Selasa, 21 Januari 2014

Generasi Linglung


Membaca apa yang ditulis di blog Kinnari, "Selalu lebih gampang melihat kesalahan orang (dan mencela) ketimbang melihat kesalahan dan cela diri sendiri." dalam artikelnya yang berjudul "Bisakah Kau Lihat Tengkukmu Sendiri?" sungguh berkesan. Sebuah gugatan terhadap kenyataan hidup yang ada dan bisa jadi itu bukan pengalaman terakhir-nya.

Hal demikian menjadi sangat wajar di negeri kita saat ini, karena sedari kecil kan kita memang diajarkan seperti itu, sehingga generasi ini menjadi rancu akan hal-hal benar dan salah, baik dan buruk.

Tempat ibadah yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran pun (entah disadari atau tidak) mengajarkan pada hal-hal buruk seperti permusuhan dan menyalahkan pihak lain.

Contoh hal kecil lain, dalam hal berlalu-lintas misalnya. MELANGGAR ATURAN menjadi hal yang wajar bila kita sendiri yang melakukan, lihatlah berapa banyak motor, mobil yang melanggar rambu dilarang masuk (verboden). Di antara mereka atau "kita" itu banyak juga yang membawa anak-anaknya, yang tanpa disadari itu akan tertanam atau lebih tepatnya ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya, atau orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Bahwa bila kita yang melanggar, maka dengan seribu satu alasan hal itu harus dimaklumi, sehingga ini menimbulkan konflik di bawah sadarnya.

Secara psikologis hal itu berdampak buruk bagi perkembangan jiwa manusia, sebagaimana diutarakan oleh Sigmund Freud (1856-1939), bapak psikoanalisis di abad kedua puluh, bahwa konflik psikologis bawah sadar mengontrol perilaku manusia. Dia percaya bahwa kejadian asli telah dilupakan dan disembunyikan dari kesadaran. Menurutnya pengobatan bisa dilakukan dengan memberdayakan pasien untuk mengingat pengalaman (bawah sadarnya) dan membawanya ke kesadaran, dan dengan berbuat demikian, bisa menghadapinya baik secara intelektual dan emosional.

Jadi tidak heran bila perilaku korupsi yang terjadi dewasa ini begitu sulitnya dibasmi, meski sudah beberapa koruptor dipenjarakan tapi tidak juga menyurutkan hasrat orang melakukan korupsi. Dan bagi terdakwa atau pun terpidana pun tetap terlihat senang seperti tanpa ada rasa sesal atas perbuatannya.

Menyembuhkan gangguan jiwa mengembalikan kepribadian bangsa.

21 Januari 2014 | samidirijono | arsitek |