Senin, 21 Juni 2010

Tanah Air Beta


Alexandra Gottardo, wanita cantik pemain film Tanah Air Beta, saat wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu merasa sedih (terenyuh) melihat masyarakat dengan rumah yang dikatakannya antara lain hanya beratap jerami, dinding masih kayu, dan lantai masih tanah.

Tertegun rasa ini mendengar pernyataan itu. Ada benarnya bila rumah hanya berlantai tanah mungkin kurang nyaman, seperti bila hujan atau terkena air maka akan membuat kotor bagian tubuh terutama kaki kita, juga keberadaan binatang atau serangga sangat tidak terkontrol karena dengan mudah mereka bisa menggali tanah dan masuk.

Namun salahkah bila rumahmu hanya beratap jerami dan berdinding kayu? Di Amerika yang negara maju sekali pun--meski di sana mungkin tidak ada yang beratap jerami--banyak orang yang lebih suka tinggal di rumah berdinding kayu. Bahkan belakangan ini acap diberitakan Rumah Tomohon yang terbuat dari kayu itu banyak diminati oleh orang-orang di luar daerahnya hingga ke manca negara. Vila-vila dan tempat peristirahatan pun banyak yang beratapkan jerami, dapat kita jumpai di Bali atau daerah lainnya.

Apakah rumah itu harus berlantai granit atau marmer? Tidak juga, lantai rumah meskipun dari keramik, teraso, ubin PC (portland cement), atau bahkan berlantai kayu,atau dengan hanya berupa acian semen pun bukan berarti secara arsitektur rumah itu tidak baik, karena dengan begitu kebersihan dan kesehatan sudah lebih terjaga dibanding yang berlantai tanah saja.

Rumah beratap jerami atau rumbia pun bukan berarti salah, karena salah satu keunggulan rumah beratap seperti ini adalah atap itu lebih bisa bernapas guna menjaga kelembaban, hanya saja kelemahannya antara lain adalah mudah terbakar.

Sedangkan rumah berdinding kayu bahkan gedek (sulaman bambu) tetap akan menjadi baik dan sehat bila dirancang dengan betul, yakni dirancang dengan memperhatikan adanya bukaan untuk ventilasi udara, sinar matahari, pengorganisasian ruang, dan lain sebagainya.

Perlu dipahami bahwa rumah berbahan material kayu tentulah lebih bersahabat dengan alam bila dibandingkan dengan rumah tembok atau baja. Karena kayu lebih mudah diperbaharui (sustainable) dengan cara di setiap area yang ditebangi pohonnya haruslah diganti dan ditanami kembali minimal sebanyak jumlah pohon yang telah ditebang.

Kejadian ini mungkin akibat kesalah-kaprahan anggapan bahwa rumah kayu itu bukan rumah permanen, karena sesungguhnya rumah kayu itu rumah permanen juga bila memang telah direncanakan untuk dibangun dan ditempati dalam jangka waktu yang lama, meski dia tetap bisa digotong dan dipindahkan.

Sedangkan apa yang dikatakan oleh Alexandra seperti lebih dimaksudkan pada kenyataan kehidupan sesungguhnya dari kebanyakan rakyat kita yang memang miskin--yang kebetulan tinggal di rumah-rumah beratapkan jerami, berdinding kayu, dan berlantai tanah--sehingga dia tidak mampu untuk memperbaiki atau merancang rumahnya dengan benar karena untuk bisa hidup sehari-hari saja sudah hebat.

Tanggung jawab jajaran pemerintah dari pimpinan di tingkat atas hingga bawahlah guna membangun untuk kesejahteraan rakyat, mulailah dari meningkatkan kebaikan serta kesehatan lingkungan dan menyediakan pendidikan yang benar.

Dengan lingkungan dan rumah yang sehat, kesejahteraan pun meningkat.

| 20 Juni 2010 | samidirijono | arsitek |

Sabtu, 19 Juni 2010

Pohonku Sayang Pohonku Malang

Kamu mungkin sering berdecak kagum bila melihat sesuatu yang tidak biasa kita lihat, misalnya melihat bangunan yang sangat tinggi, lukisan yang indah, danau yang cantik, atau hal-hal lain seperti lingkungan dengan pohon-pohon besar dan rindang di kiri-kanan jalan.

Kenapa itu terjadi, mungkin ya itu tadi, karena kita tidak biasa melihatnya, tapi bukan tidak mungkin yang terjadi malah sebaliknya, yaitu karena senang melihat atau mengamati sesuatu itulah yang menyebabkan kita mengaguminya.

Pohon yang tergolong sebagai tanaman keras biasanya perlu waktu lama untuk bisa mencapai diameter batang yang besar. Terkadang bisa mencapai umur hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Namun ada kalanya pohon-pohon yang sudah memiliki batang cukup besar ini harus mengalah oleh karena kepentingan tertentu.

Pembuatan pagar atau peninggian pagar halaman adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan hal itu terjadi. Perancang biasanya kurang atau malas memperhatikan hal detail seperti ini, demikian juga pelaksana pekerjaan konstruksi di lapangan yang biasanya lebih suka bila pekerjaan dapat dilakukan dengan tanpa hambatan. Malas menghadapi tantangan adalah salah satu penyebab yang lain.

Potong atau lukai pohon adalah jalan termudah bila menghadapi tantangan demikian. Kesadaran perlu ditanamkan dan diteladani sejak dini agar hal-hal semacam ini bisa semakin berkurang.

Beberapa arsitek dalam perancangannya telah melakukan hal ini dengan cara memberikan pemecahan-pemecahan desain yang baik. Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh arsitek Popo Danes dalam salah satu karyanya, yakni Natura Resort and Spa di Ubud, Bali. Sang arsitek meletakkan bangunan dalam rancangannya pada lahan yang tidak terdapat tanaman keras serta memberikan pemecahan dengan memasukkan pohon yang ada sebagai salah satu unsur dalam rancangannya. Ia memberikan jalan keluar secara desain dengan baik. Dan dalam tahap pelaksanaan konstruksi juga dihindari sebisa mungkin terjadinya perusakan terhadap tanaman.


Itu pula yang menjadi salah satu unsur yang menyebabkan kenapa karya ini pantas mendapatkan Penghargaan IAI di tahun 2002, Penghargaan Karya Konstruksi Indonesia di tahun 2003, dan sebagai karya pertama dari Indonesia dengan memenangkan the Asean Energy Awards pada tahun 2004. Meski untuk memasukkan unsur itu dalam karya tidak mudah, namun teladan seperti ini memang perlu untuk kita dan generasi mendatang.

Ingat, alam akan menjaga kita bila kita pun menjaganya...

| 18 Juni 2010 | samidirijono | arsitek |