Minggu, 18 Mei 2014

Timbang-Menimbang Cawapres untuk Jokowi


Bila dari Prabowo Subianto telah kian jelas siapa yang akan dijadikan cawapresnya, maka tidak demikian halnya dengan siapa cawapres (calon wakil presiden) dari Joko Widodo.

Jauh sebelum Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, banyak khalayak yang telah punya pilihan terhadap pemimpin masa depan yang diharapkan. Saat itu ketika mengunjungi beberapa kota, baik di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi hanya ada 3 nama yang mengemuka di kalangan akar rumput, yakni Jokowi, Mahfud MD, dan Dahlan Iskan.



Mereka seperti supir angkutan dan pedagang kaki lima pun telah punya pilihan sendiri terhadap siapa yang mereka idamkan menjadi pemimpin negeri ini. Masyarakat tidak mempermasalahkan siapa dari ketiga orang itu yang akan menjadi presiden atau pun wakil presiden.

Saat itu Abraham Samad belum lagi dikenal, sedangkan Jusuf Kalla tak pula masuk dalam pertimbangan, mungkin karena masih terasa kebijakannya yang antara lain seperti menaikkan harga BBM yang fantastis agar harga di Indonesia mengikuti harga pasaran New York, juga kebijakan konversi gas elpiji 3 kilogram yang banyak memakan korban karena meledak di mana-mana, yang turut memopulerkan kembali “Kompor Meleduk” lagu almarhum Benyamin Sueb.


Mungkin pemimpin yang ideal bagi perbaikan negeri ini adalah pasangan Jokowi dan Dahlan Iskan sebagai pimpinan eksekutif (presiden dan wakil presiden). Untuk di yudikatif, Mahfud MD memimpin Mahkamah Agung, sedangkan Abraham Samad tetap di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Rasanya dengan komposisi seperti itu negeri ini bisa maju, rakyat bisa cepat sejahtera, pemerantasan korupsi, serta mafia hukum dan peradilan bisa diselesaikan dengan cepat, hukum bisa segera baik dan tegak.

Mengingat semenjak Orde Baru runtuh, lembaga yudikatif hampir tidak tersentuh oleh perubahan, selain dengan dibuatnya Mahkamah Konstitusi. Secara kelembagaan, lembaga penegak hukum ini hampir tidak tersentuh gelombang reformasi, dan orang yang mengerti hukum serta mampu memperbaiki ini sepertinya Mahfud MD.

Tapi sulit rasanya mengharapkan hal ini bisa terjadi (baca Tokoh-Tokoh Tersandera Partai), kita tahu Dahlan Iskan adalah kader Partai Demokrat yang secara partai tidak cocok dengan PDI Perjuangan. Mahfud MD pun sempat tersandung karena berada di bawah panji-panji Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sepertinya dijadikan alat tawar-menawar untuk koalisi, meski belakangan PKB melunak dan mau berkoalisi tanpa syarat setelah masuknya nama Abraham Samad sebagai salah satu kandidat cawapres (calon wakil presiden) dari Jokowi selain Jusuf Kalla.

Sebagaimana Partai Golkar yang sejak Orde Baru berkuasa selalu ingin berada di dalam pemerintahan, Jusuf Kalla pun terlihat berambisi untuk bisa masuk kembali ke pemerintahan. Meski telah pernah ikut bertarung menjadi calon presiden di tahun 2009 dan kalah, untuk kembali ke pemerintahan, kali ini ia menurunkan targetnya hanya sebagai wakil presiden.

Banyak pengamat politik termasuk Hanta Yudha menjagokan Jusuf Kalla lebih karena faktor pengalamannya saat menjadi wakil presiden. Namun tampaknya akan lebih baik bagi Indonesia bila pemerintahan ke depan bisa dipimpin oleh orang sipil yang masih muda dan punya rekam jejak yang baik.

Megawati Soekarnoputri sepertinya bisa dijadikan tokoh panutan yang baik, ketika dengan berani dan berbesar hati bersedia memercayakan dan memberikan kekuasaannya kepada orang yang jauh lebih muda darinya sehingga terbuka peluang bagi Jokowi untuk menjadi pucuk pimpinan di republik ini.

Bila demikian, siapa cawapres pendamping Jokowi?

Ya tinggal Mahfud MD atau Abraham Samad, meski untuk itu perlu dipikirkan siapa yang akan memperbaiki lembaga yudikatif atau siapa yang akan memimpin KPK nantinya, bila salah satu dari kedua orang ini terpilih sebagai pendamping Jokowi.

Kenapa harus takut punya pemimpin yang muda-muda?  Sukarno-Hatta pun dulu masih muda saat memerdekakan dan memimpin negeri ini.

Pemimpin muda harapan bangsa.


18 Mei 2014 | samidirijono | arsitek

Tidak ada komentar: