Minggu, 31 Januari 2010

Jade of Equator


Memenuhi undangan seorang kawan untuk hadir di acara penutupan pameran fotografi Singkawang "Jade of Equator" yang diselenggarakan di Galeri Salihara, Jakarta ternyata bisa menambah wawasan tersendiri.

Pameran yang telah berlangsung sejak tanggal 24 Januari 2010 itu ditutup dengan menampilkan acara pagelaran kesenian tradisional daerah Singkawang, Kalimantan Barat yang dipadu dengan pelaksanaan lomba fotografi, ini sungguh menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi para penggemar fotografi dan juga bagi para pengunjung yang hadir di sana.

Kesenian tradisional yang ditampilkan memperagakan ilmu kekebalan tubuh dengan diiringi tabuhan genderang dan bunyi gemerincing giring-giring yang dipakai oleh para pemain ternyata bisa membangun suasana yang diinginkan.

Dalam salah satu aksinya para pemain memperagakan ilmu kekebalan tubuh yang dimiliki dengan beratraksi pada sebuah benda berupa kursi. Namun yang membedakan kursi ini dari kursi pada umumnya adalah bahwa ambalan tempat duduk kursi ini telah diganti dengan tiga bilah benda bermata tajam berbentuk golok tanpa gagang, pada sandaran ditempatkan pula sebilah benda tajam dengan posisi tegak, sedangkan pada lengan kursi kiri dan kanan dipasangi masing-masing sebilah benda tajam lainnya.

Atraksi lainnya adalah melakukan gerakan mengiris-iris pipi atau pun lidah dengan mandau--senjata tradisional suku dayak. Pada pipi dan kuping beberapa pemain bahkan ada yang ditancapkan hingga tembus oleh benda tajam berupa kawat yang berujung lancip dan satu orang pemain ditusuk pipinya dengan yang berdiameter kira-kira 1 cm.

Mengerikan memang dan tidak semua orang sanggup melihat pagelaran seperti itu. Namun tidak demikian halnya dengan para fotografer, mereka seperti terkena dampak ilmu magis sehingga sudah seperti orang kerasukan juga tampaknya, mereka tiada henti melakukan bidikan-bidikan melalui kameranya ke arah para pemain guna diabadikan untuk diikutsertakan dalam lomba fotografi, setelah mereka seleksi sendiri menjadi beberapa foto yang menjadi karya andalan. Rintik hujan yang turun pun tidak menghalangi semangat para fotografer dalam membidik dan mengejar buruannya masing-masing untuk mendapatkan momen yang terbaik. Cukup sulit memang mengambil momen terbaik dalam suasana yang sedemikian hiruk-pikuk oleh lebih dari seratus fotografer yang saling berebut mengejar buruannya masing-masing.

Tanah air kita yang terdiri dari bermacam suku dan budaya ini memang mempunyai bentuk-bentuk kesenian dan permainan ketangkasan yang beraneka ragam pula, yang serupa ini seperti debus, kuda lumping, reog, atau lainnya seperti tari-tarian, karapan sapi, pacu jali, yang bila dikemas dengan baik tentunya dapat dijadikan daya tarik wisata bagi daerah masing-masing, di tambah dengan dukungan alam kita yang juga indah.

Pemerintah tidak perlu mengambil alih semuanya sebagaimana yang selama ini selalu dilakukan, pemerintah dari tingkat tertinggi hingga terendah cukup sebagai fasilitator dan promotor. Pada tingkatan yang lebih tinggi mengoordinasikan yang di bawahnya demikian seterusnya hingga yang terendah, dengan cara bergotong royong dan bahu membahu seperti itu maka secara keseluruhan akan bisa terkoordinir dengan baik. Berbagai kegiatan yang terdapat di tanah air bisa diagendakan dan direncanakan secara baik dalam satu paket kalender kegiatan tanah air, masing-masing daerah pasti punya agenda yang berbeda dan tidak perlu disamakan, yang perlu adalah dipromosikan bersama dalam satu kalender kegiatan.

Dengan demikian maka wisatawan akan tahu di daerah mana ada kegiatan apa dan kapan waktunya, jadi mereka bisa merancang jadwal dan tujuan berwisata dengan jelas. Dan agar lebih berbobot, banyak hal lain yang masih harus dibenahi sebelum akhirnya kita bisa mencanangkan sebagai tahun kunjungan wisata.

