Urban Farming

Tulisan ini adalah cuplikan dari kegiatan training online Urban Farming  Sesi 1 dengan tema Urban Farming 101:  Hidup Sehat & Hemat dengan Urban Farming, tanggal 9 Mei 2020 yang dipaparkan oleh Prof. Muhamad Syukur, guru besar Genetika dan Pemuliaan Tanaman dari Institut Pertanian Bogor.

Urban farming adalah bentuk usaha komersial atau pun bukan, yang berkaitan dengan produksi, distribusi, serta konsumsi dari bahan pangan atau hasil pertanian yang dilakukan di lingkungan perkotaan.

Lahan pekarangan memunyai potensi besar mencapai 10,3 juta hektare yang dapat dimanfaatkan.

Bentuk budi daya tanaman untuk urban farming (pertanian perkotaan), dipilah berdasarkan luas lahan.
  1. Budi daya kecambah dan microgreens 
    • budi daya kecambah (2-4 hari)
      yang diperlukan berupa bak, kain flanel, kain strimin, bibit kacang hijau atau lainnya.


      Jenis kecambah bisa beraneka, seperti kecambah kedelai, kubis merah, kohlrabi, bayam merah.


    • budi daya microgreens (7-14 hari)
      adalah sayuran yang dipanen pada umur 4-7 hari setelah semai. Jenisnya bisa seperti bunga matahari, brokoli, kubis, kale, bayam, seledri.


      Ada tersedia jenis bibit 1 boks seharga 30-50 ribu rupiah, yang benihnya disiapkan untuk itu, harus murah meriah.

  1. Budi daya hidroponik dan vertikultur (pekarangan 100 m)

    • hidroponik sederhana berupa sayuran muda yang dipanen pada umur 15-25 hari setelah semai, contoh kangkung di panen 21 hari pakai pupuk AB mix daun tanpa tanah.


      Di Dermaga, 1/2 liter hanya Rp12.000,00 untuk 200 liter, AB mix dari bahan N, P, K sebagai unsur hara tetapi dalam bentuk kimia, menurut Prof. M. Syukur yang penting tidak ada logam beratnya.

    • bisa juga menggunakan bahan organik lain, seperti pemanfaatan budi daya ikan, atau kompos organik cair tetapi perlu dicek kandungan haranya.
    • bisa pakai pupuk daun lainnya dalam  penggunaan. <1 gram.="" p="">
  1. Budi daya tanaman dalam pot dan lahan terbatas.


    Bisa dengan model 10 pot ditanam bergiliran, di pekarangan depan, samping, dan belakang, dengan pot-20 (pot berdiameter 20 cm) bisa untuk:
    • tanaman pangan seperti okra, kacang panjang (ada warna-warni 4 jenis), kecipir, cabai.

    • jenis bunga-bungaan, seperti bunga pukul empat, matahari, celosia, atau lainnya.
    • ragam tanaman obat, seperti kacang thailand, ciplukan.
  1. Budi daya pada lingkungan terkontrol (green house)

    • bisa dengan menggunakan sistem irigasi tetes menggunakan timer, atau sistem otomatik.


Budi daya kecambah umur 3 hari dan microgreens, mudah dan murah, umur pendek, kaya gizi baik vitamin, mineral, antioksidan, jadi umumnya lebih sehat. Jenis tanamannya bisa kacang hijau, kedelai, bunga matahari, alfalfa, atau lainnya.

Beberapa jenis tanaman berdasarkan lokasi
  1. Dataran rendah
    • sayur: kangkung, bayam, bayam merah, sawi, caisim, pakcoi, selada.
    • buah: tomat, cabai, kacang panjang.
  1. Dataran tinggi
    • kubis, kol wortel, paprika, dsb (2-4 bulan).

Tetapi untuk sistem microgreens, maka kubis, kale, kohlrabi, wortel, ketumbar masih bisa di dataran rendah.

Untuk kebutuhan cahaya matahari:
  • caisim, selada bisa cahaya 50%.
  • tanaman buah perlu cahaya maksimal.

Untuk akuaponik bisa pakai ikan lele, mujair, asal ikan diberi makan cukup dan ikan tidak rewel dengan oksigen, bila kurang oksigen dibantu dengan aerator.

Pada intinya pertanian perkotaan (urban farming) adalah upaya memanfaatkan pekarangan dengan banyak manfaat, seperti ketahanan dan kemandirian pangan dan gizi keluarga, mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, mengurangi jejak karbon dan emisi, serta peningkatan pendapatan keluarga khususnya.

__
bahan tulis | https://www.youtube.com/watch?v=ePvXQpu9hBg
19 Mei 2020 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar

Silakan isi komentar Anda di sini, jangan lupa sertakan nama atau e-mail

Diberdayakan oleh Blogger.