Senin, 06 Oktober 2014

Bahan Bakar Alternatif


Kenapa kita harus selalu dicekoki dengan kata-kata bahan bakar bersubsidi, tanpa kita pernah tahu pasti berapa harga minyak sesungguhnya yang dipasarkan di sini?

Berulang kali kita seperti mendapat “ancaman” dari pemerintah mengenai harga bahan bakar minyak dan gas dengan alasan langka atau besaran nilai subsidi yang memberatkan APBN. Meski kita tahu bahwa Amerika kini sudah mulai membuka tambang minyak di negaranya, yang menyebabkan harga minyak dunia cenderung terus merosot!

Mengingat kembali cerita orang-orang tua yang hidup di zaman pendudukan Jepang dahulu, yang kala itu makanan susah dan banyak orang kekurangan gizi, di sini tiba-tiba sangat banyak terdapat keong racun (bekicot) namun tidak termanfaatkan. Baru belakangan ini kita tahu bahwa keong racun bila diolah dengan baik dan benar ternyata merupakan makanan berprotein tinggi.

Bila eceng gondok (eichhornia crassipes) yang beberapa dekade lalu mungkin hanya ada di Rawa Pening di Jawa Tengah, kini tersebar di seluruh danau, waduk, dan sungai di penjuru negeri ini. Apakah ini pertanda dari Sang Kuasa bahwa kita harus pandai-pandai memanfaatkannya?



Seperti halnya keong racun di masa lalu, eceng gondok ini pun dianggap gulma. Tapi setelah diteliti ternyata bisa banyak manfaatnya, bisa untuk bahan kerajinan dan juga bisa dijadikan biogas. Sementara di Jakarta, biaya pembersihan eceng gondok yang mencapai 46 miliyar rupiah pun menjadi terbuang percuma, karena tidak termanfaatkan.

Sebetulnya banyak sudah temuan bahan-bahan alternatif yang bisa dibuat untuk menggantikan bahan bakar minyak yang ada saat ini. Sebut saja tenaga surya, lalu yang dari tanaman, ada eceng gondok (enceng gondok) untuk biogas, ada jarak pagar (jatropha curcas L., euphorbiaceae), nyamplung (calophyllum inophyllum), dan kemiri sunan (aleurites trisperma blanco) untuk biodisel (biodiesel) pengganti solar.


Terakhir kita baca di harian Kompas, Senin, 22 September 2014 ada bahan alternatif pengganti premium, yakni limbah sari gilingan jerami, bonggol jagung, atau rumput gajah yang dicampur dengan tetes tebu bisa menjadi premium 88 atau plus kapur barus menjadi premium 93, lebih baik dari premium dan pertamax yang dijual di pasaran saat ini. Penelitinya adalah Arif Wibowo, tinggal dikembangkan untuk diproduksi dalam jumlah besar guna menekan harga produksi.


Seperti layaknya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tampaknya memang negara kita harus pula menerapkan semboyan ini dalam semua hal, termasuk energi alternatif bagi negeri ini.

Semua itu bisa dimanfaatkan di tanah air kita ini untuk wilayah yang berbeda, jadi di wilayah satu dan lainnya tidak perlu harus menggunakan bahan baku yang sama. Dengan demikian bahan baku yang ada bisa termanfaatkan dengan baik.

Tidak perlu lagi membuang biaya percuma untuk pembersihan eceng gondok yang bisa mencapai milyaran rupiah karena tidak termanfaatkan. Juga tanpa perlu dibakar, ribuan ton limbah sampah gilingan jerami pun bisa dikurangi secara signifikan bila digunakan untuk bahan bakar alternatif.

Ini semua adalah bagian dari ekonomi kreatif yang harus bisa dikembangkan dan dicontohkan oleh pemerintah untuk kemakmuran rakyatnya. Alam kita sangat kaya, tinggal bagaimana memanfaatkannya dengan arif dan bijaksana.

Jangan sampai hasil penelitian putra-putri republik ini justru dikembangkan oleh negara lain, karena pemerintah kita sendiri lalai mengembangkannya.

Hasil penelitian itu untuk dikembangkan, bukan cuma disimpan sebagai arsip di gudang.

06 Oktober 2014 | samidirijono | arsitek |

Tidak ada komentar: