Kamis, 20 Januari 2011

Merombak Ekonomi, Hukum, dan Pendidikan

Ekonomi (baca: materi) sebagai panglima yang dibangun rezim Suharto telah mencapai kejayaannya.

Pemujaan pada materi (uang) disadari atau tidak, kini telah merasuk ke sumsum tulang, apalagi ketika kondisi negeri dibiarkan dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.

Mata uang dolar sebagai rujukan yang dibiarkan tetap tinggi sudah menandakan kita siap menjual semua kekayaan negeri ini kepada orang asing dengan harga murah. Kenapa penguatan rupiah selalu dianggap membahayakan stabilitas ekonomi?

Pertanyaan yang sederhana ini mungkin bisa membuka mata kita, "Untuk apa seorang presiden sampai menyimpan hingga ratusan ribu dolar?"

Boleh disimpulkan bahwa memang tidak ada keinginan untuk menguatkan rupiah. Kapital telah menguasai negeri ini. Ibu pertiwi pun berlinang air mata. Prediksi Sukarno akan ada neokolonialisme dan imperialisme modern kini telah terjadi dan bangsa ini pun kembali menjadi bangsa kuli.

Hukum di negeri ini pun sudah porak-poranda. Semua bisa diatur oleh uang. Uang bisa menciptakan kekuasaan dan kekuasaan bisa dengan mudah mengatur hukum.

Biaya pendidikan yang semakin menjulang tinggi membuat rakyat tak bisa sekolah, di lain pihak kualitas pendididikan pun cendrung menurun. Rakyat pun menjadi bodoh sehingga mudah diadu-domba, dibohongi, dan dibodohi. Menjadi minder dan takut mengambil sikap, apalagi terhadap orang asing. Bangsa ini pun kembali menjadi bangsa kuli. Kuli di negeri sendiri!

Karena itu pendidikan harus diutamakan, akhlak serta budi pekerti harus ditanamkan dan dicontohkan sebagai teladan, sebagaimana nenek moyang yang lebih mengedepankan gotong royong dibandingkan materi. Agar harkat dan harga diri sebagai bangsa tumbuh bersemi.

Menempatkan orang-orang muda yang jujur, bersih, dan berani sebagai pemimpin di bidang hukum. Menempatkan generasi muda--yang relatif bersih--yang berani memimpin penegakan hukum, supaya berani memutus rantai mafia hukum dan peradilan. Bila perlu di seluruh bidang hukum untuk jangka minimal satu dekade, usia pensiun diturunkan menjadi 50 tahun.

Perekonomian harus disusun ulang sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh negara dan harus dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Saat mulai memutar haluan negara ke arah cita-cita kemerdekaan harus diwujudkan. Mari menuju masyarakat adil makmur.

18 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Selasa, 18 Januari 2011

Pelajaran untuk Rakyat

Sedih rasa melihat kondisi negara yang tak kunjung membaik. Bahkan kecenderungan dekadensi moral semakin meninggi khususnya di kalangan pejabat dan aparat pemerintah, serta mereka yang mempunyai hubungan dengannya.

Hal ini terjadi mulai dari tingkat yang tertinggi hingga yang terendah. Apakah ini berarti bahwa pimpinan sebagai panutan telah diteladani (diterapkan) dengan baik?

Pencitraan diri dengan kebohongan sudah semakin telanjang. Janji-janji pun tinggallah janji.

Jangan berjanji bila tak sanggup menepatinya. Janji itu terikat waktu. Janji yang tak bisa ditepati akan menjadi utang yang tak akan bisa terbayar.

Sangat tidak berlebihan jika para pemuka agama pun berkumpul dan bersuara mengingatkan kita semua akan kondisi yang ada. Hal ini bisa terjadi karena rakyat dibiarkan terus bodoh dengan kualitas pendidikan yang buruk.

Kekurangcermatan dalam membaca peristiwa terhadap seseorang yang telah dipecat (baca: tidak dipakai) oleh dua presiden malah dipilih untuk dijadikan presiden, tampak sebagai sesuatu pelajaran untuk kita lebih berhati-hati saat memilih pimpinan. Jadikan pengalaman pahit ini sebagai pelajaran bila hendak menentukan sesuatu.

Perubahan! Itulah yang kita butuhkan sekarang.

Bila yang tua sudah tak bisa lagi diharapkan maka sudah tiba masa bagi yang muda untuk memimpin negeri ini.

18 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 09 Januari 2011

Ternyata

Beberapa waktu lalu, masuk surat elektronik di kotak pesan. Sering juga mendapat surel sarat pesan seperti ini yang tak juga kita tahu dari siapa bermula.

Tapi kali ini isinya cukup menyentuh serta menggugah perasan dan kesombongan kita. Ada beberapa hal yang sering terdengar dan ada pula hal baru yang mengusik hati.

SAYA PIKIR...
  • Saya pikir, hidup itu harus banyak meminta ~ ternyata....harus banyak memberi.
  • Saya pikir, sayalah orang yang paling hebat ~ ternyata....ada langit di atas langit.
  • Saya pikir, kegagalan itu final ~ ternyata....hanya sukses yang tertunda.
  • Saya pikir, sukses itu harus kerja keras ~ ternyata....kerja pintar.
  • Saya pikir, kunci Surga ada di langit ~ ternyata....ada di hatiku.
  • Saya pikir, makhluk yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling pintar, atau yang paling kuat ~ ternyata....yang paling cepat merespon perubahan.
  • Saya pikir, keberhasilan itu karena keturunan ~ ternyata....karena ketekunan.
  • Saya pikir, kecantikan luar yang paling menarik ~ ternyata....inner beauty yang lebih menawan.
  • Saya pikir, kebahagiaan itu ketika menengok ke atas ~ ternyata....ketika melihat ke bawah.
  • Saya pikir, usia manusia itu diukur dari bulan dan tahun ~ ternyata....dihitung dari apa yang telah dilakukannya terhadap orang lain.
  • Saya pikir, yang paling berharga itu uang dan emas permata ~ ternyata....yang paling mahal itu KESEHATAN dan NAMA BAIK.

Tentu kita masing-masing punya pengalaman yang tak sama, dan itulah akhirnya yang membentuk diri. Coba simak dan maknai apa yang diungkap di sana.

Cita-cita adil makmur rasanya mudah tercapai bila anak bangsa bisa berpandangan begitu.

09 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |

Minggu, 02 Januari 2011

Selamat Tahun Baru

Malam tahun baru telah kita lewati. Kehidupan mulai bergerak lambat bersiap untuk kembali menjalani rutinitasnya.

Kemeriahan Jakarta di malam menjelang tahun baru kemarin tidak seperti biasa. Meski orang tetap ramai berbondong-bondong menuju titik-titik keramaian, seperti di tugu Selamat Datang di bunderan Hotel Indonesia, Ancol, Kemayoran, dan Monas.

Bukan hanya penduduk Jakarta yang merayakan malam pergantian tahun di ibu kota ini. Mereka yang tinggal di kota-kota sekitar Jakarta pun turut hadir memeriahkan malam tutup tahun di kota ini. Bahkan salah seorang di antara kami, Fatima, dari Banjarmasin pun kali ini khusus datang untuk menikmati malam tahun baru di ibu kota.

Di jalan-jalan, suara terompet tidak lagi segemuruh tahun-tahun sebelumnya. Apakah ini pertanda bahwa tingkat kesulitan hidup di negeri ini semakin tinggi?

Yang bertambah semarak hanyalah kemeriahan kembang api di pusat-pusat keramaian mau pun di permukiman penduduk yang mewarnai berbagai penjuru kota.


Selepas perayaan malam pergantian tahun, pasukan kebersihan kota berseragam putih sibuk bekerja membersihkan tempat dan jalanan ibu kota yang dipenuhi sampah. Baik sampah sisa kembang api mau pun sisa makanan atau minuman yang dibuang sembarangan.

Kita memang masih harus belajar banyak tentang kebersihan.

Bila di rumah kita bisa membuang sampah di tempat sampah, sudah sewajarnya bila di jalan mau pun di tempat umum kita juga bisa melakukan hal itu.

Bukankah dalam arti luas, kota adalah rumah yang kita huni bersama? Dan untuk cakupan yang lebih luas lagi, tentunya negara ini pun adalah rumah kita bersama.

Pemerintah juga punya kewajiban menyediakan tempat sampah di berbagai penjuru kota. Dan secara rutin mengangkut sampah yang terkumpul ke tempat pembuangan akhir, untuk dipilah dan diolah sehingga menjadi lebih berguna.

Mari jaga kebersihan negara, karena negara inikan rumah kita juga.

Amalkan pepatah lama yang menyatakan...

"Bersih pangkal sehat,
rajin pangkal pandai, dan hemat pangkal kaya".

02 Januari 2011 | samidirijono | arsitek |