Maju terus Indonesiaku!

| 31 Januari 2010 | samidirijono |

Jumat, 29 Januari 2010

Aksi Demo Mahasiswa

Entah sejak kapan dan siapa yang memulai yang pasti demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa belakangan ini kurang mendapatkan simpati dari masyarakat. Seperti ada yang mengatur semua ini dengan memanfaatkan emosi para mahasiswa dan tampaknya usaha ini memang membuahkan hasil yakni publik tidak begitu bersimpati dengan gerakan mahasiswa. Sungguh berbeda dengan ketika gerakan mahasiswa yang terjadi di tahun 1998 yang pada puncaknya dapat menjatuhkan Suharto dari pucuk pimpinan negeri ini setelah tidak kurang dari 32 tahun berkuasa.

Simpati publik mengalir dengan deras ketika itu. Kejatuhan Soeharto pun sudah dapat diprediksi dengan tewasnya 4 mahasiswa dalam peristiwa 12 Mei 1998, mengingat hal yang sama terjadi ketika seorang mahasiswa tewas dalam demonstrasi di tahun 1966. Sepertinya sejarah selalu berulang, perjuangan sepertinya selalu punya tumbalnya sendiri. Kerusuhan di berbagai kota yang terjadi menyusul tewasnya para mahasiswa itu tampak seperti sudah diskenariokan, di mana saat itu tidak terlihat satu pun polisi maupun tentara di jalan-jalan. Masih terbayang dalam ingatan manakala kerusuhan yang terjadi di tanggal 14 Mei 1998, yang hampir semua titik-titik kerusuhan saat itu diawali dengan pembakaran ban. Entah dari mana datangnya, sekonyong-konyong banyak sekali terdapat ban-ban kendaraan di jalanan yang kemudian di bakar, yang tidak berselang lama penjarahan mau pun pembakaran kendaraan dan gedung terjadi di sana. Siapakah yang memasok ban? Siapakah yang memulai penjarahan dan pembakaran? Tidak pernah terjawab hingga hari ini.

Tampaknya mahasiswa harus mengatur kembali strategi perjuangannya bila ingin berhasil di dalam memperjuangkan idealisme mereka. Cara-cara simpatik harus digunakan agar tidak mudah terprovokasi ke dalam kegiatan yang tidak akan menarik simpati publik. Membakar ban dalam aksi demo bukanlah akan membawa kebaikan, bahkan akan dijauhi oleh publik, sebagaimana dapat kita saksikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Publik tidak lagi bersimpati, bahkan secara psikologis pun publik masih trauma mengingat peristiwa pembakaran dan kerusuhan yang terjadi di berbagai kota pada Mei 1998 dan setelahnya. Bila dicermati itu pulalah salah satu penyebab mengapa pada waktu yang lalu demonstrasi mahasiswa terhadap kenaikan harga BBM tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan.

Jadi mahasiswa sekarang tampaknya harus mempelajari kembali sejarah perjuangan mahasiswa yang lalu bila ingin mendapatkan simpati publik, atas apa yang ingin diperjuangkan. Sebagaimana istilah "Jas Merah" yang sering didengung-dengungkan oleh Bung Karno, yakni Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Mahasiswa harus menggunakan cara-cara yang elegan dalam menyampaikan aspirasi agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang memang ingin meredam aksi mereka. Karena sekali terprovokasi maka akan padamlah perjuangan menuju cita-cita yang diinginkan.

Gerakan mahasiswa di tahun 1974 pupus akibat provokasi semacam ini yang kita kenal sebagai peristiwa Malari. Berbeda dengan di tahun 1998 gerakan mahasiswa cukup solid dan tidak mudah terprovokasi pada saat peristiwa 14-15 Mei terjadi, sehingga mereka tidak dapat dijadikan kambing hitam oleh penguasa saat itu.

Soliditas dan jaringan perlu diperkuat mengingat luas wilayah tanah air kita yang terdiri dari beribu-ribu kepulauan ini, dengan beragam suku, agama, dan kepentingan yang ada.

