinkan bagi sang pohon untuk mengembangkan diri. Konstruksi bak pembatas ini tidak begitu kuat, sehingga ketika pohon membesar maka dinding pembatas itu pun mulai retak dan terbelah. Lemahnya konstruksi pembatas ini ada baiknya juga bagi sang pohon sehingga tidak mengganggu perkembangannya. Meski dibuat cukup rendah, pembatas itu pun masih bisa berfungsi untuk duduk apabila pejalan kaki yang melintas di sana ingin beristirahat sejenak untuk melepas penat.

Keteduhan pohon di tempat ini juga mungkin yang mengundang pedagang kaki lima untuk berjualan es buah di sana. Di saat siang hari yang panas terik tentunya ini menggoda para pejalan kaki mau pun pengendara yang dahaga saat melintas di tempat itu untuk berhenti sejenak menikmati segar dan dinginnya es buah yang disajikan apalagi ditambah suasana teduh pepohonan... wah nikmatnya.

Entah ada yang mengatur atau tidak, yang pasti secara ilmu arsitektur penempatan gerobak di tepi jalan yang tegak lurus dari sumbu jalan dengan jarak tertentu adalah cara penempatan yang cukup baik bagi pandangan pengendara yang lewat di sana. Hanya saja dengan cara penempatan seperti itu jadi mengganggu pejalan kaki, mengingat lebar trotoar yang tidak seberapa tadi.

Trotoar meski hanya untuk kita berjalan kaki atau pun bersepeda tetaplah perlu dirancang dengan baik, setiap penempatan perlu diatur dengan baik, perletakan semacam tiang listrik dan rambu-rambu pun tidak sekedar asal taruh, ini perlu agar jalur pedestrian terlihat rapi dan teratur sehingga pengguna trotoar pun senang dan nyaman berjalan di situ, apalagi bila trotoar bisa dilengkapi dengan tempat duduk, lampu, telepon umum, tempat sampah, dan lainnya yang temasuk dalam bagian dari street furniture.

Demikian juga penempatan pedagang kaki lima, bisa saja diperbolehkan asal tetap perlu pula diatur dengan jarak-jarak tertentu atau tempat-tempat tertentu agar tidak mengganggu pengguna trotoar.

Yang tidak kalah penting yang harus dijaga adalah kebersihan lingkungan. Sang pedagang es buah dan teman-teman pedagang lainnya yang berjualan di trotoar tentunya harus bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampahnya ke tempat sampah. Bagaimana dengan kebersihan air untuk mencuci mangkuk atau gelas? Mudah-mudahan yang ini pun juga jadi perhatian para pedagang.

Lingkungan yang bersih dan indah akan menjamin kesehatan kita, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan juga, karena biaya untuk berobat bisa dikurangi dan dapat digunakan untuk keperluan lain.

Lingkungan sehat, rakyat sehat, kesejahteraan pun meningkat.

| 2 Mei 2010 | samidirijono | arsitek |