Sabtu, 13 Februari 2010

das Sein und das Sollen

Tanggal 12 Februari kemarin saya buat satu blog lagi. Ide awalnya sederhana, supaya orang asing juga bisa membaca tulisan-tulisan yang telah dimuat di balai jumpa, jadi dengan kata lain dibuat versi Inggrisnyalah.

Hanya saja untuk mengalihbahasakannya butuh waktu lagi, tetapi untung saja di zaman sekarang ini apa pun sudah jauh lebih mudah. Mesin-mesin penerjemah sudah banyak, baik yang berbayar mau pun yang gratisan, ini bisa menghemat waktu dan keduanya tidak kalah hebat, masing-masing punya kelebihan sendiri. Keputusan akhir yang diambil adalah menggunakan mesin terjemahan google--di sini lebih populer disebut paman google. Disebut paman mungkin karena mengambil ide dari negeri Paman Sam (Amerika), Paman Gober, Paman Donal, Paman Kikuk, atau Paman Doblang he.he.he...

Memang sempat timbul pertanyaan apa hasil terjemahannya cukup baik dan akurat? Tapi demi menghemat waktu maka pilihan itu terpaksa diambil dan lagi pula biasanya buku-buku terjemahan juga sepertinya sengaja dibuat tidak sebaik dan selengkap aslinya, seperti buku terbitan Jepang yang diterjemahkan ke bahasa Inggris pasti tidak selengkap aslinya, atau berbahasa Inggris diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga banyak bagian-bagian penting yang hilang, hanya tulisan berbahasa Indonesia saja yang biasanya lebih lengkap dan bagus dalam versi Inggrisnya.

Berbagai alasan yang membuat kenapa itu sepertinya harus terjadi dan oleh karena itu pulalah salah satu alasan kenapa blog baru itu pun dibuat cukup dengan bantuan Paman Google saja. Yang penting adalah kita sendiri bisa mengerti apa yang ingin disampaikan di balai jumpa.

Saat mencari judul untuk web log ternyata sulit juga karena banyak kata-kata yang diinginkan sudah digunakan orang lain. Langkah terakhir adalah membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Edisi Ketiga--kamus yang baru mahal banget jadi belum beli--dan ketemu kata das Sein dan das Sollen. Das Sein berarti keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang, sedangkan das Sollen berarti apa yang dicita-citakan; apa yang harus ada nanti, atau untuk singkatnya arti dari keduanya adalah "yang ada dan yang seharusnya". Keduanya diambil dari bahasa Jerman dan kedua kata ini sangat tepat karena memang untuk tujuan itulah balai jumpa mau pun das Sein und das Sollen dibuat.

| 13 Februari 2010 | samidirijono | arsitek |

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Mas sami, makasi ya artikelnya, aku jadi terinspirasi menerjemahkan tulisan dari bahasa ind ke ing dengan cepat dan tanpa pikiran hehehe, kebetulan ada tulisan yg hrs ku translate dengan cepat. wah menyenangkan banget, kerja jd cepat, tinggal edit-edit dikit beres dah. fitri

sami mengatakan...

sami-sami..., aku senang bila Uni Fitri bisa terinspirasi, boleh dong dibagi hasil inspirasi Uni :)

safitriahmadzen mengatakan...

bagi-bagi...hm...itu tulisan temanku ttg maulid nabi aku mah mindahin ke bhs ing doang, kalo mo liat apa yg ku punya main aja ke safitriahmadzein.blogspot, tapi belum ada isinya, hehehe...baru dikumpulin bahannya, ada foto dan tulisan jg, rencananya minggu ini dah tak upload, tunggu ya...ngomong2 mas sami rajin juga nulis di blog.

sami mengatakan...

Si Bung berpesan, "Buka mata, buka mata! Buka otak! Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari hal-hal ini semuanya, agar supaya saudara-saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air."

Jadi bukan rajin nulis, cuma jalankan pesan si Bung aja he.he.he..

Aku dah liat blogmu, penuh foto2, tinggal tambah tulisan dikit supaya ngerti ceritanya....