Harapan publik atas gerakan mahasiswa adalah agar mereka dengan tingkat intelektualitasnya senantiasa dapat lebih jernih dan independen dalam melihat permasalahan yang terjadi di negerinya, dan mengadakan perubahan menuju perbaikan demi tercapainya cita-cita kemerdekaan, yakni masyarakat yang adil dan makmur.

Secara umum berlangsungnya demonstrasi serentak di berbagai penjuru tanah air kemarin dengan damai diharapkan bisa mengangkat kembali citra perjuangan mahasiswa di mata publik. Dari pada bakar ban lebih baik bakar jagung saja.

Mahasiswa, murnikan gerakanmu demi tujuan dan cita-cita perjuanganmu.

| 29 Januari 2010 | samidirijono |
(foto diambil dari VivaNews-Tri Saputro)

Sabtu, 23 Januari 2010

Pejaten Raya dan Pejalan Kaki


Jumat siang, 15 Januari 2010, tanpa direncanakan sebelumnya tiba-tiba timbul keinginan untuk menikmati suasana berjalan kaki di daerah Pejaten, tepatnya di Jalan Pejaten Raya. Untuk sampai ke daerah ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum bus Transjakarta, mengambil rute Kuningan ke Ragunan dan turun di halte Pejaten, lalu dari situ kita tinggal berjalan kaki untuk memasuki jalan Pejaten Raya.

Seperti biasa, karena letak halte di median jalan maka untuk mencapai sisi jalan kita bisa berjalan kaki melalui ramp (jalur landai) yang terhubung dengan jembatan penyeberangan. Sesampai di sisi jalan kita tinggal berjalan ke arah selatan menyusuri trotoar yang ada ke arah perempatan dan seperti layaknya trotoar-trotoar lain yang ada di banyak tempat di Jakarta, trotoar di sini pun tidak terlalu lebar. Di ujung perempatan jalan, persis di sisi sudut seberang kiri jalan terlihat bangunan Mal Pejaten yang didominasi oleh warna merah. Trotoar ini berbelok ke kiri dan berakhir di sebuah jembatan di mana terdapat sebuah kali kecil di bawahnya. Akhir trotoar inilah penanda bahwa kita telah tiba di ujung jalan Pejaten Raya.

Selanjutnya karena sudah tidak lagi terdapat trotoar maka para pejalan kaki bisa meneruskan perjalanannya melalui jalan beraspal atau di tanah tempat ditanami pepohonan yang menjadi pembatas jalan dengan riol kecil yang ada di pinggir pagar bangunan setempat. Sebetulnya enak berjalan kaki di sini, karena kita terlindungi dari terik matahari oleh deretan pohon yang cukup besar dan mulai rindang yang ditanam berjajar pada jarak tertentu hampir di sepanjang tepi jalan. Namun cukup berbahaya karena bisa saja sewaktu-waktu kita celaka karena tertabrak kendaraan yang melintas di sana.

Sedangkan untuk berjalan di atas tanah pun kita tidak bisa nyaman, karena terdapat batang-batang pohon yang ditanam berjajar di sana dan tanah itu memang difungsikan untuk penanaman pohon peneduh yang berguna juga sebagai penguat paru-paru daerah setempat. Jadi pejalan kaki cukup kerepotan bila ingin nyaman berjalan di lingkungan seperti ini. Hal ini diperparah dengan penempatan pal batu penanda wilayah yang dapat kita temui di dekat halte yang terdapat di sana. Pal penanda wilayah ini diletakkan tanpa perencanaan yang baik, sehingga semakin mengganggu bagi kenyamanan pejalan kaki, apalagi di dekat halte itu juga dibuat pagar yang semakin mempersempit area pejalan kaki. Bagaimana pejalan kaki lewat di sana? (lihat foto halte)
Inisiatif warga menutup riol dengan bis beton bisa menginspirasi untuk pembuatan jalur bagi pejalan kaki, hanya saja untuk perbedaan ketinggian dengan jalur keluar kendaraan masih perlu disesuaikan agar tidak mengganggu kenyamanan keduanya.

Apabila pemerintah daerah setempat bisa berinisiatif untuk memberi penutup riol (saluran pembuangan air) yang ada di tepi jalan itu, maka para pejalan kaki tentu akan merasa lebih aman dan lebih terjamin keselamatannya berjalan di daerah ini. Tentunya penutup ini tidak perlu dicor penuh di atas riol, tapi cukup dengan bis-bis beton dengan lebar dan panjang tertentu agar sewaktu-waktu masih dapat dibuka bila ingin melaksanakan pembersihan riol, sebagaimana yang dapat kita temui pada beberapa lokasi di jalan ini yang dibuat oleh para pemilik bangunan setempat.

Untuk area halte juga perlu ditata kembali, khususnya dalam hal penempatan pagar pembatas dan pal penanda wilayah agar masyarakat pengguna dapat menikmati fasilitas kota yang telah disediakan. Pelataran halte bisa sedikit diperlebar agar pal penanda wilayah bisa digeser dan diletakkan di sana, sehingga orang berjalan pun bisa lebih leluasa. Sedangkan untuk pagar, apa perlu ada pagar diletakkan di sana?

Pemerintah daerah dan pemerintah kota di Indonesia perlu mengubah kondisi seperti ini, dengan lebih mengedepankan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna jalan, bukan saja bagi pengendara kendaraan tapi juga bagi pejalan kaki. Pelaksanaannya bisa saja dilakukan sekaligus atau secara bertahap disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah masing-masing. Yang bila dilaksanakan secara bertahap harus ditentukan jadwal pelaksanaan dan target-target pencapaiannya, misalnya tahun ini dilaksanakan untuk sisi kiri jalan sepanjang 100 meter, tahun berikutnya 100 meter lagi, demikian hingga selesai. Rakyat senang, pemerintah pun senang.

Perjalanan pun berakhir setelah tiba tempat tujuan, yakni di kampus Next Academy. Pelajaran kali ini yang dapat dipetik adalah bahwa ternyata untuk berjalan kaki di Jalan Pejaten Raya ini membutuhkan keberanian ekstra lo!

| 23 Januari 2010 | samidirijono |

Jumat, 22 Januari 2010

Kompleks Istana Semakin Tak Ramah




Saat ini bila Anda melewati kompleks istana akan terasa ada perbedaan nuansa yang terjadi di sana. Kompleks istana kini telah dikelilingi oleh pagar besi yang menjulang tinggi, tidak seperti dahulu di mana kita masih bisa merasakan kehangatan bila melintas di sekitar kompleks istana. Kini dengan ketinggian pagarnya yang mencapai lebih dari 2 kali lipat tinggi semula maka bila kita melihat ke arah istana akan tampak sederetan jeruji besi bak sebuah penjara. Sedangkan para narapidana yang ada dibalik jeruji besi itu tidak lain adalah bangunan-bangunan gedung di kompleks itu beserta orang-orang yang berada di dalamnya.

Istana saat ini memang berbeda dengan ketika di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, era di mana masyarakat kecil dapat masuk istana dengan lebih bebas walau hanya bersarung dan bersendal jepit. Di masa itu istana memang milik rakyat, rakyat bisa merasa memiliki istana yang bersahabat dengan mereka. Era sebelumnya, yakni di masa orde baru tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana dan di era sesudahnya aturan-aturan protokoler istana pun secara perlahan tapi pasti mulai diperketat kembali, tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi, dari hal kecil seperti jenis sepatu hingga celana pun menjadi persyaratan bila kita ingin bertemu dengan presiden maupun wakil presiden.

Masih tergambar dalam ingatan kita, sejak peristiwa penuh aib di bulan Mei tahun 1998 maka lingkungan arsitektur kita pun mengalami perubahan, kekerasan demi kekerasan berdampak secara langsung maupun tak langsung pada bangunan di sekitar kita. Dengan alasan prioritas keamanan maka bangunan pun berpagar tinggi. Bangunan negara pun berturut-turut dari Monumen Nasional (Monas), Bank Indonesia, gedung wakil rakyat (DPR/MPR), gedung Kejaksaan Agung, Masjid Istiqlal, hingga yang terakhir ini istana kepresidenan pun tak luput dipagari dengan pagar tinggi.

Dengan ketinggian pagar yang jauh melebihi tinggi manusia itu tentunya menimbulkan tanya pada masyarakat. Ada apa dengan negeriku? Semakin tak amankah negeriku kini, hingga gedung-gedung negara sampai istananya harus dipagari setinggi itu?

Tidak adakah aturan yang mengatur batas wajar ketinggian pagar? Bila aturan itu ada, kenapa hal ini bisa terjadi? Apalagi ini pun terjadi di gedung-gedung negara, yang membuat seakan-akan pelanggar aturan dikomandani oleh gedung-gedung negara.

Pertanyaan lain, di manakah hak-hak publik untuk melihat dan menikmati kotanya bila ruang-ruang publik telah dipenuhi oleh pagar-pagar yang menjulang tinggi?

| 22 Januari 2010 | samidirijono |
(foto diambil dari koleksi pribadi dan berbagai sumber)

Jumat, 15 Januari 2010

Gerobak dan Trotoar


Hari itu Selasa pagi 12 Januari 2010 dengan berkendara menuju ke tempat kerja sampai di perempatan Senen ke arah Tugu Tani yang karena tidak bisa lurus maka harus berputar mengambil rute melalui jalan Kwini 1, namun baru sampai di gedung Kebangkitan Nasional (STOVIA) kendaraan sudah harus berhenti karena antrian kendaraan yang cukup panjang akibat lampu merah lalu lintas yang terlalu lama. Rasanya tidak mengada-ada bila dikatakan demikian, mengingat seorang peminta-minta yang bergerak dari tempat lampu lalu lintas dipasang telah mencapai tempat di mana kendaraan yang saya tumpangi berhenti.

Sementara masih menunggu antrian, di atas trotoar terlihat seorang bapak beserta gerobaknya dengan sabar pun berhenti menanti jajaran kendaraan yang masih juga belum bergerak.
Rupanya gerobak itu tidak dapat terus menyusuri trotoar yang ada karena tak jauh di depannya terdapat patok, batu, dan bak tanaman yang mempersempit trotoar sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati oleh gerobak itu. Jadi untuk melanjutkan perjalanan terpaksa gerobak harus turun melewati jalan beraspal yang diperuntukkan bagi kendaraan, namun untuk itu dia juga harus bersabar menunggu kendaraan yang masih berhenti menanti lampu lalu lintas di ujung sana yang belum juga menyala hijau.

Lebar trotoar yang ada hanya selebar kira-kira 1,5 meter atau lima kaki (five foot) dan untungnya trotoar yang sempit ini tidak digunakan oleh pedagang untuk membuka lapak berjualan di sana sebagaimana bisa kita ditemui pada trotoar-trotoar yang biasanya berada pada titik-titik keramaian seperti di daerah perkantoran, pusat perbelanjaan, atau halte. Namun meski tidak ditempati pedagang, tetap saja trotoar ini tidak dapat dipergunakan untuk gerobak lewat di sana dengan nyaman, karena di titik-titik tertentu ada saja hal-hal yang dapat mengganggu kenyamanan pengguna trotoar di sana.

Dalam merencana jalan selain kenyamanan pengguna jalan ada hal-hal terkait yang harus dipikirkan, street scape dan street furniture, seperti sistem drainase, sistem utilitas, elektrikal, dan yang tidak kalah penting adalah kenyamanan pengguna trotoar, aksesori seperti tempat sampah, kursi taman, dan pepohonan tentunya akan menambah kenyamanan, mengingat kita berada di daerah beriklim tropis. Sudah tiba masanya untuk pemerintah kota-kota kita mulai bisa memikirkan hal-hal seperti ini dari saat mulai membuat rencana pembangunan kota, mengingat kota adalah untuk tempat kita tinggal bersama.

Setelah menanti cukup lama, akhirnya kendaraaan mulai bergerak perlahan namun si bapak dengan gerobaknya tampaknya masih harus sabar menunggu beberapa saat lagi untuk dapat melanjutkan perjalanan.

| 15 Januari 2010 | samidirijono |

Rabu, 13 Januari 2010

Selamat datang di balai jumpa....


Lama dalam keraguan

Membaca dunia sekitar
Buka jendela
Tatap ke depan
Jalan tidak lagi indah
Lingkungan tidak lagi ramah
Bilatah lemah memengaruhi kuat
Pandangan demi pandangan
Biarkan mengalir
Bagai rintik hujan di tanah kering
Agar tumbuh dahan dan ranting

Menuju pencerahan
Jakarta, 13 januari 2010